Janette Manrara Menangis Sepekan Usai Gagal Dapat Posisi Host Strictly Come Dancing
Baca dalam 60 detik
- Janette Manrara mengaku hancur setelah kalah dalam seleksi posisi pembawa acara utama Strictly Come Dancing.
- Meski memiliki rekam jejak delapan tahun sebagai penari profesional dan lima tahun memandu It Takes Two, ia tetap tersisih oleh Emma Willis, Josh Widdicombe, dan Johannes Radebe.
- Ia kini memetik pelajaran berharga dari kegagalan tersebut dan yakin akan ada peluang lain di industri televisi.

Janette Manrara, pembawa acara dan penari profesional asal Inggris, mengungkapkan kekecewaan mendalam setelah namanya tidak dipilih untuk mengisi kursi presenter utama Strictly Come Dancing. Perempuan 42 tahun itu mengaku menangis selama sepekan begitu mengetahui posisi yang ia idamkan jatuh ke tangan orang lain.
Kekecewaan itu muncul setelah ia menjalani serangkaian uji kimia dengan para kandidat lain. Dalam wawancara di podcast Great Company yang dipandu Jamie Laing, Janette menuturkan bahwa ia sempat diberi tahu tampil memuaskan dalam uji tersebut. Keyakinan itu membuatnya merasa memiliki peluang besar, terutama karena rekam jejaknya yang panjang di jagat Strictly.
Namun, harapan tersebut pupus ketika manajemen acara memilih Emma Willis, Josh Widdicombe, dan Johannes Radebe sebagai pengganti Tess Daly dan Claudia Winkleman. "Saya pulang dan itu benar-benar pil pahit. Saya menangis selama sepekan. Saya tidak akan berbohong. Saya hancur," kenangnya.
Janette menilai dirinya sebagai kandidat kuat karena telah menjalani berbagai peran di ekosistem Strictly. Ia pernah tampil sebagai penari, lalu beralih menjadi host It Takes Two, dan juga memandu tur live selama lima tahun. Dalam tur tersebut, ia bahkan berperan ganda sebagai Tess dan Claudia di hadapan para juri serta pasangan penari.
"Kalau dilihat di atas kertas, semua potongan puzzle sudah ada. Wajar jika saya berpikir punya kesempatan," ujarnya. Meski demikian, ia sadar bahwa persaingan sangat ketat. Nama-nama besar seperti Emma Willis, Rylan Clark, dan Zoe Ball turut mengikuti uji kimia yang sama.
"Yang saya ambil dari pengalaman ini bukanlah kegagalan mendapatkan pekerjaan, melainkan kesadaran bahwa saya telah melakukan pekerjaan yang sangat baik selama tujuh tahun terakhir dalam mengasah kemampuan membawakan acara dan memahami industri televisi. Pekerjaan lain akan datang."
Bagi Janette, pahitnya penolakan tidak lantas membuatnya menyesali perjalanan karier. Ia justru merasa bangga karena bisa bersaing di ruang yang sama dengan tokoh-tokoh papan atas. Ia menyebut proses tersebut sebagai bentuk pengakuan tidak langsung atas kapasitasnya sebagai presenter.
Kegagalan ini juga menyoroti sisi lain industri hiburan: seleksi posisi puncak tidak selalu linier dengan loyalitas dan jam terbang. Di banyak ajang televisi global, keputusan akhir kerap mempertimbangkan dinamika internal, arah kreatif baru, hingga kebutuhan pasar. Hal serupa terjadi di Indonesia, di mana stasiun televisi kerap memilih wajah baru untuk program unggulan meski sosok lama dianggap mumpuni.
Bagi publik Indonesia, kisah Janette bisa menjadi cermin bahwa tekanan di balik layar industri hiburan tidak kalah keras dari yang tampak di depan kamera. Pembawa acara dituntut tidak hanya cakap berbicara, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan selera penonton dan strategi manajemen.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi soal siapa yang gagal, melainkan bagaimana seorang profesional menyikapi penolakan sebagai bahan bakar untuk bangkit. Janette telah memilih untuk tidak larut. Ia percaya, selama keterampilan terus diasah, pintu berikutnya pasti terbuka. Apakah industri televisi akan memberi ruang yang lebih besar bagi talenta yang telah teruji seperti dirinya?



