Qixi: Lebih dari Sekadar Hari Kasih Sayang, Ini Warisan Budaya yang Hidup
Baca dalam 60 detik
- Perayaan Qixi di Tiongkok dan Asia Tenggara menonjolkan tradisi 'qiqiao' yang menekankan keterampilan perempuan, bukan sekadar romantisme.
- Di Singapura, inisiatif Qixi Fest berupaya menghidupkan kembali ingatan kolektif generasi muda akan festival yang mulai memudar.
- Fenomena ini mengingatkan Indonesia akan pentingnya revitalisasi tradisi serupa di tengah gempuran budaya populer global.

Di tengah hiruk-pikuk modernitas yang sering mereduksi perayaan menjadi sekadar momen tukar kado, Festival Qixi yang jatuh pada hari ketujuh bulan ketujuh penanggalan Tionghoa justru menawarkan narasi berbeda. Perayaan yang tahun ini berlangsung pada 19 Agustus itu bukan melulu soal bunga dan cokelat, melainkan sebuah warisan budaya yang mengakar pada legenda, doa, dan praktik keterampilan yang masih dilestarikan hingga kini.
Di Beijing, Museum Adat Rakyat menjadi salah satu garda terdepan dalam menjaga esensi Qixi. Melalui program bertajuk "Memohon Keterampilan", museum yang berlokasi di Kuil Taoisme Dongyue ini mengajak pengunjung, terutama generasi muda, untuk memahami makna festival melalui pengalaman interaktif. Jia Juan, staf Departemen Pendidikan Publik museum, menegaskan harapannya agar kaum muda dapat menangkap esensi tradisi melalui keterlibatan langsung, bukan sekadar teori. Selama 14 tahun terakhir, museum ini rutin menggelar kegiatan Qixi yang menarik sekitar 500 pengunjung setiap kali acara.
Beragam aktivitas digelar, mulai dari pertunjukan musik klasik Tiongkok hingga lokakarya yang terinspirasi adat istiadat Qixi. Salah satu yang menarik perhatian adalah praktik mewarnai kuku dengan getah tanaman balsam, sebuah pigmen alami yang secara tradisional dikaitkan dengan kecantikan dan berkah. Ada pula kegiatan melukis manik-manik pada kain sutra Song, yang memadukan kain sutra berharga dengan mutiara sebagai simbol kesempurnaan dan keberuntungan. Para peserta diajak menciptakan lukisan manik-manik berbentuk kantong wewangian, yang merepresentasikan konsep "qiqiao"—pengejaran akan keterampilan dan ketangkasan.
Wang Xuejie, seorang ibu yang hadir bersama putrinya yang berusia tujuh tahun, mengaku mendapatkan pemahaman baru tentang bagaimana perempuan pada zaman dahulu mengekspresikan aspirasi dan harapan mereka melalui praktik-praktik seperti membuat kue "qiaoguo" dari adonan yang ditekan ke dalam cetakan dekoratif. Menurut Jia Juan, praktik qiqiao oleh perempuan Tiongkok sudah dimulai sejak Dinasti Tang dan Song, sekitar abad ketujuh hingga ketiga belas. Ia juga menambahkan bahwa sejarah Qixi dapat ditelusuri kembali ke penghormatan dan studi masyarakat kuno terhadap bintang-bintang.
Legenda di balik Qixi berkisah tentang Zhinü, seorang gadis penenun yang diwakili oleh bintang Vega, yang jatuh cinta dengan Niulang, seorang penggembala sapi yang diwakili oleh bintang Altair. Cinta mereka yang terlarang menyebabkan Kaisar Giok memisahkan mereka di seberang Bima Sakti, dan mereka hanya diizinkan bertemu setahun sekali pada hari ketujuh bulan ketujuh melalui jembatan yang dibentuk oleh burung gagak. Jia Juan mencatat bahwa catatan tentang legenda ini sudah ada sejak periode pra-Qin, sebelum 221 SM, sementara adat istiadat qiqiao mulai berkembang pada Dinasti Han.
Fenomena serupa juga terjadi di Singapura, di mana peneliti Lynn Wong berupaya menghidupkan kembali Qixi melalui Qixi Fest, sebuah acara multi-hari yang pertama kali digelar pada 2023. Wong mengaku terinspirasi untuk memulai inisiatif ini setelah menyadari bahwa banyak generasi muda Singapura, termasuk dirinya, tidak pernah mendengar tentang Qixi. Ia kemudian mewawancarai para tetua untuk mendokumentasikan kenangan mereka tentang festival tersebut, yang hasilnya dibukukan. Qixi sendiri diperkirakan masuk ke Singapura pada tahun 1930-an, dibawa oleh para migran perempuan dari Guangdong, Tiongkok. Namun, seiring waktu, banyak adat istiadat yang mulai memudar.
Wong menyesalkan hilangnya akar budaya di generasinya. "Saya tumbuh dengan cerita-cerita seperti Tooth Fairy, Hansel and Gretel, dan Three Little Pigs, tetapi bagaimana dengan cerita-cerita yang didengar oleh nenek moyang kita?" ujarnya. Di tengah upaya revitalisasi tersebut, masih ada segelintir orang yang mempertahankan tradisi Qixi secara turun-temurun, seperti Hor Xin Hao, seorang warga Singapura keturunan Kanton. Keluarganya secara rutin menggelar doa pada malam hari menjelang Qixi, dengan menyiapkan meja sembahyang menghadap langit dan memberikan sesajen berupa dupa, bunga, parfum, kosmetik, dan sabun kepada Tujuh Bidadari. Hor menilai bahwa penyebutan Qixi sebagai "Valentine versi Tiongkok" justru mereduksi makna asli festival tersebut. Baginya, Qixi adalah perayaan nilai-nilai tradisional dan warisan leluhur yang mencerminkan cara pandang manusia terhadap kehidupan dan interaksinya dengan alam semesta.
Bagi Indonesia, fenomena Qixi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga dan merevitalisasi tradisi lokal di tengah arus globalisasi. Berbagai perayaan adat di Nusantara, seperti Seren Taun di Jawa Barat atau Kasada di Bromo, memiliki kekayaan makna yang serupa dengan Qixi. Pertanyaannya, mampukah kita melakukan hal yang sama seperti Lynn Wong—menggali, mendokumentasikan, dan menghidupkan kembali warisan budaya sebelum benar-benar punah? Atau akankah generasi mendatang hanya mengenal tradisi leluhurnya dari buku sejarah?



