Zhu Rongji, Arsitek Reformasi Ekonomi China, Akan Dikremasi di Beijing
Baca dalam 60 detik
- Mantan Perdana Menteri China Zhu Rongji, yang wafat pada 12 Agustus lalu, akan dikremasi di Beijing pada Selasa (18/8), dengan penghormatan terakhir berupa pengibaran bendera setengah tiang di berbagai lokasi resmi.
- Zhu dikenang sebagai tokoh kunci di balik transformasi ekonomi China pada akhir 1990-an, terutama melalui privatisasi BUMN dan liberalisasi pasar perumahan yang membentuk lanskap ekonomi negara itu hingga kini.
- Kepergiannya menandai berakhirnya era kepemimpinan reformis, sekaligus memicu refleksi tentang arah kebijakan ekonomi China di tengah tantangan global saat ini.

Mantan Perdana Menteri China, Zhu Rongji, yang wafat pekan lalu pada usia 98 tahun, akan dikremasi di Beijing pada Selasa (18/8). Jenazahnya akan melalui prosesi terakhir yang diiringi penghormatan kenegaraan, termasuk pengibaran bendera setengah tiang di sejumlah lokasi simbolis seperti Tian’anmen Square, Great Hall of the People, serta kantor perwakilan diplomatik China di luar negeri.
Zhu, yang menjabat sebagai perdana menteri dari 1998 hingga 2003, dikenal luas sebagai arsitek reformasi ekonomi yang berani. Di bawah kepemimpinannya, China melangkah maju dengan program privatisasi besar-besaran terhadap perusahaan-perusahaan milik negara yang tidak efisien, privatisasi perumahan perkotaan, serta dorongan kuat terhadap kepemilikan rumah pribadi. Langkah-langkah ini tidak hanya mengubah wajah ekonomi China, tetapi juga menjadi fondasi bagi pertumbuhan pesat yang dinikmati negara itu dalam dua dekade terakhir.
Kepergian Zhu disambut dengan penghormatan tinggi dari tubuh politik tertinggi China. Dalam obituari bersama yang dikeluarkan oleh Komite Sentral Partai Komunis China (PKC), Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional, Dewan Negara, dan Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China, ia dipuji sebagai "anggota partai yang luar biasa, pejuang komunis yang setia dan teruji oleh waktu, serta revolusioner proletar, negarawan, dan pemimpin partai serta negara yang ulung".
Bagi Indonesia, warisan Zhu Rongji memiliki relevansi yang mendalam. Kebijakan ekonominya yang pro-pasar, meski kontroversial pada masanya, menjadi studi kasus yang kerap dirujuk oleh para ekonom dan pembuat kebijakan di negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketika Indonesia tengah berupaya menarik investasi asing dan mendorong efisiensi sektor publik, pengalaman China di bawah Zhu menawarkan pelajaran tentang bagaimana reformasi struktural yang tegas dapat membawa dampak jangka panjang, meski harus dihadapi dengan resistensi politik dan sosial.
Menurut laporan Xinhua, Zhu meninggal dunia pada Rabu pagi waktu setempat, setelah "perawatan medis gagal menyelamatkannya". Meski demikian, obituari resmi menegaskan bahwa "kehidupan kawan Zhu Rongji adalah kehidupan revolusi, kehidupan perjuangan, dan kehidupan kejayaan". Pernyataan ini mencerminkan penghormatan mendalam yang diberikan rezim terhadap salah satu tokoh kunci dalam sejarah modern China.
Warisan Zhu tidak hanya terbatas pada kebijakan ekonomi. Ia juga dikenal sebagai sosok yang blak-blakan dan tidak segan mengambil keputusan sulit, bahkan ketika menghadapi kritik. Pendekatannya yang pragmatis namun tegas menjadikannya salah satu pemimpin yang paling dihormati di kalangan reformis China. Namun, di sisi lain, kebijakannya juga memicu perdebatan tentang kesenjangan sosial dan biaya sosial dari reformasi yang cepat.
Bagi pengamat geopolitik, kepergian Zhu menandai berakhirnya satu generasi kepemimpinan yang lahir dari era reformasi Deng Xiaoping. Pertanyaannya kini, bagaimana China akan mengenang dan melanjutkan warisan reformasi tersebut di tengah tantangan ekonomi global yang semakin kompleks? Akankah semangat liberalisasi yang diusung Zhu kembali relevan, atau justru semakin ditinggalkan di bawah kepemimpinan yang lebih menekankan kontrol negara? Jawabannya akan menentukan arah ekonomi China—dan dampaknya bagi kawasan, termasuk Indonesia—dalam dekade mendatang.



