BirdLife Australia 2026: Foto Penguin Raja hingga Kakatua Pencuri Gula yang Mencuri Perhatian
Baca dalam 60 detik
- Kompetisi fotografi BirdLife Australia 2026 memenangkan foto penguin raja berenang di bawah permukaan laut sebagai juara umum.
- Karya-karya yang masuk daftar pendek menyoroti interaksi unik satwa dengan lingkungan, termasuk kakatua yang mencuri gula dan turkey yang mengais sampah.
- Dana dari kompetisi ini digunakan untuk mendukung program konservasi burung di Australia, memberikan dampak nyata bagi pelestarian satwa.

Kompetisi fotografi BirdLife Australia 2026 telah mengumumkan para pemenangnya, dengan foto sekelompok penguin raja yang meluncur di bawah permukaan laut dekat Macquarie Island dinobatkan sebagai juara umum. Karya Lachlan Hall tersebut berhasil mengalahkan ratusan entri lain dan menegaskan bahwa momen bawah air dapat menjadi daya tarik tersendiri dalam dunia fotografi satwa.
Kompetisi ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan fotografer. BirdLife Australia, organisasi nirlaba yang fokus pada konservasi burung, mengalokasikan seluruh dana yang terkumpul dari pendaftaran untuk mendukung program-program pelestarian. Tahun ini, sejumlah kategori dilombakan, mulai dari potret burung, perilaku burung, burung halaman belakang, hingga tema khusus finch Australia. Para pemenang dan finalis menampilkan beragam spesies, dari lyrebird yang sedang melakukan tarian ritual hingga kakatua gang-gang yang bermain dengan keran taman.
Dalam kategori perilaku burung, foto Elmar Akhmetov yang berjudul "It takes two to tango" berhasil menjadi juara dan runner-up umum. Foto tersebut menangkap momen langka superb lyrebird jantan yang menutupi betina dengan ekornya saat melakukan tarian ritual. Menurut Akhmetov, dokumentasi fotografi untuk perilaku kopulasi lyrebird masih sangat jarang, sehingga karyanya dianggap istimewa. Sementara itu, kategori dampak manusia dimenangkan oleh Kylie Facey melalui foto crimson rosella yang tengah membuka paket gula di sebuah kafe di O'Reilly's. Facey mengaku momen itu lucu namun mengganggu, karena mengingatkan bahaya memberi makan satwa liar yang dapat membuat burung terlalu bergantung pada manusia.
"Saya ingin menangkap penguin raja di tempat alam merancang mereka untuk berada—terbang di laut, cepat dan anggun," ujar Lachlan Hall, pemenang utama, seperti dikutip dari keterangan resminya.
Foto-foto lain yang masuk daftar pendek juga menawarkan cerita menarik. Ada caspian tern yang berkamuflase di pasir setelah badai, pelikan yang berusaha merebut ikan dari kormoran, serta burung finch zebra yang bertengger di dahan. Kategori remaja dimenangkan oleh Micah Boyce dengan potret tawny frogmouth yang sedang bersembunyi di pohon. Kompetisi ini juga menampilkan foto royal penguin yang sedang saling merawat di Macquarie Island, serta brush turkey yang mencari makan di tempat sampah.
Bagi Indonesia, ajang seperti ini bisa menjadi inspirasi untuk mengangkat kekayaan fauna endemik melalui lensa. Indonesia memiliki lebih dari 1.700 spesies burung, banyak di antaranya terancam punah. Kompetisi fotografi serupa dapat menjadi alat kampanye konservasi yang efektif, sekaligus mendorong pariwisata berbasis alam. Namun, tantangan utama adalah memastikan bahwa kegiatan fotografi tidak mengganggu habitat dan perilaku alami satwa. Di Australia, kompetisi ini justru menekankan pentingnya etika fotografi satwa liar, seperti tidak memberi makan atau mengganggu sarang.
Ke depan, BirdLife Australia berharap dapat memperluas jangkauan kompetisi dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga ekosistem. Dengan semakin populernya fotografi satwa, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana menyeimbangkan antara dokumentasi estetis dan tanggung jawab konservasi. Apakah Indonesia siap memiliki ajang serupa yang tidak hanya memamerkan keindahan, tetapi juga mendorong aksi nyata untuk melindungi burung-burung endemik?



