Teleskop CHIME Buktikan Bisa Lacak Energi Gelap Tanpa Bantuan Alat Lain
Baca dalam 60 detik
- CHIME, teleskop radio Kanada, untuk pertama kalinya memetakan hidrogen purba hanya dengan datanya sendiri setelah tujuh tahun verifikasi.
- Kemampuan ini membuka jalan riset energi gelap yang lebih murah dan mandiri, tanpa ketergantungan pada observatorium lain.
- Tim peneliti akan mengolah tujuh tahun data observasi berikutnya untuk memperkuat peta distribusi hidrogen di alam semesta awal.

Setelah hampir satu dekade pengujian, teleskop radio Canadian Hydrogen Intensity Mapping Experiment (CHIME) akhirnya membuktikan mampu memetakan sebaran hidrogen di alam semesta purba hanya dengan data yang dikumpulkannya sendiri. Terobosan ini dipublikasikan dalam The Astrophysical Journal edisi 28 September dan dinilai membuka jalur baru untuk meneliti energi gelapโgaya misterius yang membuat alam semesta mengembang semakin cepat.
Sebelumnya, CHIME selalu memerlukan konfirmasi dari teleskop lain untuk memvalidasi sinyal yang ditangkapnya. Proses itu mahal dan memakan waktu. Kini, tim peneliti menunjukkan bahwa instrumen yang berpusat di dekat Penticton, British Columbia, itu bisa berdiri sendiri sebagai titik ukur independen. Data yang dianalisis berasal dari 94 malam pengamatan pada 2019, yang diverifikasi berulang sebelum dinyatakan sahih.
Hidrogen, unsur paling melimpah di kosmos, menjadi bahan baku pembentukan bintang. Emisi radio samarnya berfungsi sebagai penanda kosmik yang mengungkap bagaimana materi tersebar di ruang angkasa. "Kami bekerja keras meyakinkan diri bahwa ini bukan alarm palsu," ujar Arnab Chakraborty, peneliti pascadoktoral di University of Toronto dan salah satu penulis studi, dalam pernyataan resmi. "Setelah semua uji, sinyalnya tetap ada. Itu memberi kami keyakinan bahwa kami melihat hidrogen asli dari alam semesta jauh."
Peta distribusi gas ini dapat mengungkap petunjuk baru tentang laju pengembangan alam semesta pada periode yang berbeda. Selama ini, pemahaman tentang energi gelap masih sangat terbatas karena sulitnya pengukuran langsung. Dengan kemampuan CHIME memetakan hidrogen secara mandiri, para ilmuwan berpeluang mendapatkan data yang lebih konsisten dan hemat biaya untuk menguji model kosmologi yang ada.
Studi pendamping yang juga terbit di The Astrophysical Journal menambahkan detail tentang lokasi hidrogen di kosmos. Sekitar 2% hidrogen ditemukan dalam bentuk atomik netralโatom dengan satu proton dan satu elektron tanpa muatan listrik. Angka ini sejalan dengan pengukuran teleskop lain, seperti diungkapkan Shabbir Shaikh, peneliti pascadoktoral di Arizona State University. Konsistensi lintas instrumen ini memperkuat validitas data CHIME.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menegaskan bahwa riset antariksa tidak selalu membutuhkan armada teleskop raksasa. Pendekatan hemat biaya dan mandiri seperti CHIME dapat menjadi rujukan bagi negara berkembang yang ingin berkontribusi pada sains kosmologi. Meski Indonesia belum memiliki fasilitas radio astronomi sekelas CHIME, kolaborasi data terbuka dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia bisa menjadi langkah awal.
Ke depan, tim peneliti berencana mengolah tujuh tahun data observasi CHIME lainnya. Mereka berharap dapat memperluas peta hidrogen dan mempertajam pemahaman tentang energi gelap. Pertanyaannya, mampukah CHIME mengungkap pola yang selama ini tersembunyi, atau justru memunculkan teka-teki baru tentang gaya yang mengendalikan takdir alam semesta?



