Hayden Panettiere Meninggal di Usia 36: Polisi Selidiki, Tak Ada Tanda Kekerasan
Baca dalam 60 detik
- Aktris Heroes, Hayden Panettiere, ditemukan tak sadarkan diri di Greenville, Carolina Selatan, dan dinyatakan meninggal di lokasi pada Minggu sore.
- Penyelidikan awal kepolisian belum menemukan indikasi tindak kriminal, dengan panggilan darurat dilakukan oleh seorang kenalan.
- Kepergiannya menyusul perilisan memoar yang mengungkap perjuangannya melawan depresi pascapersalinan, alkoholisme, dan kekerasan domestik.

Dunia hiburan Hollywood kembali berduka. Hayden Panettiere, aktris yang dikenal luas lewat serial Heroes dan Nashville, ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di kediamannya di Greenville, Carolina Selatan, pada Minggu (16/8) siang waktu setempat. Petugas medis yang tiba di lokasi berusaha memberikan pertolongan, namun nyawa perempuan 36 tahun itu tak tertolong. Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh sang ayah, Alan Panettiere, melalui pernyataan resmi yang dirilis beberapa jam setelah kejadian.
Kepolisian Greenville bersama kantor koroner setempat kini tengah menyelidiki penyebab kematian tersebut. Dalam keterangan tertulisnya, polisi menyebut panggilan darurat 911 diterima sekitar pukul 13.50 waktu setempat dari seorang kenalan Panettiere. Setibanya di lokasi, tim medis langsung melakukan tindakan resusitasi, tetapi upaya itu gagal. Meski begitu, hasil penyelidikan awal belum menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan atau unsur mencurigakan lainnya.
Perwakilan Panettiere, Kasey Kitchen, membenarkan bahwa investigasi masih berjalan dan detail lebih lanjut akan diumumkan dalam waktu dekat. "Ada penyelidikan yang sedang berlangsung. Kami akan tahu lebih banyak besok," ujarnya kepada NBC News. Sementara itu, sang ayah dalam pernyataannya mengenang putrinya sebagai "cahaya yang luar biasa dan kekuatan alam" yang membawa kebahagiaan bagi banyak orang, baik yang mengenalnya secara pribadi maupun yang menikmati aktingnya di layar kaca.
Kepergian Panettiere mengejutkan banyak pihak, terutama karena ia baru saja menyelesaikan memoar yang sangat jujur tentang hidupnya. Dalam buku This Is Me: A Reckoning, ia mengungkapkan perjuangannya melawan depresi pascapersalinan yang tidak terdiagnosis setelah kelahiran putrinya, Kaya, serta kecanduan alkohol dan kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya. Pengakuan ini menjadi sorotan publik karena ia berbicara terbuka tentang sisi gelap kehidupannya yang jarang diketahui penggemar.
Dalam wawancara dengan Us Weekly beberapa waktu lalu, Panettiere mengaku ingin jujur secara brutal dalam memoarnya. Ia bercerita tentang trauma masa lalu, termasuk kekerasan yang dialaminya dari orang-orang yang seharusnya melindunginya. Ia juga mengungkapkan konsekuensi yang ia hadapi setelah berbicara terbuka tentang depresi pascapersalinan di acara Live With Kelly and Michael pada 2015. Saat itu, ia mengaku sempat mendapat tekanan dari salah satu brand yang bekerja sama dengannya, yang mengancam akan memutus kontrak karena dianggap tidak sesuai dengan citra yang diinginkan.
Kisah Panettiere menjadi pengingat akan pentingnya kesehatan mental, terutama di kalangan selebritas yang kerap menghadapi tekanan publik. Di Indonesia, isu depresi pascapersalinan juga masih sering dianggap tabu, padahal data menunjukkan banyak ibu yang mengalaminya tanpa mendapat penanganan yang memadai. Kepergian Panettiere bisa menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya dukungan psikologis bagi para ibu dan mereka yang berjuang melawan kecanduan.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kematian Panettiere belum diumumkan. Pihak keluarga meminta privasi dan waktu untuk berduka. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah investigasi akan mengungkap faktor-faktor yang berkontribusi pada tragedi ini, dan bagaimana hal itu akan memengaruhi diskusi publik tentang kesehatan mental di industri hiburan global.



