2 Juta Warga Inggris Abaikan Risiko Banjir, Peringatan Cuaca Ekstrem Mengancam
Baca dalam 60 detik
- Environment Agency mengungkap lebih dari dua juta penduduk Inggris tidak menyadari properti mereka rawan banjir.
- Kombinasi pola cuaca global dan El Niño meningkatkan peluang cuaca basah dan berangin selama tiga bulan ke depan.
- Pemerintah mendesak warga memeriksa status risiko dan menyusun rencana darurat sebelum musim hujan memuncak.

Lebih dari dua juta orang di Inggris tidak menyadari bahwa rumah mereka berada di zona rawan banjir, menurut peringatan yang dikeluarkan Environment Agency (EA) pada Rabu (30/9). Badan tersebut mencatat bahwa dari enam juta properti yang teridentifikasi berisiko, sepertiganya dihuni oleh orang-orang yang tidak menyadari ancaman tersebut. Peringatan ini muncul saat Inggris bersiap menghadapi awal musim dingin yang diperkirakan basah dan berangin.
EA menilai kombinasi pola cuaca skala besar dan dampak halus dari El Niño yang menguat membuat tiga bulan ke depan lebih mungkin mengalami curah hujan di atas normal. Direktur manajemen risiko banjir dan pesisir EA, Caroline Douglass, menegaskan pentingnya kesadaran publik. "Kami tahu ada enam juta properti berisiko, dan sepertiga penghuninya tidak merasa berisiko," ujarnya. Ia mendesak warga memeriksa status properti di situs gov.uk, mendaftar peringatan banjir, dan menyusun rencana evakuasi.
Met Office memperkirakan awal musim dingin tahun ini lebih basah, berangin, dan lebih hangat dari biasanya. Kepala meteorolog Will Lang menyatakan bahwa El Niño turut meningkatkan peluang cuaca ekstrem, meski pengaruhnya hanya salah satu faktor. "Ini hanya pergeseran kecil dalam probabilitas cuaca lebih basah dan berangin," kata Lang. Namun, ia memperingatkan bahwa kondisi tersebut tetap memperbesar potensi banjir.
"Kami ingin publik memastikan mereka tahu risikonya, jadi periksa di gov.uk. Kami perlu mereka mendaftar peringatan banjir ... dan jika berisiko, memiliki rencana banjir." — Caroline Douglass, Environment Agency
Meski ancaman banjir meningkat, Met Office mencatat bahwa kekeringan di beberapa wilayah Inggris akan bertahan hingga level reservoir kembali normal. Dibutuhkan curah hujan di atas rata-rata sepanjang musim dingin untuk mengakhiri defisit air. Situasi ini menciptakan paradoks: di satu sisi risiko banjir meningkat, di sisi lain pasokan air masih belum pulih dari musim panas yang kering dan panas ekstrem.
Bagi Indonesia, peringatan ini menjadi cermin penting. Sebagai negara tropis dengan curah hujan tinggi, Indonesia kerap menghadapi banjir musiman, terutama di kawasan padat penduduk seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Kesadaran masyarakat terhadap risiko banjir di Indonesia juga masih rendah. Banyak warga di bantaran sungai dan pesisir yang belum memiliki rencana evakuasi atau sistem peringatan dini yang memadai. Pelajaran dari Inggris menunjukkan bahwa literasi risiko bencana harus menjadi prioritas kebijakan, bukan sekadar respons darurat.
Pemerintah Indonesia dapat mengadopsi pendekatan proaktif seperti yang dilakukan EA: menyediakan platform digital untuk memeriksa risiko banjir, mendorong pendaftaran peringatan dini, dan mengintegrasikan data cuaca dengan perencanaan tata ruang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memiliki sistem peringatan dini, tetapi jangkauannya belum optimal. Kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas, dan sektor swasta diperlukan untuk memastikan informasi sampai ke rumah tangga paling rentan.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Inggris siap menghadapi musim dingin yang basah, tetapi juga seberapa cepat negara-negara lain—termasuk Indonesia—belajar dari pola serupa. Perubahan iklim membuat cuaca ekstrem semakin sulit diprediksi. Tanpa kesadaran dan kesiapan yang merata, banjir akan terus menelan korban dan kerugian ekonomi yang seharusnya bisa dicegah.



