Swiss Kehilangan 19,4% Es dalam Lima Tahun, Ilmuwan Sebut 'Ledakan Laju Pencairan'
Baca dalam 60 detik
- Swiss kehilangan 5,5% volume gletser pada delapan bulan pertama 2026, menambah total kehilangan sejak 2021 menjadi 19,4%.
- Ilmuwan menemukan pola keruntuhan internal gletser yang mempercepat hilangnya es, bukan sekadar mencair dari permukaan.
- Laporan terbaru memperingatkan bahwa percepatan ini dapat mengubah lanskap Alpen secara permanen dalam beberapa dekade.

Swiss kehilangan hampir seperlima dari total volume esnya hanya dalam kurun lima tahun, menurut laporan pemantauan tahunan yang dirilis jaringan pemantau gletser Swiss. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, gletser di negara Alpen itu menyusut 5,5%—angka yang nyaris menyamai rekor terburuk pada 2022—sehingga total kehilangan sejak 2021 mencapai 19,4%.
Laporan kolaborasi Swiss Glacier Monitoring Network dan Swiss Commission for Cryosphere Observation itu mencatat ketebalan rata-rata gletser individu berkurang antara 2,5 hingga 4 meter pada 2026. Penurunan ini terjadi setelah musim panas dengan gelombang panas ekstrem, yang mengikuti musim dingin dengan curah salju minim. Matthias Huss, glasiolog dari ETH Zürich dan penulis utama laporan, menyatakan bahwa banyak orang belum menyadari kecepatan retret gletser. “Saya mengunjungi satu gletser pekan lalu dan sangat mengesankan berdiri di lanskap seperti bulan, yang beberapa tahun lalu masih tertutup lapisan es tebal,” ujarnya. Kini lokasi tersebut menjadi gurun batu dengan sisa-sisa balok es tua yang mencair di atas batuan panas.
“Yang berbeda saat itu adalah laju retret masih pada tingkat normal. Yang kita lihat sekarang adalah ledakan laju pencairan yang mengarah pada disintegrasi gletser. Mereka benar-benar runtuh.” — Matthias Huss, ETH Zürich
Temuan penting dari laporan ini adalah fenomena keruntuhan gletser dari dalam. Huss menjelaskan bahwa aliran air di bawah permukaan es membentuk rongga-rongga besar, sehingga atap es ambruk dan mempercepat proses retret. “Ada lubang besar seperti keju di tengah es yang atapnya runtuh. Proses ini merobek gletser dan membuatnya mundur lebih cepat,” tambahnya. Pola ini berbeda dari pencairan permukaan biasa dan menunjukkan bahwa kerusakan struktural memperparah kehilangan es.
Pemanasan di Eropa berlangsung dua kali lebih cepat dari rata-rata global akibat polusi bahan bakar fosil dan kerusakan alam. Analisis MeteoSwiss menunjukkan periode April–September 2026 sebagai paruh musim panas terpanas dan terkering sejak pencatatan dimulai pada 1864. Selama periode itu, umat manusia telah melepaskan 1,8 triliun ton karbon dioksida ke atmosfer dan memanaskan planet sekitar 1,4°C. Meski panas musim panas 2026 lebih buruk dari 2022, kehilangan es Swiss sedikit di bawah rekor tahun itu. Ilmuwan mengaitkannya dengan deposito debu Sahara yang terbatas—yang biasanya mengotori salju dan mengurangi pantulan sinar matahari—serta tutupan salju yang sedikit lebih tebal di akhir musim dingin dan sinar matahari musim panas yang lebih banyak.
Huss juga mengunjungi bekas gletser Plattalvafirn (Griess) pada September 2026. Gletser yang pernah menutupi lereng gunung itu kehilangan 99% areanya hanya dalam 20 tahun. Pada 1950-an, gletser ini menjadi subjek pemantauan paling rinci di dunia, dan Huss menggunakan datanya saat menempuh studi doktoral. “Laju retret saat itu masih pada tingkat normal. Sekarang kita melihat ledakan laju pencairan yang mengarah pada disintegrasi gletser,” tegasnya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi peringatan tidak langsung. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang di dunia, percepatan kenaikan permukaan laut akibat hilangnya es global akan memperbesar risiko banjir rob, abrasi, dan hilangnya pulau-pulau kecil. Meskipun Indonesia tidak memiliki gletser, dampak perubahan iklim di kawasan Alpen memperkuat urgensi komitmen pengurangan emisi global yang selama ini menjadi posisi Indonesia dalam negosiasi iklim internasional. Tanpa pengendalian emisi yang serius, proyeksi kenaikan muka air laut hingga 1 meter pada akhir abad ini dapat mengancam jutaan penduduk pesisir.
Laporan ini menegaskan bahwa laju kehilangan es di Swiss tidak lagi linier. Dalam satu generasi, lanskap yang tadinya putih menjadi gurun batu. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah gletser akan hilang, melainkan seberapa cepat dan seberapa besar dampaknya bagi ketersediaan air, ekosistem, dan stabilitas iklim global. Tanpa aksi iklim yang jauh lebih ambisius, warisan es Alpen hanya akan menjadi catatan sejarah.



