Pascagempa Manggarai, Pertamina Turunkan Bantuan untuk 1.000 Warga: Logistik, Energi, hingga Tenda Darurat
Baca dalam 60 detik
- Pertamina Patra Niaga mengirimkan paket sembako, air mineral, dan perlengkapan bayi bagi seribu jiwa terdampak gempa di Manggarai, NTT.
- Selain kebutuhan pokok, BUMN energi itu juga menyuplai 1 kiloliter Pertamina Dex untuk memperlancar operasional tanggap darurat di lokasi bencana.
- Langkah korporasi ini dinilai sebagai bagian dari strategi menjaga reputasi sekaligus memastikan ketahanan energi masyarakat di tengah krisis.

PT Pertamina Patra Niaga mengerahkan bantuan kemanusiaan bagi sekitar seribu warga yang rumahnya rusak akibat gempa bumi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Bantuan tersebut mencakup logistik pangan, kebutuhan energi, serta pendirian tenda darurat untuk memulihkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang masih berada dalam masa tanggap bencana.
Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan wujud komitmen perusahaan untuk hadir di tengah kesulitan. "Kami berharap penyaluran bantuan logistik, energi, dan tenda darurat dapat meringankan beban warga serta mempercepat proses pemulihan pascabencana," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu. Langkah ini sekaligus menegaskan peran BUMN di luar fungsi komersialnya, yakni sebagai bagian dari jaring pengaman sosial saat bencana melanda.
Rincian bantuan yang disalurkan meliputi 340 kilogram beras, 90 dus air mineral, 30 dus mi instan, 300 potong roti, paket sembako, perlengkapan bayi, serta alat kebersihan dan kesehatan. Pertamina Patra Niaga juga mengalokasikan 1 kiloliter Pertamina Dex untuk mendukung mobilisasi kendaraan operasional di wilayah terdampak. Kehadiran bahan bakar minyak (BBM) jenis diesel ini menjadi krusial, mengingat akses logistik di daerah pegunungan Manggarai kerap terhambat pascagempa.
Selain kebutuhan dasar, perusahaan pelat merah itu turut mendirikan tenda darurat sebagai tempat berlindung sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Menurut Kitty, tenda tersebut dirancang untuk memberikan rasa aman dan nyaman selama masa pemulihan. Salah satu penerima bantuan, Rosalia Ojam, menyampaikan apresiasinya. "Kami sangat berterima kasih, bantuan ini sangat berarti di tengah kondisi yang masih sulit. Kami bisa beristirahat di tenda dan memenuhi kebutuhan sehari-hari," katanya.
Langkah Pertamina ini tidak berdiri sendiri. Sebelumnya, anak usaha Pertamina tersebut telah mengalihkan pasokan BBM ke Flores dengan mengirim 16 mobil tangki dari Bima, Nusa Tenggara Barat, serta mempercepat operasional Terminal BBM Reo pascagempa. Upaya ini menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kesiapan korporasi dalam menjaga rantai pasok energi di daerah terpencil.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang berada di kawasan rawan gempa seperti NTT, respons cepat BUMN semacam ini menjadi barometer kesiapan nasional dalam menghadapi bencana. Namun, yang patut dicermati adalah keberlanjutan bantuan tersebut. Apakah pendistribusian logistik akan diikuti dengan pemulihan infrastruktur jangka panjang, atau justru berhenti setelah sorotan media meredup? Pengalaman bencana sebelumnya menunjukkan bahwa fase rehabilitasi seringkali lebih menantang daripada tanggap darurat.
Ke depan, Pertamina dan pemangku kepentingan lain perlu memastikan bahwa bantuan tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga terintegrasi dengan rencana mitigasi bencana daerah. Pertanyaannya, akankah kolaborasi korporasi-pemerintah ini menjadi model tetap dalam penanggulangan bencana di Indonesia, atau hanya respons sesaat? Waktu yang akan menjawab, tetapi yang jelas, kehadiran BUMN di garis depan bencana memberikan secercah harapan bagi warga yang masih berjuang memulihkan hidupnya.



