Warga Pulau Lismore Temukan Biara Abad ke-6, Buka Tabir Penyebaran Kristen di Skotlandia
Baca dalam 60 detik
- Penggalian arkeologi yang didanai komunitas di Pulau Lismore, Skotlandia, menemukan kompleks biara abad ke-6 yang jauh lebih besar dari perkiraan awal.
- Temuan ini menempatkan Lismore sejajar dengan Iona sebagai pusat penyebaran agama Kristen awal di Inggris utara, sekaligus mengangkat kembali nama Santo Moluag yang lama terpinggirkan.
- Hasil riset akan diterbitkan dalam jurnal Antiquity dan berpotensi mengubah peta sejarah monastisisme di Eropa utara.

Sebuah penggalian arkeologi yang dibiayai swadaya warga di Pulau Lismore, Skotlandia, mengungkap sisa-sisa biara abad ke-6 yang selama ini hanya disebut dalam dokumen kuno. Penemuan ini tidak hanya menulis ulang sejarah pulau berpenduduk 190 jiwa itu, tetapi juga memberi perspektif baru tentang bagaimana agama Kristen menyebar dari Irlandia ke daratan Inggris utara.
Lismore, pulau kecil dekat Oban di Argyll, selama ini dikenal sebagai lokasi katedral abad pertengahan yang lebih muda. Namun, catatan historis menyebut adanya permukiman biara pada abad ke-6, ketika misionaris Irlandia mulai bergerak ke utara Britania. Selama bertahun-tahun, bukti fisik dari periode itu nyaris tak terlihat—hanya serpihan salib berukir awal yang tersisa. Warga dari perkumpulan sejarah setempat pun berinisiatif menggali lebih dalam.
Setelah mengumpulkan dana dari hibah, donasi, warisan, dan kampanye urun dana, mereka menyewa arkeolog profesional Dr Clare Ellis dari Argyll Archaeology untuk memimpin penggalian di situs katedral abad pertengahan. Hasilnya, menurut para ahli, "sangat menggembirakan": mereka menemukan area pemakaman luas, batu berhias, dan bangunan awal yang merupakan ciri khas biara besar abad ke-6—sebanding dengan situs Iona yang lebih terkenal di barat daya.
Selain struktur bangunan, tim juga menemukan bukti langka kerajinan logam kelas atas dari periode sedikit lebih muda. Ribuan krusibel—wadah tanah liat untuk melebur logam—menunjukkan bahwa penghuni biara melebur emas, tembaga, dan perak, serta membuat perhiasan di pulau kecil itu pada abad ke-7. Temuan ini menegaskan bahwa Lios Mór bukan sekadar gereja kecil di pelosok, melainkan pusat keagamaan dan ekonomi penting berskala internasional.
"Kami menggali di area berawa yang sangat tidak bersahabat. Menemukan krusibel kecil terbaik yang pernah ada di Skotlandia sungguh luar biasa," ujar Robert Hay, pensiunan ilmuwan tanaman yang mengoordinasikan upaya warga.
Hay, yang pindah ke Lismore pada 2001, mengaku momen paling mendebarkan adalah saat analisis pasca-penggalian mengungkap bahwa logam-logam mulia telah dilebur dan diubah menjadi perhiasan di pulau itu pada abad ke-7. Menurutnya, kelompok "minoritas dinamis" yang sebagian besar berusia lanjut berhasil menggalang relawan dan dana. "Ini sebenarnya jauh lebih mudah daripada pekerjaan saya sebelumnya," katanya.
Profesor arkeologi Universitas Aberdeen, Gordon Noble, menilai temuan ini sangat signifikan. "Kami tahu situs seperti Iona memiliki biara terkenal dari dunia awal abad pertengahan. Tapi selain kaitan dengan Moluag dan satu fragmen patung, kami nyaris tidak tahu apa-apa tentang Lismore. Jadi sangat menggembirakan melihat hasilnya muncul melalui kerja kelompok lokal bersama Clare," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pendekatan dari bawah ke atas—di mana komunitas sendiri yang menggagas dan bekerja sama dengan profesional—jarang terjadi, namun membuahkan hasil luar biasa.
Hay berharap penemuan ini memulihkan reputasi Santo Moluag, yang lama berada dalam bayang-bayang Santo Columba, pendiri Iona yang memiliki biografi abad ke-9. "Moluag tidak pernah punya penulis hagiografi, jadi kontribusinya pada evangelisasi Skotlandia sangat diremehkan. Menemukan situs biaranya dan bukti kerajinan logam adalah upaya mengkalibrasi ulang situasi. Saya yakin Moluag berdampak besar, tapi sayangnya ia tidak pandai public relations," tandasnya.
Hasil penggalian komunitas ini akan diterbitkan dalam edisi mendatang jurnal Antiquity. Bagi Indonesia, kisah Lismore bisa menjadi cermin: banyak situs bersejarah di Nusantara yang belum tergali optimal karena keterbatasan dana dan perhatian. Partisipasi warga dan pendanaan swadaya, seperti yang dilakukan di Skotlandia, dapat menjadi model untuk mengungkap jejak peradaban Sriwijaya, Majapahit, atau penyebaran Islam awal di pesisir Sumatra dan Jawa. Pertanyaannya, mampukah komunitas lokal di Indonesia mengorganisir upaya serupa untuk membuka tabir sejarah yang masih terkubur?



