Aroma Cengkih Sabang Memudar: Petani Terjepit Perubahan Iklim dan Hama
Baca dalam 60 detik
- Produksi cengkih di Kota Sabang anjlok hingga 56% pada musim panen tahun ini, dengan banyak pohon gagal berbunga dan mati.
- Perubahan iklim memperparah siklus panen yang kian tidak menentu, memaksa petani mengandalkan pupuk dan perawatan ekstra.
- Para ahli menyarankan adaptasi jangka panjang melalui manajemen kebun dan diversifikasi tanaman, bukan sekadar menambah input kimia.

Musim panen cengkih tahun ini menjadi mimpi buruk bagi petani di Kota Sabang, Aceh. Ribuan pohon yang biasanya menghijau kini meranggas, menyisakan batang kering yang tak kunjung berbunga. Di tengah gempuran perubahan iklim dan serangan hama, komoditas yang pernah menjadi kebanggaan Pulau Weh ini kini kehilangan pamornya, mengancam mata pencaharian ratusan keluarga yang menggantungkan hidup dari rempah tersebut.
Sayuti, seorang petani di Desa Paya Seunara, menuturkan bahwa dari 520 pohon cengkih yang ia rawat di lahan seluas empat hektar, hanya 40 pohon yang menghasilkan bunga tahun ini. Kondisi serupa dialami Hendra di Desa Balohan; dari 35 batang, sepuluh di antaranya mati, dan produksi per batang turun drastis dari tujuh kilogram menjadi hanya dua kilogram. โKalau hasilnya begini, anggap saja gagal panen karena tidak dapat untung,โ ujarnya. Fenomena ini bukan hanya milik segelintir petani; Munar, pengepul terbesar di Sabang, hanya menerima 110 ton cengkih, jauh di bawah normal 250 ton per musim.
Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang mencatat peningkatan jumlah tanaman rusak hingga 519 pohon pada 2025. Yang lebih mengkhawatirkan, siklus panen yang dulunya teratur setiap tahun kini berubah menjadi pola panen besar dan kecil yang bergantian antar kecamatan. Marizal, Plt. Kabid Perkebunan, menjelaskan bahwa sejak awal 2000-an, masa panen cengkih di Sabang tidak lagi merata; jika tahun ini melimpah di Sukakarya, tahun depan bisa bergeser ke Sukajaya. Petani yang awam terhadap isu iklim menganggap ini hal biasa, padahal menurut Marizal, โsudah terganggu oleh perubahan iklim.โ
Data iklim dari Stasiun Meteorologi Maimun Saleh memperkuat kekhawatiran itu. Sepanjang 1981โ2025, curah hujan tahunan di Sabang menurun dengan laju 15 mm per tahun, sementara suhu rata-rata harian naik 0,012ยฐC per tahun. BMKG Aceh mencatat variabilitas iklim yang tinggi, dengan awal kemarau yang semakin cepat dan fenomena El Nino yang memangkas curah hujan hingga 30%. Proyeksi hingga 2071โ2100 bahkan menunjukkan penurunan curah hujan 5% dan kenaikan suhu 1,6ยฐC. Kondisi ini membuat tanaman cengkih, yang membutuhkan curah hujan 1.500โ3.500 mm per tahun dan fase kering 2โ3 bulan untuk berbunga, semakin sulit berproduksi.
Selain iklim, serangan hama penggerek batang dan jamur akar putih (Rigidoporus sp.) turut memperparah gagal panen. Pada 2023โ2024, wabah hama ini sempat melanda Kecamatan Sukajaya dan baru teridentifikasi setelah penelitian Balai Besar Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan. Meski kini serangan sudah mereda, dampaknya masih terasa. Marizal menekankan bahwa kekeringan bukan satu-satunya biang keladi; tanaman yang sudah terinfeksi hama menjadi lebih rentan saat musim kemarau.
Menghadapi situasi ini, para ahli mendorong petani untuk tidak hanya mengandalkan pupuk. Ireng Darwati, peneliti utama BRIN, menegaskan bahwa strategi adaptasi harus berfokus pada manajemen kebun yang lebih baik, seperti penggunaan bibit unggul, pemupukan berimbang, sanitasi, dan pengendalian hama terpadu. Ia juga menyarankan penanaman tanaman sela seperti pisang untuk menjaga kelembapan tanah dan menahan erosi. โDulu cengkih bisa terlihat mandiri, sekarang sistem produksinya menuntut pengembalian hara yang lebih aktif,โ katanya.
Bagi petani seperti Mariani yang telah 40 tahun menggarap cengkih, perubahan ini terasa pahit. Tahun ini, ia hanya memanen 10 kilogram dari kebun seluas satu hektar yang biasanya menghasilkan satu ton. โPohonnya sehat, tapi tidak berbunga,โ keluhnya. Pertanyaannya, akankah adaptasi yang disarankan cukup untuk menyelamatkan masa depan cengkih Sabang di tengah laju perubahan iklim yang semakin cepat? Ataukah sudah saatnya petani beralih ke komoditas lain yang lebih tahan banting?



