Hanoi Jazztival: Ambisi Baru Ibu Kota Vietnam Menuju Panggung Musik Global
Baca dalam 60 detik
- Festival jazz perdana Hanoi, bertajuk 'Borderless Melody', akan digelar 17-19 September di berbagai ruang budaya ibu kota Vietnam.
- Acara ini merupakan bagian dari strategi Hanoi sebagai Kota Kreatif UNESCO, sekaligus uji coba bagi rangkaian festival seni internasional lainnya.
- Kehadiran Hanoi Jazztival berpotensi menginspirasi kota-kota di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dalam mengembangkan industri budaya berbasis musik.

Hanoi, ibu kota Vietnam, bersiap menggelar festival jazz internasional perdana yang diberi nama Hanoi Jazztival pada 17 hingga 19 September mendatang. Acara bertema "Hanoi Jazz โ Borderless Melody" ini dirancang untuk memperkuat posisi kota berusia seribu tahun itu sebagai destinasi musik kelas dunia, sekaligus membuka pintu bagi kolaborasi budaya lintas negara.
Festival yang berlangsung di sejumlah ruang budaya ikonik ini bukan sekadar perhelatan musik biasa. Ia merupakan bagian dari implementasi Resolusi 80-NQ/TW Politbiro Vietnam tentang pengembangan industri budaya, sekaligus langkah konkret Hanoi dalam memenuhi komitmennya sebagai anggota Jaringan Kota Kreatif UNESCO. Dengan demikian, Hanoi Jazztival menjadi proyek percontohan yang akan menentukan arah kebijakan budaya kota ke depan.
Wakil Direktur Dinas Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Hanoi, Le Thi Anh Mai, dalam konferensi pers 12 Agustus lalu menegaskan bahwa Hanoi tengah bertransformasi menjadi pusat kreativitas global. "Kami berharap Hanoi Jazztival menjadi agenda tahunan dan merek budaya khas Hanoi yang mampu bergema di kawasan serta mencapai level internasional," ujarnya. Ia menambahkan, festival ini menjadi titik awal bagi serangkaian acara seni internasional lain, seperti Thang Long-Hanoi Festival, Festival Budaya Dunia, Festival Teater Hanoi, dan Festival Film Internasional Hanoi.
Kurasi acara melibatkan nama-nama besar, baik lokal maupun mancanegara. Gitaris jazz asal Prancis Nguyen Le, grup elektro-jazz Sauteed Grabba, David Carlos Valdez and Friends dari Amerika Serikat, JSFA Band dari Korea Selatan, serta Senri dari Jepang telah mengonfirmasi kehadiran mereka. Dari dalam negeri, tampil nama-nama seperti Quyen Van Minh, Tran Manh Tuan, dan Quyen Thien Dac. Direktur umum dan musik festival, Duong Cam, menyatakan bahwa acara ini dirancang untuk berdialog dengan ruang budaya tradisional. "Kami ingin menciptakan program jazz kontemporer yang berdialog dengan ruang seni dan budaya tradisional. Ini bukan sekadar rangkaian musik; ini tentang membangun atmosfer yang hidup dan memberikan nilai budaya serta spiritual bagi komunitas," jelasnya.
Rangkaian acara dimulai 17 September dengan pameran Jazz & Street di Teater Thang Long, pameran Women in Jazz di Museum Perempuan, dan upacara pembukaan bertajuk Sounds of Hanoi Jazz di taman Gedung Opera Hanoi. Keesokan harinya, digelar seminar internasional Hanoi and Jazz, lokakarya Jazz Language in Traditional Music, serta konser Borderless Jazz di Gedung Opera dan Night Jam Jazz di sejumlah klub jazz. Puncaknya, 19 September, diadakan Street Jazz di kawasan pejalan kaki Danau Hoan Kiem dan Jazz and Heritage di Pusat Seni dan Budaya 22 Hang Buom, ditutup dengan malam gala di Octagon House.
Bagi Indonesia, langkah Hanoi ini menjadi cermin bagaimana sebuah kota dapat memanfaatkan warisan budaya untuk membangun identitas global. Jakarta, Bandung, atau Yogyakarta yang memiliki ekosistem jazz dan musik tradisional yang kaya, bisa mencontoh pendekatan kurasi yang menyeimbangkan unsur internasional dengan akar lokal. Namun, keberhasilan Hanoi Jazztival tidak hanya diukur dari jumlah penonton, melainkan juga dari dampak jangka panjangnya terhadap ekonomi kreatif dan pariwisata. Apakah festival ini akan menjadi katalis bagi lahirnya festival serupa di kawasan Asia Tenggara? Jawabannya mungkin akan terlihat dari bagaimana Hanoi mengelola warisan budaya dan inovasi di tahun-tahun mendatang.



