Calon Kapolri Komjen Suyudi: Anak Harus Merasa Aman, Bukan Takut, Saat Melihat Polisi
Baca dalam 60 detik
- Komjen Suyudi Ario Seto menegaskan pendekatannya sebagai calon Kapolri berfokus pada keamanan, bukan rasa takut, terutama bagi anak-anak.
- Dalam uji kelayakan di Komisi III DPR, ia menekankan bahwa kantor polisi harus menjadi tempat mencari pertolongan, bukan sumber kerumitan.
- Pernyataan ini menjadi sinyal awal arah kepemimpinan Polri jika Suyudi terpilih, dengan penekanan pada pendekatan humanis.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Suyudi Ario Seto menegaskan bahwa pendekatan kepolisian ke depan harus mampu menghadirkan rasa aman, bukan ketakutan, khususnya di mata anak-anak. Pernyataan itu disampaikan saat memaparkan visi dan misi sebagai calon Kapolri dalam rapat uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (1/10).
"Pendekatan saya sederhana: ketika seorang anak melihat polisi, ia merasa aman, bukan takut," ujar Suyudi di hadapan anggota dewan. Ia menambahkan bahwa kantor polisi semestinya menjadi tempat masyarakat menemukan solusi, bukan justru menambah beban persoalan. Menurutnya, perubahan cara pandang publik terhadap institusi kepolisian dimulai dari pengalaman sehari-hari yang ramah dan responsif.
Uji kelayakan tersebut menjadi momen penting bagi Suyudi, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala BNN. Ia tiba di ruang rapat Komisi III dengan didampingi Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad. Rapat dipimpin langsung oleh Ketua Komisi III DPR Habiburokhman. Dalam forum itu, Suyudi memaparkan sejumlah prioritas jika dipercaya memimpin Polri, termasuk memperkuat pendekatan preventif dan humanis.
Pernyataan Suyudi menyentuh aspek psikologis hubungan antara aparat dan masyarakat. Selama ini, citra polisi di kalangan anak-anak kerap dikaitkan dengan sosok yang menakutkan, misalnya dalam cerita atau pengalaman tidak menyenangkan. Jika pendekatan ini diimplementasikan, ia berpotensi mengubah pola interaksi sejak dini dan membangun kepercayaan publik jangka panjang.
"Pendekatan saya sederhana ketika seorang anak melihat polisi ia merasa aman, bukan takut," kata Suyudi.
Dalam konteks Indonesia, pernyataan ini juga dapat dibaca sebagai respons terhadap berbagai kritik yang selama ini dialamatkan ke Polri, mulai dari masalah pelayanan hingga penegakan hukum. Pendekatan humanis menjadi salah satu kunci untuk memperbaiki citra lembaga. Namun, tantangannya tidak kecil: mengubah budaya organisasi dan perilaku personel di lapangan membutuhkan komitmen berkelanjutan, bukan sekadar retorika.
Jika Suyudi benar-benar menerapkan visi tersebut, publik akan menanti bukti nyata, misalnya melalui program pelatihan, pengawasan, dan evaluasi kinerja yang menempatkan masyarakat sebagai mitra, bukan objek. Apakah pendekatan ini akan menjadi arus utama di tubuh Polri, atau hanya menjadi wacana dalam ruang sidang? Waktu yang akan menguji.



