Eldrem Kingdoms: RPG Indie Karya Mantan Pengembang Ubisoft Lolos Pendanaan Kickstarter
Baca dalam 60 detik
- Eldrem Studios berhasil mengumpulkan dana hampir tiga kali lipat dari target awal sebesar US$24.000 melalui platform Kickstarter.
- Game ini menggabungkan mekanisme penangkaran monster ala Pokémon dengan pertarungan bergaya Souls-like dan eksplorasi dunia terbuka.
- Tim pengembang yang berpengalaman di industri AAA memilih jalur Early Access untuk mempercepat penyempurnaan produk melalui umpan balik pemain.

Proyek game indie berjudul Eldrem Kingdoms mencuri perhatian setelah kampanye penggalangan dana di Kickstarter berakhir dengan capaian jauh melampaui ekspektasi. Dari target awal sebesar US$24.000, studio pengembang Eldrem Studios berhasil mengantongi dana hampir tiga kali lipat dari angka tersebut, dengan dukungan nyaris 300 penyandang dana. Pencapaian ini menjadi sinyal bahwa pasar game bergenre creature-collector masih menyimpan magnet besar, bahkan di tengah banjir rilis judul besar.
Keberhasilan pendanaan itu bukan tanpa alasan. Di balik layar, Eldrem Studios diperkuat sejumlah pengembang yang pernah malang melintang di studio raksasa seperti Ubisoft. Mereka membawa pengalaman menggarap waralaba sekelas Assassin's Creed, namun memilih keluar dari zona nyaman korporat untuk membangun sesuatu yang lebih lincah dan eksperimental. Menurut Dragos Inoan, Game Designer Eldrem Kingdoms, kombinasi latar belakang indie dan AAA itulah yang menjadi fondasi proyek ini.
"Tim kami terdiri dari orang-orang dengan pengalaman di tim kecil dan besar. Tim besar memungkinkan spesialisasi mendalam, tetapi birokrasinya lambat saat harus berbelok arah. Tim kecil menuntut kami melihat gambaran utuh dan bergerak cepat," ujar Inoan, seperti dikutip dari wawancara dengan CGM. Ia menambahkan bahwa fleksibilitas ini membuat pengembangan Eldrem Kingdoms terasa jauh lebih produktif dibandingkan ritme kerja di studio besar.
Secara gameplay, Eldrem Kingdoms menawarkan dua lingkar utama yang saling terkait. Pertama, lingkar pertarungan dan progresi: pemain menghadapi musuh, meningkatkan level, lalu membuka area yang lebih menantang. Kedua, lingkar penangkaran makhluk: pemain berburu, menjinakkan, melatih, dan bahkan mengembangbiakkan satwa fantastis untuk memperoleh sifat-sifat eksotis. Seluruh aktivitas itu—dari misi, eksplorasi, hingga pengembangan pasukan—dirangkai agar saling menguatkan.
Pendekatan tempur pun dirancang lentur. Pemain bisa memilih gaya bertarung jarak dekat dengan senjata melee sebagai aktor utama, atau mengandalkan sihir dan makhluk sebagai tameng sambil menyerang dari kejauhan. Menariknya, mereka yang berani mengambil risiko bertarung jarak dekat akan mendapat progresi lebih cepat. Sistem ini mengingatkan pada perpaduan Souls-like dan Pokémon, dengan sentuhan dunia terbuka yang terinspirasi dari Elden Ring dan World of Warcraft.
"Early Access adalah alat yang jujur. Pengembang mendapat umpan balik, pemain melihat progres apa adanya, dan dana tambahan menjadi bahan bakar pengembangan. Ini menguntungkan semua pihak," ujar Inoan.
Strategi Early Access memang kian lazim di kalangan pengembang independen, terutama untuk genre yang mengandalkan komunitas. Bagi Eldrem Studios, jalur ini dipilih bukan semata soal pendanaan, melainkan untuk membangun hubungan transparan dengan pemain sejak dini. Saat ini, tim sedang mengejar tahap pre-alpha yang dapat dimainkan, dengan fokus pada penyelesaian infrastruktur server dan pengembangan inti. Early Access sendiri masih berada di depan, tetapi mereka berharap dapat menyajikan sesuatu yang diterima baik oleh komunitas.
Dari sisi kreatif, Eldrem Kingdoms memadukan berbagai sumber inspirasi. Founder John Ispas disebut sebagai penggemar berat novel Eragon karya Christopher Paolini, yang kemudian bertemu dengan kecintaan tim pada Lord of the Rings, The Hobbit, serta game seperti Elden Ring dan Pokémon. Untuk sistem pertarungan, tim bahkan merujuk pada buku-buku seni bela diri Eropa historis guna membangun gaya dan stance yang otentik. Ada pula sistem progresi baru yang belum diungkap ke publik, yang diharapkan menjadi pembeda.
Di tengah pasar game global yang kian padat, kisah Eldrem Studios mencerminkan pergeseran menarik: pengembang berpengalaman dari studio besar memilih jalur mandiri untuk mengejar visi yang lebih personal. Bagi industri game Indonesia, fenomena ini bisa menjadi cermin. Dengan ekosistem indie yang tumbuh, akses ke platform global seperti Steam dan Epic Games Store, serta komunitas yang solid, peluang serupa terbuka lebar. Tantangannya bukan hanya soal pendanaan, tetapi juga konsistensi membangun komunitas dan keberanian mengambil risiko kreatif.
Ke depan, pertanyaannya sederhana: akankah Eldrem Kingdoms mampu memenuhi ekspektasi para pendukungnya, atau justru tersandung oleh besarnya ambisi? Yang jelas, langkah mereka telah membuktikan bahwa game indie dengan visi kuat masih bisa menembus kebisingan industri.



