Antonelli Kehilangan Momentum di Baku, Schiff: Tekanan Gelar Bikin Dia 'Spooked'
Baca dalam 60 detik
- Kimi Antonelli masih memimpin klasemen F1 dengan keunggulan 66 poin atas George Russell setelah finis kelima di Azerbaijan.
- Mantan pembalap W Series Naomi Schiff menilai bahasa tubuh Antonelli di Baku menunjukkan tekanan psikologis yang mengganggu performanya.
- Schiff mengingatkan bahwa pertarungan gelar F1 sangat dipengaruhi faktor mental dan berharap Antonelli bisa kembali tampil bebas.

Kimi Antonelli masih memimpin klasemen pembalap Formula 1 2025, tetapi keunggulannya menyusut menjadi 66 poin setelah hanya finis kelima di Grand Prix Azerbaijan. Rekan setimnya di Mercedes, George Russell, memanfaatkan pole position menjadi kemenangan, sementara Antonelli harus puas start dari posisi 16 dan menutup balapan di urutan kelima.
Mantan pembalap W Series yang kini menjadi analis Sky Sports F1, Naomi Schiff, menilai penampilan Antonelli di Baku bukan sekadar persoalan teknis. Dalam podcast Up To Speed, Schiff menyoroti bahasa tubuh pembalap Italia itu yang tampak kaku dan terlalu berhati-hati. Menurutnya, Antonelli seperti "spooked" atau merasa terganggu oleh tekanan pertarungan gelar pertamanya.
"Saya melihat Kimi di lintasan akhir pekan ini, bukan hanya kesalahannya di kualifikasi, tetapi juga sikapnya secara umum. Dia seperti pembalap yang sedang berjuang untuk gelar, tapi terlalu takut membuat kesalahan," ujar Schiff.
Schiff menambahkan bahwa kondisi mental seperti itu justru kontraproduktif. "Dia perlu keluar dari kepalanya sendiri. Kita sudah pernah melihat ini sebelumnya. Musim lalu dia juga terlalu banyak berpikir, lalu bisa mengendalikannya dan tampil lebih bebas," jelasnya.
Meski demikian, Schiff tetap optimistis Antonelli bisa bangkit. Ia berharap pembalap berusia 19 tahun itu tidak membiarkan tekanan psikologis menghancurkan peluangnya. "Ini pertarungan mental. Begitu Anda mulai khawatir, Anda justru menarik hal-hal buruk itu kepada diri sendiri," tambahnya.
Bagi Mercedes, situasi ini menghadirkan dilema. Di satu sisi, mereka memiliki dua pembalap yang bersaing ketat untuk gelar, yang bisa memacu performa tim. Namun, persaingan internal yang panas berisiko memecah fokus dan menimbulkan ketegangan di garasi. Russell, yang kini berada di posisi kedua, semakin percaya diri setelah kemenangan di Baku.
Antonelli sendiri masih memiliki modal besar: keunggulan 66 poin dengan sejumlah balapan tersisa. Namun, sejarah F1 menunjukkan bahwa keunggulan besar bisa menguap jika faktor mental tidak dikelola dengan baik. Contohnya, pada musim 2007, Lewis Hamilton hampir kehilangan gelar karena tekanan di balapan-balapan akhir. Schiff berharap Antonelli tidak mengulangi pola serupa.
Dari kacamata pengamat, tekanan yang dialami Antonelli adalah hal wajar bagi pembalap muda yang tiba-tiba berada di puncak. Namun, kemampuan mengelola ekspektasi dan stres akan menentukan apakah ia bisa mengunci gelar atau justru tergelincir. Mercedes perlu memastikan lingkungan tim tetap suportif tanpa menambah beban psikologis.
Ke depan, seri-seri berikutnya akan menjadi ujian mental bagi Antonelli. Jika ia mampu kembali ke performa terbaiknya, gelar juara dunia pertama tinggal menunggu waktu. Sebaliknya, jika tekanan terus mengganggu, Russell bisa terus memangkas jarak dan menciptakan drama hingga balapan terakhir. Akankah Antonelli mampu membebaskan pikirannya dan membuktikan bahwa ia layak menjadi yang tercepat?



