Liburan Keluarga Berujung Maut: Truk Imigrasi Tabrak Pejalan Kaki di Zona Aman, Tiga Tewas
Baca dalam 60 detik
- Tiga anggota keluarga tewas ditabrak truk Imigrasi di Kuala Lumpur saat menunggu di area penyeberangan yang aman.
- Rekaman CCTV menunjukkan truk menerobos lampu merah sebelum menghantam korban, sementara pengemudi dinyatakan negatif alkohol dan narkoba.
- Investigasi internal Imigrasi dan penyelidikan polisi tengah berlangsung, menyoroti potensi kelalaian prosedur operasional.

Kuala Lumpur โ Sebuah liburan keluarga yang seharusnya menjadi momen kebersamaan berubah menjadi tragedi ketika tiga orang tewas setelah ditabrak truk milik Departemen Imigrasi Malaysia di kawasan Jalan Sultan Ismail, dini hari tadi. Insiden yang terjadi sekitar pukul 01.00 waktu setempat itu menewaskan Shaik Mohd Firdaus Shaikh Yahya (53) dan dua putrinya, Siti Nor Sazlin (25) serta Siti Darwisyah Auni (12). Istri Firdaus, Norhayati Razali (55), mengalami luka serius dan kini dirawat intensif di Rumah Sakit Kuala Lumpur.
Yang membuat peristiwa ini semakin memilukan, keluarga tersebut berada di zona penyeberangan yang dirancang khusus untuk pejalan kaki saat tertabrak. Berdasarkan analisis awal rekaman kamera pengawas (CCTV), polisi memastikan mereka menunggu di area yang seharusnya aman. Namun, truk yang tengah melaju dari arah Kampung Baru justru menerobos lampu merah di persimpangan Jalan Sultan Ismail dan Jalan Tuanku Abdul Rahman, dekat pusat perbelanjaan Maju Junction.
Kronologi yang diungkapkan Direktur Departemen Investigasi dan Penegakan Lalu Lintas Bukit Aman, Komisaris Datuk Seri Muhammed Hasbullah Ali, menggambarkan situasi yang kompleks. Truk yang sedang kosong dengan lampu isyarat dan sirene aktif itu bertabrakan dengan sebuah mobil yang melaju dari arah Chow Kit setelah mendapatkan lampu hijau. Benturan tersebut menyebabkan pengemudi truk kehilangan kendali, lalu menghantam keluarga yang sedang menunggu untuk menyeberang dari arah Medan Tuanku menuju Chow Kit. Truk juga menabrak sebuah MPV yang berhenti di lampu merah dari arah Kampung Baru menuju Jalan Raja Laut.
Kecelakaan ini memunculkan pertanyaan besar tentang prosedur keselamatan operasional kendaraan dinas, terutama yang membawa lampu dan sirene. Meskipun truk tersebut sedang bertugas, penerobosan lampu merah tetap menjadi pelanggaran serius. Hasil tes napas dan skrining urine awal terhadap dua pengemudi yang terlibat menunjukkan hasil negatif untuk alkohol dan narkoba. Pengemudi truk berusia 43 tahun dan pengemudi mobil berusia 50 tahun telah ditahan satu hari untuk membantu penyelidikan lebih lanjut.
Kepala Kepolisian Kuala Lumpur, Komisaris Datuk Fadil Marsus, menegaskan bahwa rekaman CCTV menunjukkan keluarga berada di area aman saat tertabrak. "Sistem CCTV di area tersebut berstandar tinggi dan membantu penyelidikan," ujarnya. Sementara itu, Departemen Imigrasi Malaysia, melalui Direktur Jenderal Datuk Zakaria Shaaban, menyatakan akan melakukan investigasi internal untuk mengevaluasi kepatuhan terhadap prosedur operasi standar dan aspek keselamatan dalam pengoperasian kendaraan mereka.
Kak Siti, kerabat korban yang enggan disebut nama lengkapnya, mengungkapkan duka mendalamnya. Ia menuturkan bahwa biasanya keluarga tersebut selalu memberi tahu saat berkunjung ke Kuala Lumpur, tetapi kali ini mereka datang secara diam-diam untuk berlibur. "Saya tidak pernah membayangkan itu akan menjadi pertemuan terakhir kami," katanya dengan mata berkaca-kaca di luar ruang forensik Rumah Sakit Kuala Lumpur. Jenazah ketiga korban telah dibawa ke Pemakaman Muslim Kampung Air Hitam Labu di Kampar, Perak, untuk dimakamkan setelah salat jenazah.
Insiden ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya disiplin berlalu lintas, terutama bagi kendaraan dinas yang sering kali dianggap memiliki hak istimewa. Meskipun lampu dan sirene menyala, bukan berarti pengemudi bebas menerobos lampu merah tanpa mempertimbangkan keselamatan pengguna jalan lain. Investigasi polisi masih berlangsung untuk menentukan apakah ada kelalaian lebih lanjut, termasuk kemungkinan pelanggaran di bawah Pasal 41(1) Undang-Undang Angkutan Jalan.
Bagi masyarakat Indonesia, peristiwa ini relevan mengingat tingginya mobilitas lintas batas dan banyaknya warga yang bekerja atau berlibur di Malaysia. Kasus ini juga menyoroti perlunya evaluasi prosedur keselamatan kendaraan dinas di berbagai instansi, tidak hanya di Malaysia tetapi juga di Indonesia. Akankah investigasi ini membawa perubahan nyata dalam pengawasan operasional kendaraan darurat? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi yang jelas, nyawa tiga orang telah melayang sia-sia.



