Event Horizon Kini Gratis di Tubi: Horor Kosmik yang Gagal di Box Office, Kini Jadi Kultus
Baca dalam 60 detik
- Event Horizon (1997) resmi dapat disaksikan tanpa biaya di platform streaming Tubi, membuka akses baru bagi penonton yang belum pernah mengalami teror kosmiknya.
- Meski awalnya merugi secara komersial dan dihujani kritik, film ini perlahan menemukan status kultus berkat pendekatan visual gotik dan tema kesalahan manusia yang jarang disentuh sinema arus utama.
- Ketersediaan gratis ini berpotensi menghidupkan kembali diskusi tentang sekuel yang selama bertahun-tahun digantung, sekaligus menguji selera pasar Indonesia terhadap horor eksistensial.

Film horor kosmik Event Horizon (1997) karya Paul W.S. Anderson kini dapat ditonton secara cuma-cuma di Tubi, platform streaming milik Fox Corporation. Kabar ini menjadi angin segar bagi penggemar genre yang selama ini kesulitan mengakses salah satu judul paling kontroversial di akhir dekade 90-an tersebut.
Keputusan Tubi menghadirkan film ini bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, Event Horizon mengalami semacam kebangkitan reputasi. Dari yang semula dianggap sebagai kegagalan kritis dan komersial, ia bertransformasi menjadi objek kultus—terutama di kalangan penikmat horor yang menghargai pendekatan visualnya yang berani dan obsesinya pada tema kesalahan manusia (hubris).
Alur cerita Event Horizon berpusat pada tahun 2047. Sebuah kapal penjelajah antariksa bernama Event Horizon, yang hilang tujuh tahun sebelumnya dalam pelayaran perdananya, tiba-tiba mengirimkan sinyal darurat. Tim penyelamat yang dipimpin Kapten Miller (Laurence Fishburne) dikerahkan, bersama Dr. William Weir (Sam Neill), perancang kapal tersebut. Apa yang mereka temukan di dalamnya bukan sekadar bangkai kapal, melainkan ruang yang seolah hidup dan memutarbalikkan realitas.
Yang membuat Event Horizon menonjol bukanlah plotnya yang sederhana, melainkan eksekusi visual dan atmosfernya. Anderson merancang kapal itu tidak seperti pesawat antariksa pada umumnya. Ia mengambil inspirasi dari arsitektur Katedral Notre Dame, menciptakan interior yang terasa seperti mansion gotik yang suram, bukan ruang logam yang steril. "Saya ingin melakukan sesuatu yang berbeda yang belum pernah dilakukan di pesawat antariksa sebelumnya, dan karena kami sedang menceritakan kisah horor gotik, saya menjangkau kembali ke masa lalu," ujar Anderson kepada The Ringer pada 2020.
Pendekatan ini menghasilkan pengalaman menonton yang visceral. Karakter yang terpapar pengetahuan terlarang langsung kehilangan penglihatan—sebuah metafora bahwa pikiran manusia tidak dirancang untuk memahami hal yang tak terpahami. Film ini tidak segan menampilkan mutilasi tubuh dan penyiksaan sadomasokistik, mengingatkan pada estetika Clive Barker dalam Hellraiser. Namun Anderson menambahkan lapisan rasa bersalah dan trauma, membuat para tokoh dihantui halusinasi yang mengungkap ketakutan terdalam mereka.
Meski demikian, Event Horizon bukan tanpa cela. Banyak kritikus menilai narasinya terjebak dalam klise misi penyelamatan yang berujung malapetaka. Perbandingan dengan Alien (1979) atau Solaris (1972) sering muncul, dan sebagian menganggap film ini kalah dalam kedalaman filosofis. Namun justru di situlah letak daya tariknya: ia tidak berpura-pura menjadi sesuatu yang intelektual. Ia adalah mimpi buruk yang gamblang, sebuah perjalanan tanpa kompromi ke dalam kegelapan.
"Tidak ada yang benar-benar menangkap kengerian eksistensial seperti horor kosmik. Alih-alih mengandalkan sumber teror tradisional, horor kosmik menyentuh rasa ketidakberartian manusia di hadapan alam semesta yang tak terpahami."
Bagi penonton Indonesia, ketersediaan Event Horizon di Tubi bisa menjadi pintu masuk untuk menjelajahi subgenre horor kosmik yang masih jarang diproduksi secara lokal. Selera pasar Indonesia terhadap horor memang kuat, tetapi sebagian besar masih berkutat pada hantu, ritual, dan mitos urban. Film seperti Event Horizon menawarkan alternatif: teror yang tidak berasal dari sosok berwujud, melainkan dari kesadaran bahwa manusia mungkin bukan apa-apa di hadapan kekuatan yang jauh lebih besar.
Ke depannya, apakah platform streaming gratis seperti Tubi akan semakin agresif menghadirkan film-film kultus yang sulit ditemukan di layanan berbayar? Dan lebih menarik lagi, akankah kesuksesan baru Event Horizon ini memicu sekuel yang selama ini hanya menjadi rumor? Jika iya, akankah Anderson kembali menyutradarai, atau justru generasi baru yang mengambil alih? Yang jelas, untuk saat ini, film yang dulu tenggelam itu kini mengapung kembali—dan siap menghantui penonton baru.



