Nelayan Cornwall Uji 'Orang-orangan Sawah' Apung untuk Selamatkan Burung Laut dari Jaring
Baca dalam 60 detik
- Perangkat pengusir sederhana seperti layang-layang berbentuk burung dan pelampung bermata besar terbukti menurunkan angka tangkapan sampingan burung laut hingga dua pertiga.
- Uji coba dua tahun yang melibatkan sepuluh nelayan Cornwall dan peneliti University of Exeter menunjukkan penurunan risiko terjerat jaring insang sebesar 59% dengan pelampung dan 71% dengan layang-layang.
- Temuan ini membuka jalan penerapan luas di Eropa, dengan implikasi bagi kebijakan perikanan berkelanjutan dan perlindungan spesies rentan seperti razorbill dan guillemot.

Setiap tahun, sekitar 95.000 burung penyelam—termasuk razorbill dan guillemot—terperangkap dan tenggelam di jaring insang di perairan Eropa. Namun, sebuah studi dua tahun yang melibatkan nelayan Cornwall dan ilmuwan dari University of Exeter menemukan bahwa alat pengusir sederhana dapat memangkas angka tersebut hingga dua pertiga.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Conservation Letters ini menguji dua perangkat: looming-eyes buoy (LEB) atau pelampung bermata besar yang kepalanya berputar, serta layang-layang scarybird yang tersedia secara komersial. Sepuluh nelayan Cornwall bersama Fishtek Marine, pembuat LEB, memasang kamera di kapal untuk memantau perilaku burung laut. Hasilnya, peluang burung terjerat jaring insang turun 59% dengan LEB dan 71% dengan layang-layang.
Menurut Tom Horton, penulis utama riset dari University of Exeter, temuan ini merupakan bukti terkuat bahwa pengusir praktis dapat mengurangi tangkapan sampingan burung laut secara signifikan. "Dengan mengidentifikasi kapan dan di mana risiko tertinggi, kami memiliki peluang jelas untuk menargetkan upaya konservasi," ujarnya.
Yann Rouxel, manajer program tangkapan sampingan di RSPB, menambahkan bahwa setelah lebih dari satu dekade riset, implementasi dunia nyata dari solusi ini merupakan tonggak penting. "Kinerja LEB dan layang-layang ini tidak menghambat nelayan jaring insang saat melaut," katanya.
Bagi Indonesia, yang memiliki perairan kaya dengan burung laut dan praktik perikanan jaring insang yang luas, pendekatan serupa berpotensi diadaptasi. Negara ini adalah rumah bagi spesies rentan seperti burung laut Christmas Island dan berbagai jenis camar serta dara-laut. Uji coba lokal dengan modifikasi alat pengusir—mempertimbangkan karakteristik spesies dan pola migrasi—dapat menjadi langkah proaktif untuk menyeimbangkan konservasi dan mata pencaharian nelayan.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat teknologi sederhana ini diadopsi dalam kebijakan perikanan global. Jika berhasil diskalakan, bukan tidak mungkin angka 95.000 kematian burung per tahun dapat ditekan drastis, sekaligus menjaga keberlanjutan industri jaring insang yang menjadi tumpuan banyak komunitas pesisir.



