Bubu, Perangkap Ikan Tradisional Malaysia yang Kini Jadi Sorotan: Bisakah Bertahan di Tengah Modernisasi?
Baca dalam 60 detik
- Bubu, perangkap ikan tradisional khas Malaysia, masih dipakai nelayan lokal namun terancam oleh praktik penangkapan modern.
- Para pegiat konservasi menilai alat ini ramah lingkungan karena selektif, tetapi produktivitasnya kalah dibanding pukat harimau.
- Ke depan, pelestarian bubu bergantung pada kebijakan perikanan berkelanjutan dan minat generasi muda terhadap warisan bahari.

Perangkap ikan tradisional yang dikenal sebagai bubu, yang selama berabad-abad menjadi andalan nelayan di perairan Malaysia, kembali mengemuka dalam diskusi tentang masa depan industri perikanan di kawasan ini. Di tengah gencarnya modernisasi alat tangkap, keberadaan bubu kini dipertanyakan: apakah ia masih relevan atau akan tersingkir oleh teknologi?
Bubu adalah alat tangkap berbentuk silinder atau kerucut yang dianyam dari bambu atau rotan, dirancang dengan pintu masuk yang memungkinkan ikan masuk namun sulit keluar. Masyarakat pesisir di berbagai negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, telah menggunakan teknik serupa selama turun-temurun. Namun, di Malaysia, popularitas bubu mulai tergerus oleh penggunaan pukat harimau dan jaring insang yang dianggap lebih efisien dalam jumlah tangkapan.
Menurut catatan Departemen Perikanan Malaysia, kontribusi alat tangkap tradisional seperti bubu terhadap produksi perikanan nasional terus menurun dalam satu dekade terakhir. Data menunjukkan bahwa nelayan yang mengandalkan bubu rata-rata hanya memperoleh 20-30 kilogram ikan per hari, jauh di bawah hasil tangkapan kapal pukat yang bisa mencapai ratusan kilogram. Namun, para pemerhati lingkungan menggarisbawahi bahwa bubu memiliki keunggulan yang tidak dimiliki alat modern: selektivitas tinggi yang meminimalkan tangkapan sampingan (bycatch) dan tidak merusak habitat dasar laut.
โBubu adalah teknologi tepat guna yang telah teruji oleh waktu. Ia tidak hanya menangkap ikan, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem,โ ujar seorang akademisi kelautan dari Universiti Malaysia Terengganu yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa adopsi alat tangkap modern tanpa pengawasan justru memicu penangkapan berlebihan yang mengancam keberlanjutan sumber daya laut.
Di Indonesia, persoalan serupa juga mengemuka. Nelayan tradisional di berbagai daerah, seperti di Sulawesi dan Maluku, masih menggunakan bubu yang dikenal dengan nama lokal โbubuโ atau โseroโ. Namun, mereka menghadapi tekanan yang sama: persaingan dengan kapal modern dan minimnya insentif untuk mempertahankan praktik ramah lingkungan. Pemerintah Indonesia sebenarnya telah mengeluarkan kebijakan yang mendukung perikanan berkelanjutan, namun implementasinya masih timpang di lapangan.
Pergeseran dari alat tradisional ke modern tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada sosial budaya masyarakat pesisir. Generasi muda di Malaysia dan Indonesia cenderung kurang tertarik mewarisi keterampilan membuat bubu, karena dianggap tidak menguntungkan secara ekonomi. Padahal, kerajinan bubu memiliki nilai budaya yang tinggi dan berpotensi menjadi daya tarik wisata bahari.
Beberapa inisiatif mulai muncul untuk merevitalisasi penggunaan bubu. Di Malaysia, program pemberdayaan nelayan yang digagas oleh LSM lokal mencoba mengombinasikan bubu dengan teknik penangkapan modern, seperti penggunaan GPS untuk menemukan lokasi ikan. Sementara itu, di Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mendorong penggunaan alat tangkap ramah lingkungan melalui program kampung nelayan mandiri, meskipun hasilnya belum merata.
Pertanyaannya kini, apakah bubu akan tetap menjadi bagian dari identitas maritim Asia Tenggara, atau perlahan menjadi artefak museum? Jawabannya bergantung pada kemauan politik untuk memberikan insentif bagi nelayan tradisional dan kesadaran konsumen untuk mendukung produk perikanan berkelanjutan. Jika tidak ada langkah konkret, bukan tidak mungkin bubu hanya akan dikenang dalam buku sejarah, sementara laut kita kehilangan salah satu penjaga keseimbangannya.



