El Niño Perparah Kebakaran Hutan, Ribuan Orangutan di Kalimantan Terancam
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran hutan dan lahan gambut yang dipicu El Niño menghanguskan habitat yang menampung 52% populasi orangutan Kalimantan.
- Tim penyelamat telah mengevakuasi lebih dari 20 orangutan, satu di antaranya tewas diduga akibat menghirup asap.
- IUCN menyerukan bantuan internasional mendesak dan investasi jangka panjang untuk restorasi gambut serta penghentian deforestasi.

Kebakaran hutan dan lahan gambut yang melanda Sumatra, Kalimantan, dan Papua sejak beberapa bulan terakhir tidak hanya memicu kabut asap lintas negara, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup orangutan dan satwa endemik lainnya. International Union for Conservation of Nature (IUCN) melaporkan bahwa habitat yang menampung 52% populasi orangutan Kalimantan kini terdampak api, dan memperingatkan ribuan individu bisa mati, terluka, atau terusir dari tempat tinggalnya.
Fenomena El Niño yang menguat tahun ini memperparah musim kemarau, membuat lahan gambut yang biasanya basah berubah menjadi bahan bakar yang mudah terbakar. Berbeda dengan kebakaran permukaan, api di gambut menjalar di bawah tanah dan sangat sulit dipadamkan. Selama puluhan tahun, drainase besar-besaran untuk perkebunan sawit dan industri pulp telah mengeringkan lahan gambut, sehingga ketika kemarau ekstrem datang, api menyebar tak terkendali.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat sekitar 600.000 hektare lahan terbakar sepanjang Agustus, menurut organisasi lingkungan YKAN. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memperkirakan kebakaran bisa berlanjut hingga awal November karena musim hujan diprediksi datang terlambat. Angka ini menempatkan Indonesia pada titik kritis: selain krisis kesehatan masyarakat akibat asap, negara menghadapi tekanan internasional untuk menekan emisi karbon dari kebakaran gambut.
Tim penyelamat dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (Yiari) bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat telah mengevakuasi lebih dari 20 orangutan dan sejumlah satwa lain seperti trenggiling. Seekor orangutan dilaporkan tewas, diduga karena menghirup asap pekat. Beberapa yang selamat ditemukan dengan luka bakar di tangan akibat menyentuh tanah yang panas, serta mengalami dehidrasi dan kekurangan makanan.
“Saya yakin jumlah satwa liar yang terbakar dan mati akibat kebakaran ini sangat besar,” ujar Dr Karmele Llano Sanchez, dokter hewan dan CEO Yiari. “Sudah 80 hari tidak hujan di sini, semuanya kering dan terbakar. Tidak ada daun, tidak ada buah—tidak ada yang bisa mereka makan.”
Evakuasi orangutan bukan perkara mudah. Tim harus membius hewan dengan dart yang ditembakkan dari jarak hingga 30 meter, lalu menangkapnya dengan jaring saat jatuh dari pohon. Orangutan jantan dewasa bisa berbobot 70 kilogram. Jika induk sedang menggendong bayi, keduanya biasanya jatuh bersama. Menurut Sanchez, evakuasi adalah pilihan terakhir karena berarti kawasan hutan tempat mereka hidup sudah hancur total.
Dampak kebakaran tidak berhenti pada kematian langsung. Penelitian menunjukkan bahwa setelah kebakaran besar, produksi daun dan buah di hutan menurun drastis karena asap menghalangi sinar matahari dan mengganggu fotosintesis. Dr Susan Cheyne dari Borneo Nature Foundation International menjelaskan bahwa efek lanjutan ini terjadi tepat saat musim kemarau, ketika orangutan justru membutuhkan lebih banyak makanan karena mengandalkan daun dan bunga, bukan buah berdaging yang melimpah di musim hujan.
Profesor Erin Vogel dari Rutgers University menambahkan bahwa hutan gambut yang terbakar bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih, bahkan keragaman pohonnya tetap tertekan hingga 12 tahun setelah kebakaran. Jika api terus berulang, hutan berisiko terjebak dalam kondisi degradasi permanen. Selain itu, kesehatan orangutan yang selamat pun belum sepenuhnya dipahami. Penelitian pasca-kebakaran 2015 menemukan bahwa orangutan bersuara lebih sedikit dan kualitas vokalnya menurun selama berbulan-bulan setelah asap hilang—indikasi gangguan kesehatan yang serupa dengan dampak asap pada manusia, seperti asma, infeksi saluran pernapasan, hingga kanker.
Ancaman juga menghantui pusat penelitian Tuanan di Kalimantan Tengah dan Rangkong di Kalimantan Barat. Selama 23 tahun, peneliti di Tuanan telah memantau 2.500 pohon dan individu orangutan yang sama, menghasilkan data jangka panjang yang sangat berharga. Kini, staf dan warga setempat berjuang memadamkan api dengan sistem sprinkler darurat dan pembersihan lahan. Hujan lokal sempat memberi sedikit kelegaan di Rangkong, tetapi di Tuanan api masih terus dipadamkan siang-malam.
IUCN menegaskan bahwa respons darurat harus diikuti dengan investasi besar untuk membasahi kembali lahan gambut, menghentikan deforestasi, dan memastikan hutan yang terbakar dipulihkan, bukan dikonversi menjadi perkebunan. Tanpa langkah struktural, siklus kebakaran tahunan akan terus mengancam keanekaragaman hayati Indonesia dan komitmen iklim negara.
Bagi Indonesia, krisis ini bukan sekadar bencana lingkungan. Kebakaran gambut melepaskan karbon dalam jumlah masif, memperburuk posisi Indonesia di peta emisi global, dan berpotensi memicu teguran dari mitra dagang yang menerapkan kebijakan bebas deforestasi. Di sisi lain, upaya penyelamatan satwa seperti yang dilakukan Yiari menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, LSM, dan masyarakat lokal bisa menjadi fondasi penanganan yang lebih baik—asalkan didukung pendanaan dan kebijakan yang konsisten.
Pertanyaannya kini: akankah musim hujan yang datang terlambat cukup untuk memadamkan api, atau kita sedang menyaksikan awal dari degradasi permanen yang tak bisa dibalik?



