Duka Kembali Menyelimuti Manx Grand Prix: Pembalap Kedua Tewas dalam Kualifikasi
Baca dalam 60 detik
- Pembalap asal Isle of Man, Sam Naughton, meninggal dunia setelah kecelakaan di Doran's Bend pada sesi kualifikasi Manx Grand Prix, menjadikannya korban kedua dalam dua hari.
- Insiden ini menyoroti tingginya risiko balap jalan raya, terutama di sirkuit Mountain Course yang legendaris namun mematikan, dan memicu kembali perdebatan tentang keselamatan pembalap.
- Penyelenggara memastikan kualifikasi tetap berlanjut, namun kecelakaan beruntun ini memunculkan pertanyaan tentang evaluasi prosedur keselamatan dan dampaknya bagi masa depan ajang tersebut.

Manx Grand Prix kembali berduka. Sam Naughton, pembalap berusia 37 tahun asal Castletown, tewas dalam kecelakaan di tikungan Doran's Bend, bagian barat sirkuit Mountain Course, Rabu sore (13/8/2025). Ini adalah korban kedua dalam dua hari berturut-turut pada sesi kualifikasi ajang balap jalan raya legendaris tersebut, setelah sehari sebelumnya Mauro Poncini kehilangan nyawa di Ramsey.
Naughton sejatinya bukan nama baru di dunia balap jalan raya. Sejak 2020, ia rutin tampil di berbagai event road racing, dan tahun ini baru kedua kalinya mengikuti Manx Grand Prix. Debutnya di sirkuit sepanjang 37,7 mil (61 kilometer) itu terjadi pada 2025. Namun, takdir berkata lain: ia menjadi bagian dari statistik kelam ajang yang dikenal sebagai salah satu balapan paling berbahaya di dunia.
Kronologi kecelakaan yang menimpa Naughton belum dirilis secara detail oleh penyelenggara. Namun, Manx Grand Prix Races dalam pernyataan resminya menyampaikan duka mendalam. Mereka juga menyebutkan bahwa Naughton meninggalkan istri, Charlotte, serta empat anak: Bonnie, Liam, Jesse, dan Parker. "Manx Grand Prix Races menyampaikan simpati terdalam kepada istri, anak-anak, keluarga, dan teman-temannya," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Dua kematian dalam dua hari ini sontak memicu kekhawatiran akan keselamatan balap jalan raya. Sirkuit Mountain Course sendiri memang terkenal ekstrem: jalan umum yang dipakai balapan, dengan tikungan cepat, dinding batu, dan pagar yang minim ruang aman. Kecepatan rata-rata pembalap bisa menembus 200 km/jam, dan setiap kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Data historis mencatat, sejak 1911, lebih dari 270 pembalap tewas di sirkuit ini, termasuk pada ajang Isle of Man TT yang lebih bergengsi.
Bagi Indonesia, kabar ini mungkin terasa jauh, tetapi ada pelajaran yang relevan. Balap jalan raya memang tidak populer di Tanah Air, tetapi budaya balap liar dan ajang seperti drag race di jalan umum masih marak. Insiden di Isle of Man ini menjadi pengingat bahwa kecepatan dan adrenalin tanpa pengaman yang memadai adalah kombinasi mematikan. Regulasi dan pengawasan ketat, seperti yang diterapkan di sirkuit resmi, adalah harga yang harus dibayar untuk menjaga keselamatan.
Penyelenggara memastikan sesi kualifikasi yang dijadwalkan Kamis sore tetap berlanjut. Keputusan ini tentu menuai pro-kontra. Di satu sisi, balapan adalah profesi dan passion bagi para pembalap; mereka tahu risikonya. Di sisi lain, dua kematian dalam dua hari adalah sinyal bahwa evaluasi menyeluruh terhadap prosedur keselamatan mungkin diperlukan. Apakah penyelenggara akan meninjau ulang titik-titik rawan seperti Doran's Bend atau Cruickshanks? Atau justru balapan akan terus berjalan demi tradisi?
Manx Grand Prix memang memiliki tempat khusus di hati penggemar balap jalan raya. Berbeda dengan Isle of Man TT yang lebih glamor, MGP kerap menjadi ajang bagi pembalap amatir dan semi-profesional untuk membuktikan diri. Namun, tradisi dan gengsi tidak boleh menutup mata pada keselamatan. Setiap nyawa yang melayang adalah harga yang terlalu mahal untuk sekadar hiburan. Ke depan, apakah ajang ini akan bertahan dengan formatnya yang ekstrem, atau justru mulai mempertimbangkan pembatasan kecepatan dan peningkatan pengaman? Itu pertanyaan yang harus dijawab oleh para pemangku kepentingan balap jalan raya, tidak hanya di Isle of Man, tetapi juga di seluruh dunia.



