Anak Krakatau Siaga: Delapan Letusan dan Lava Pijar Mengancam Selat Sunda
Baca dalam 60 detik
- Gunung Anak Krakatau mencatat delapan letusan dalam sehari, memuntahkan lava pijar hingga ketinggian 300 meter.
- PVMBG mempertahankan status Siaga Level III dan melarang aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah.
- Peningkatan aktivitas sejak Juni 2026 memicu kekhawatiran akan dampak terhadap nelayan dan wisatawan di sekitar Selat Sunda.

Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan kembali menunjukkan kegarangannya. Dalam pengamatan 24 jam pada Minggu (16/8), gunung yang terletak di Selat Sunda ini meletus delapan kali, menyemburkan lava pijar dan kolom asap yang membubung hingga 300 meter di atas puncak kawah. Statusnya pun masih bertahan di Level III (Siaga), sebuah pengingat bahwa ancaman vulkanik di kawasan padat aktivitas ini belum mereda.
Petugas Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau dari PVMBG Badan Geologi, Muhammad Dika Nurzaman, melaporkan bahwa letusan-letusan tersebut terekam dengan amplitudo 43-60 milimeter dan durasi 34-59 detik. Selain itu, instrumen juga mencatat 46 kali gempa hembusan, 10 kali tremor harmonik, serta 11 kali gempa hybrid. Aktivitas tremor menerus dengan amplitudo dominan 20 milimeter turut mewarnai kegempaan gunung ini, menandakan suplai magma yang masih aktif dari kedalaman.
Secara visual, asap kawah teramati berwarna putih, kelabu, hingga hitam dengan intensitas bervariasi, dari tipis hingga tebal. Tinggi kolom asap berkisar antara 10 hingga 300 meter, mengindikasikan fluktuasi energi yang tidak menentu. Kondisi ini, menurut para ahli, adalah tipikal gunung api yang sedang dalam fase erupsi efusif dan eksplosif secara bergantian, seperti yang kerap terjadi pada Anak Krakatau sejak kemunculannya pada 1927.
Menyikapi situasi ini, PVMBG mengeluarkan rekomendasi tegas: masyarakat, wisatawan, dan pendaki dilarang mendekati kawah dalam radius tiga kilometer. Larangan ini berlaku untuk mengantisipasi lontaran material vulkanik yang dapat membahayakan keselamatan. Imbauan serupa juga ditujukan kepada nelayan yang beraktivitas di perairan Selat Sunda, agar senantiasa memantau informasi resmi dan kondisi cuaca sebelum melaut.
Kewaspadaan ini bukan tanpa alasan. Sejak awal Juni hingga pertengahan Juli 2026, Anak Krakatau telah mengalami 19 kali erupsi. Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Suwarno, pada 13 Juli lalu mengungkapkan bahwa aktivitas gunung ini masih fluktuatif, sehingga pemantauan dilakukan selama 24 jam penuh. Peningkatan aktivitas itulah yang mendorong Badan Geologi menaikkan status dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada awal Juli.
Bagi Indonesia, aktivitas Anak Krakatau bukan sekadar fenomena geologi. Letaknya yang strategis di jalur pelayaran Selat Sunda menjadikannya ancaman ganda: gangguan pada sektor pariwisata dan ekonomi maritim. Kawasan sekitar gunung, seperti Anyer dan Carita, merupakan destinasi wisata populer yang setiap tahun menarik ribuan pengunjung. Jika status meningkat menjadi Level IV (Awas), potensi kerugian ekonomi bisa sangat besar, belum lagi risiko terhadap keselamatan jiwa.
Sejarah mencatat, letusan dahsyat Krakatau pada 1883 telah menelan puluhan ribu korban jiwa dan memicu tsunami dahsyat. Meski Anak Krakatau yang sekarang adalah gunung yang berbeda, ia tumbuh di atas sisa-sisa gunung purba tersebut. Pada 2018 lalu, erupsi dan longsoran bawah lautnya bahkan memicu tsunami Selat Sunda yang menewaskan lebih dari 400 orang. Pengalaman pahit ini menjadi pelajaran bahwa mitigasi bencana harus selalu diperbarui dan dipatuhi.
PVMBG menegaskan bahwa aktivitas saat ini masih dapat dipantau dan langkah mitigasi berjalan sesuai prosedur. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa status Siaga bisa sewaktu-waktu dinaikkan jika data menunjukkan eskalasi. Pertanyaannya, apakah masyarakat dan pemangku kepentingan di sekitar Selat Sunda sudah benar-benar siap menghadapi kemungkinan terburuk? Dengan pemantauan yang terus dilakukan, diharapkan setiap perkembangan dapat direspons cepat, meminimalkan risiko yang mungkin timbul.



