US Open 2025: Alcaraz dan Sabalenka Siap Pertahankan Gelar, Djokovic Buru Sejarah
Baca dalam 60 detik
- Grand Slam terakhir tahun ini berlangsung 30 Agustusโ13 September di New York, dengan babak kualifikasi ganda campuran yang kembali digelar.
- Sinner dan Alcaraz datang tanpa persiapan turnamen Masters, sebuah anomali yang belum pernah terjadi sejak 1990.
- Raducanu dipastikan absen, sementara peluang Djokovic untuk menyamai rekor 5 gelar terbuka lebar.

Flushing Meadows kembali menjadi pusat perhatian dunia tenis. Grand Slam penutup musim ini, US Open 2025, akan berlangsung mulai 30 Agustus hingga 13 September, mempertemukan para petenis papan atas dalam perebutan gelar bergengsi. Carlos Alcaraz dan Aryna Sabalenka, sang juara bertahan, siap mempertahankan mahkota mereka di hadapan publik New York.
Turnamen tahun ini menghadirkan sejumlah kejutan. Untuk pertama kalinya, babak kualifikasi akan diramaikan oleh turnamen ganda campuran yang melibatkan nama-nama besar seperti Novak Djokovic dan Sabalenka. Keputusan ini diambil untuk menambah daya tarik pekan pertama, sekaligus memberi kesempatan bagi spesialis ganda untuk bersaing dengan pemain tunggal top. Bagi penggemar tenis Indonesia, momen ini layak dinantikan karena menyajikan persaingan yang lebih variatif.
Dari kubu Inggris, kabar duka datang dari Emma Raducanu. Petenis putri nomor satu Inggris itu dipastikan absen akibat stres fraktur di kaki kanannya, cedera yang juga memaksanya mundur dari Wimbledon. Ini menjadi pukulan berat bagi Raducanu yang sepanjang 12 bulan terakhir terus diganggu masalah fisik. Sementara itu, Jack Draper, semifinalis 2024, juga harus merelakan kesempatan tampil di turnamen utama setelah peringkatnya jatuh di luar 128 besar dunia akibat cedera tulang yang kambuh.
Namun, ada kabar baik dari Arthur Fery. Petenis muda Inggris yang mengejutkan dunia dengan melaju ke semifinal Wimbledon tahun lalu sebagai wild card, akan menjalani debutnya di US Open. Peringkatnya yang meroket membuatnya layak tampil di turnamen utama. Kehadiran Fery menambah daftar pemain muda berbakat yang siap memberikan kejutan di New York.
Di sisi lain, persaingan di puncak klasemen semakin memanas. Jannik Sinner, yang baru saja merebut gelar Wimbledon kelimanya, akan mencoba merebut kembali gelar US Open yang direbut Alcaraz tahun lalu. Namun, baik Sinner maupun Alcaraz memutuskan untuk tidak tampil di turnamen pemanasan Kanada dan Cincinnati. Keputusan ini berisiko, mengingat sejak format Masters dimulai pada 1990, belum ada petenis yang mampu menjuarai US Open tanpa bermain di salah satu turnamen tersebut. Apakah mereka akan mematahkan kutukan itu?
Bagi pecinta tenis di Indonesia, US Open selalu memiliki daya tarik tersendiri. Selain menyuguhkan aksi-aksi spektakuler, turnamen ini juga menjadi barometer perkembangan tenis dunia. Kehadiran pemain-pemain muda seperti Fery dan Alcaraz menunjukkan bahwa regenerasi di dunia tenis berjalan cepat. Hal ini bisa menjadi inspirasi bagi petenis-petenis muda Indonesia yang bercita-cita menembus panggung internasional.
Pertanyaan besarnya, akankah Sabalenka mampu menjadi wanita pertama sejak Serena Williams yang meraih tiga gelar beruntun di US Open? Atau justru Sinner yang akan kembali ke puncak? Satu hal yang pasti, dua minggu ke depan akan menjadi panggung drama, kejutan, dan sejarah baru di Flushing Meadows.


