Teleskop Swift NASA Menuju Kiamat: Misi Penyelamatan Gagal, Jatuh ke Bumi Oktober
Baca dalam 60 detik
- Observatorium Neil Gehrels Swift akan mengakhiri operasi sainsnya setelah upaya pengorbitan ulang yang gagal, diperkirakan terbakar di atmosfer Bumi pada awal hingga pertengahan Oktober.
- Satelit LINK dari Katalyst Space yang diluncurkan untuk menyelamatkan Swift mengalami kegagalan kontrol sikap dan kehabisan bahan bakar, meski berhasil mendekati jarak 12โ15 km dari target.
- Kegagalan ini menyoroti tantangan layanan satelit di orbit rendah Bumi dan mendorong percepatan teknologi servis antariksa komersial untuk misi masa depan.

Observatorium Neil Gehrels Swift milik NASA akan mengakhiri misi sainsnya dalam hitungan minggu setelah upaya penyelamatan ambisius untuk menaikkan orbitnya gagal total. Teleskop luar angkasa yang telah beroperasi sejak November 2004 itu kini diperkirakan akan jatuh dan terbakar di atmosfer Bumi pada awal hingga pertengahan Oktober, tepat menjelang peringatan 22 tahun peluncurannya.
Swift saat ini berada di ketinggian sekitar 200 mil (325 kilometer) di atas Bumi. Namun, para insinyur NASA memperkirakan bahwa begitu teleskop turun di bawah 185 mil (300 kilometer), operasi akan menjadi sangat sulit. Setelah itu, Swift akan mengalami penurunan orbit yang tak terkendali dan hancur saat memasuki atmosfer. Meskipun beberapa komponen mungkin selamat dari pembakaran, risiko kerusakan properti atau cedera dinilai sangat kecil. "Kemungkinan besar puing-puing akan jatuh ke laut atau daratan tak berpenghuni," ujar perusahaan pelacak antariksa LeoLabs dalam pernyataan kepada CNN.
Upaya penyelamatan dilakukan melalui satelit LINK yang dikembangkan oleh Katalyst Space Technologies asal Arizona. Satelit ini dirancang dan diluncurkan hanya dalam sembilan bulan, dengan tujuan merangkap Swift dan mendorongnya ke orbit yang lebih stabil. Namun, tak lama setelah peluncuran pada awal Juli, LINK mengalami masalah orientasi dan berputar tak terkendali. Meskipun tim insinyur berhasil memperlambat putaran dan mengunggah perangkat lunak baru, manuver tersebut menghabiskan bahan bakar. "Katalyst dan NASA bersama-sama memutuskan bahwa LINK tidak lagi memiliki cukup bahan bakar untuk melakukan penangkapan dan penaikan orbit yang direncanakan," jelas Katalyst.
Meskipun gagal menyelamatkan Swift, misi LINK tidak dianggap sia-sia. Satelit tersebut berhasil mendemonstrasikan pendekatan jarak dekat dan menguji teknologi robotik yang kelak berguna untuk servis satelit di orbit. "Ini adalah misi berisiko tinggi dengan imbalan tinggi," kata Shawn Domagal-Goldman, Direktur Divisi Astrofisika NASA. "Tanpa intervensi, Swift akan memasuki atmosfer pada akhir tahun. Kami menangkap pelajaran berharga untuk misi ke depan."
"LINK dibangun untuk mengatasi masalah yang tidak memiliki solusi mudah. Meski tidak semua tujuan tercapai, dalam waktu kurang dari setahun kami telah meluncurkan dan mengoperasikan robot antariksa komersial pertama. Ini fondasi yang bisa kami kembangkan," ujar Ghonhee Lee, CEO Katalyst Space.
Swift dikenal sebagai "multitool" astrofisika karena kemampuannya mengamati peristiwa kosmik cepat seperti ledakan sinar gamma, lubang hitam yang menyala, asteroid, dan komet. Teleskop ini diluncurkan untuk mempelajari ledakan paling dahsyat di alam semesta, tetapi kemudian digunakan untuk berbagai fenomena langit. Sayangnya, tidak ada teleskop pengganti yang siap menggantikan perannya. Para ilmuwan misi Swift kini menyalakan kembali instrumennya untuk mengumpulkan data sebanyak mungkin hingga akhirโmeskipun hal itu justru mempercepat penurunan orbit karena konsumsi daya yang meningkat.
Penurunan Swift diperparah oleh peningkatan aktivitas matahari yang mencapai puncak siklus 11 tahun pada 2024. Flare dan lontaran massa korona menyebabkan atmosfer Bumi mengembang, meningkatkan hambatan atmosfer terhadap satelit. "Ketika Neil Gehrels, yang namanya diabadikan pada observatorium ini, merancangnya, belum ada yang seperti itu," kata S. Bradley Cenko, peneliti utama Swift di Goddard Space Flight Center. "Dia akan bangga bahwa upaya penaikan orbit ini menjadi bagian dari warisan Swift, yang memungkinkan NASA mencoba sesuatu yang baru dan berani meski hasilnya tidak dijamin."
Kegagalan misi penyelamatan ini menjadi pelajaran penting bagi industri antariksa, khususnya dalam pengembangan teknologi servis satelit di orbit rendah Bumi. Katalyst berencana menerapkan data dan pengalaman dari LINK untuk generasi wahana berikutnya yang dapat memperpanjang usia misi satelit. "Masa depan antariksa membutuhkan wahana yang bisa berbuat lebih banyak setelah tiba di orbit. Kami sedang membangun menuju masa depan itu," tambah Lee. Sementara itu, NASA dan mitra komersialnya semakin terdorong untuk mengembangkan kemampuan perawatan dan perpanjangan umur satelit, terutama karena banyak observatorium dan satelit lain yang juga menua. Akankah kegagalan Swift menjadi momentum bagi lahirnya era baru layanan satelit di orbit? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: langit makin ramai dengan objek yang perlu dijaga.



