Gempa Flores 7,7 SR: 48 Tewas, Ribuan Mengungsi, Rumah Sakit Kewalahan
Baca dalam 60 detik
- Gempa dangkal berkekuatan 7,7 SR yang berpusat di utara Pulau Flores pada Sabtu dini hari menewaskan 48 orang dan memaksa sekitar 5.000 warga mengungsi.
- Rumah sakit di Ruteng kewalahan mengevakuasi pasien, sementara lebih dari 300 gempa susulan memicu kekhawatiran akan runtuhnya bangunan yang sudah rusak.
- Dampak kerusakan meluas, dengan 914 rumah rusak berat serta puluhan fasilitas pendidikan dan kesehatan terdampak, menyoroti kerentanan infrastruktur di kawasan timur Indonesia.

Gempa bumi dangkal berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (17/8) dini hari telah merenggut 48 nyawa dan memaksa ribuan warga mengungsi. Guncangan yang terjadi sekitar pukul 05.30 WITA itu tidak hanya meratakan rumah-rumah warga, tetapi juga melumpuhkan layanan kesehatan di wilayah terdampak, memicu kepanikan massal di tengah situasi darurat.
Pusat gempa berada di laut, sekitar 200 kilometer timur Ruteng, dengan kedalaman dangkal yang memperkuat efek guncangan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat kerusakan terparah terjadi di Kabupaten Nagekeo, sementara Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, juga mengalami kerusakan signifikan. Peringatan tsunami sempat dikeluarkan otoritas setempat, namun kemudian dicabut setelah evaluasi lebih lanjut.
Di tengah kekacauan, rumah sakit umum di Ruteng menjadi saksi perjuangan dramatis para pasien dan keluarga mereka. Melania Nius (56) menceritakan bagaimana ia dan keluarganya berjuang menyelamatkan suaminya yang tengah dirawat di lantai tiga akibat penyakit jantung, paru-paru, dan diabetes. "Tempat tidur hampir terbalik. Meja dan semua barang berhamburan," kenangnya. "Kami panik. Saat getaran mereda, kami segera mendorong tempat tidurnya keluar." Evakuasi terhambat puing-puing, namun dengan bantuan orang lain mereka akhirnya bisa keluar. "Saya hanya berdoa: Tuhan, jika masih memberi kami kesempatan hidup, tolong bukakan jalan," ujarnya.
Kisah serupa diungkapkan Tonsianus Sambang (31), yang sedang menjenguk ibunya yang dirawat karena pecah pembuluh darah di otak. "Kami semua panik; beberapa orang melompat dari jendela, yang lain berlari keluar," katanya. "Prioritas utama kami saat itu adalah mengevakuasi pasien keluar dari ruangan." Puluhan pasien kemudian dipindahkan ke tenda-tenda darurat yang didirikan di halaman rumah sakit, sementara lebih dari 300 gempa susulan membuat banyak warga memilih bertahan di luar ruangan semalaman.
Bencana ini kembali menggarisbawahi kerentanan Indonesia Timur terhadap gempa bumi. Wilayah Flores berada di Zona Subduksi Banda, area pertemuan lempeng yang aktif dan kerap memicu gempa dangkal destruktif. Pakar kebencanaan dari Universitas Gadjah Mada, yang dihubungi secara terpisah, menilai bahwa minimnya bangunan tahan gempa di daerah-daerah terpencil menjadi faktor utama tingginya jumlah korban dan kerusakan. "Standar konstruksi di banyak wilayah timur masih rendah, sementara kesadaran mitigasi belum merata," ujarnya.
Pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengerahkan tim reaksi cepat dan logistik ke lokasi. Namun, akses jalan yang rusak dan kondisi cuaca menjadi kendala dalam penyaluran bantuan. Sementara itu, warga yang rumahnya hancur masih mengungsi di titik-titik pengungsian, membutuhkan bantuan darurat seperti makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana mempercepat rekonstruksi dan memastikan pembangunan kembali dilakukan dengan standar tahan gempa. Akankah bencana ini menjadi momentum untuk memperkuat infrastruktur kebencanaan di kawasan timur Indonesia, atau justru hanya menjadi catatan duka yang kembali terulang?



