Penampilan Terakhir Hayden Panettiere: Gemetar dan Bicara Tersendat di Acara Buku, Tiga Bulan Sebelum Meninggal
Baca dalam 60 detik
- Aktris Hayden Panettiere tampak emosional dan bicara melambat pada acara peluncuran memoarnya di Los Angeles, 26 Mei lalu, kurang dari tiga bulan sebelum ia ditemukan tak bernyawa.
- Penyebab kematiannya masih belum ditentukan, meski otopsi awal tidak menemukan tanda trauma; dugaan overdosis muncul setelah Narcan ditemukan di lokasi.
- Memoar 'This Is Me: A Reckoning' menjadi saksi perjuangan Panettiere melawan kecanduan dan depresi, sekaligus meninggalkan warisan bagi penggemar yang berjuang dengan kesehatan mental.

Bintang serial Heroes dan Nashville, Hayden Panettiere, menghadapi momen paling rentan dalam kariernya saat tampil di hadapan penggemar di Harmony Gold Theater, Los Angeles, pada 26 Mei lalu. Dalam acara diskusi dan penandatanganan memoarnya, This Is Me: A Reckoning, aktris berusia 36 tahun itu terlihat berusaha keras menguasai diri, tetapi beberapa saksi mata menuturkan bahwa ia kesulitan berbicara dengan lancar.
Penampilan tersebut menjadi yang terakhir bagi Panettiere. Pada 16 Agustus, ia ditemukan tak sadarkan diri di kediamannya di Greenville, Carolina Selatan, dan dinyatakan meninggal dunia setelah tim medis gagal menyadarkannya. Otopsi awal tidak menemukan tanda-tanda trauma, namun penyebab dan cara kematian masih menunggu penyelidikan lebih lanjut. Kehadiran Narcan, obat penawar overdosis opioid, di lokasi kejadian memunculkan spekulasi, meski belum ada konfirmasi resmi.
Seorang sumber yang hadir di acara buku tersebut mengungkapkan kepada Page Six bahwa ucapan Panettiere terdengar lambat dan tidak jelas di beberapa momen. Ia juga tampak sangat emosional saat membahas masa kecilnya di Hollywood, perjuangannya melawan kecanduan, depresi pascapersalinan, hingga kehilangan adiknya, Jansen Panettiere, yang meninggal pada 2023. Panitia acara bahkan berulang kali meminta penonton untuk tidak merekam jalannya diskusi, dan seorang petugas sempat menegur pengunjung yang mencoba mengabadikan momen dengan pengeras suara.
Kabar ini mengguncang industri hiburan, terutama karena Panettiere sempat menyatakan optimismenya tentang masa depan dalam wawancara dengan Jay Shetty beberapa pekan sebelum kepergiannya. "Saya akhirnya merasa telah melepaskan semua kegelapan dan negativitas ini," ujarnya saat itu. Namun, di balik senyumnya, tekanan yang ia rasakan tampak nyata. Sumber kedua menyebutkan bahwa Panettiere kerap merasa lelah dan cemas, serta sesekali mengonsumsi obat untuk mengatasi kecemasan yang dapat memengaruhi bicaranya.
Memoar This Is Me: A Reckoning yang menjadi bestseller New York Times dan USA Today itu mengupas tuntas perjalanan hidupnya, termasuk krisis identitas yang ia alami sejak usia 12 tahun. "Saya ingat persis di mana saya berdiri, di kamar tidur saya," kenangnya. Ia juga menyebut pengalaman audisi masa kecil sebagai "pengalaman paling brutal", dengan deretan orang yang menghakimi. Melalui buku ini, Panettiere ingin meninggalkan pesan harapan bagi mereka yang berjuang melawan masalah kesehatan mental. "Saya berharap bisa meninggalkan dunia ini menjadi tempat yang lebih baik daripada saat saya menemukannya," tuturnya.
Bagi penggemar di Indonesia, kisah Panettiere menjadi pengingat bahwa tekanan mental tidak mengenal status selebritas. Kesedihan yang ia alami, mulai dari perpisahan dengan putrinya, Kaya, hingga beban pekerjaan yang menumpuk, adalah realitas yang juga dihadapi banyak orang. Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di Tanah Air, kepergiannya menegaskan bahwa dukungan dan pemahaman terhadap mereka yang berjuang harus terus diperkuat.
Hingga kini, penyelidikan atas kematian Panettiere masih berlangsung. Pertanyaan yang menggantung: apakah ada tanda-tanda yang terlewat, atau justru ada hal yang sengaja disembunyikan? Yang jelas, warisan Panettiere melalui memoarnya akan terus menginspirasi banyak orang untuk berani berbicara tentang perjuangan mereka, dan mungkin, mencegah tragedi serupa terjadi lagi.



