Pilot Flydubai Dibacok di Kokpit, Buka Pintu demi Selamatkan 174 Penumpang
Baca dalam 60 detik
- Kapten Smit Machchhar ditikam rekan pilotnya saat penerbangan Dubai–Tel Aviv, lalu membuka pintu kokpit meski berlumuran darah sehingga penumpang bisa menaklukkan penyerang.
- Pesawat sempat jatuh hampir 14.000 kaki dalam waktu kurang dari 30 detik dan kehilangan sebagian besar kemudi belakang, namun berhasil mendarat darurat di Tabuk, Arab Saudi.
- Insiden ini memicu pertanyaan soal prosedur keamanan kokpit dan kesiapan kru menghadapi ancaman internal di maskapai Timur Tengah.

Sebuah penerbangan flydubai dari Dubai menuju Tel Aviv nyaris berakhir tragis setelah salah satu pilot menikam kapten pesawat dalam upaya yang diduga kuat untuk menjatuhkan jet penumpang. Kapten Smit Machchhar, warga negara India asal Mumbai, menjadi tokoh sentral yang menyelamatkan 174 orang di dalamnya.
Peristiwa bermula ketika rekan pilot Machchhar — dilaporkan berkebangsaan Oman — menikamnya dan membuat pesawat terjun bebas hampir 14.000 kaki (sekitar 4.267 meter) dalam tempo kurang dari setengah menit. Meski bersimbah darah dan tergeletak di lantai dek kokpit, Machchhar masih mampu menekan tuas pembuka pintu kokpit. Tindakan itu membuka jalan bagi penumpang dan awak kabin untuk masuk, melumpuhkan penyerang, dan mengambil alih kendali pesawat.
Pesawat akhirnya mendarat darurat di Tabuk, Arab Saudi bagian barat laut. Machchhar kini dirawat di rumah sakit setempat setelah menjalani operasi. Otoritas India menyatakan kondisinya stabil dan telah menghubungi keluarganya — seorang istri dan dua anak — yang tinggal di Dubai.
Perdana Menteri India Narendra Modi melalui unggahan di X menyebut Machchhar sebagai "pahlawan". Menurutnya, di tengah bahaya paling ekstrem dan meski terluka parah, pilot itu menunjukkan keberanian luar biasa dan tekad kuat untuk melindungi nyawa orang lain. Senada, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menilai tindakan Machchhar — yang tetap melawan, membuka pintu kokpit, dan memungkinkan penumpang melumpuhkan penyerang — sebagai faktor penentu keselamatan seluruh penumpang.
Selain Machchhar, sejumlah penumpang dan awak yang kebetulan berada di dalam pesawat turut berperan besar. Yaniv Hayoun, seorang tukang pipa yang berada di kokpit, mengaku kesulitan karena Machchhar sendiri terjebak di balik pintu dalam kondisi terluka. Ia lalu menarik tuas kendali pesawat meniru adegan yang pernah dilihatnya di televisi, sebelum awak lain mengambil alih. Seorang dokter gigi penumpang, Shota Musaev, juga berlari ke kokpit dan menemukan penyerang menindih pilot sambil menusuk-nusuk. Musaev membantu mengikat penyerang menggunakan kabel headphone dan ziptie plastik, seraya menuturkan bahwa Machchhar kehilangan banyak darah dan nyaris tidak tertolong.
"Saya pikir jika kami menunggu beberapa saat lagi, kami akan kehilangan dia; tekanan darahnya merosot, dia tiba-tiba kehilangan kesadaran, dan darah ada di mana-mana," ujar Musaev kepada CNN.
Yang juga krusial: keberadaan pilot cadangan yang sedang tidak bertugas. Menurut penumpang Almog Itali, salah satu pilot relief berkebangsaan Inggris masuk ke kokpit, menarik yoke, menstabilkan pesawat, dan membawa mereka mendarat dengan selamat di Arab Saudi. Laporan lain menyebut pilot cadangan tersebut berasal dari Afrika Selatan atau Selandia Baru.
Para pakar penerbangan mengaku heran pesawat tidak hancur setelah penurunan sedemikian ekstrem. Mantan pilot United Airlines dan ahli keselamatan penerbangan Steve Arroyo menyatakan bahwa gaya aerodinamis yang bekerja pada kemudi belakang saat penurunan begitu kuat, dan ia terkejut pesawat tidak terbelah. Ahli lain, Guzzetti, menilai faktor penyelamat utama adalah ketinggian yang masih tersisa — jika pesawat sudah berada di bawah 10.000 kaki, kemungkinan untuk menyeimbangkan kembali pesawat bisa sangat kecil.
Philip Kean, CEO Mainland Air di Selandia Baru — tempat Machchhar berlatih selama 18 bulan pada 2008–2009 — menyebut pilot itu di atas rata-rata. Menurutnya, pilot memang dilatih menghadapi segala kemungkinan, tetapi menghadapinya di dunia nyata adalah "cerita yang sama sekali berbeda".
Insiden ini mencuatkan pertanyaan serius bagi industri penerbangan global, terutama maskapai Timur Tengah yang mengoperasikan rute sensitif. Prosedur keamanan kokpit, mekanisme penguncian ganda, serta protokol menghadapi ancaman dari dalam kokpit akan menjadi sorotan regulator. Bagi Indonesia, yang memiliki rute internasional padat dan awak kabin multinasional, kasus ini menjadi pengingat bahwa pelatihan krisis di kokpit tidak cukup hanya bersifat prosedural — ia menuntut kesiapan mental dan pengambilan keputusan dalam hitungan detik. Akankah otoritas penerbangan dunia memperketat standar pengawasan psikologis awak pesawat setelah peristiwa ini?



