Polisi Singapura Selidiki Insiden Pria Lanjut Usia Didorong di Food Court: Pemicunya Sebuah Elusan di Kepala Bocah
Baca dalam 60 detik
- Seorang kakek berusia 70-an dilaporkan jatuh setelah didorong ayah bocah yang kesal karena kepalanya dielus di sebuah pusat jajanan Singapura.
- Keluarga kakek mengunggah rekaman CCTV dan meminta bantuan warganet untuk mengidentifikasi pelaku, sementara polisi telah menerima laporan dan melakukan penyelidikan.
- Peristiwa ini memicu perdebatan tentang sensitivitas sentuhan fisik pada anak dan batas toleransi orang tua di ruang publik.

Singapura, 16 Agustus 2025 โ Sebuah insiden di pusat jajanan Roxy Square, Singapura, menjadi sorotan setelah seorang pria lanjut usia didorong hingga jatuh. Pemicunya hanya karena ia menepuk kepala seorang bocah perempuan yang kebetulan lewat. Polisi telah menerima laporan dan kasus ini tengah diselidiki.
Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (15/8) dan terekam kamera pengawas. Dalam rekaman yang beredar, terlihat pria berusia 70-an itu berjalan pelan sambil berpegangan pada meja untuk menopang langkahnya. Saat melewati sebuah meja, ia sempat mengulurkan tangan dan menepuk kepala seorang anak perempuan yang duduk di dekatnya. Aksi singkat itu langsung memicu reaksi ayah sang anak yang merasa tidak terima.
Menurut keterangan keluarga pria lanjut usia yang diunggah melalui akun Facebook Bei-Ing Wanton Noodle, ayah bocah tersebut langsung menghampiri dan berkonfrontasi. Dalam rekaman CCTV, terlihat pria tua itu terdorong dan jatuh ke lantai. Keluarga yang berada di lokasi segera menolongnya. Awalnya, pria tua itu tidak ingin memperpanjang masalah. Pelaku kemudian duduk bersamanya, meminta maaf, dan menawarkan minuman. Namun, setelah kejadian, pria tua itu mengeluh sakit punggung, sehingga keluarga memutuskan untuk melaporkan ke polisi.
Keluarga melalui akun bisnis mi wanton tersebut mengunggah rekaman CCTV dan meminta bantuan warganet untuk mengidentifikasi pria yang mendorong tersebut. Mereka juga mengimbau siapa pun yang memiliki informasi untuk menghubungi otoritas. Dalam unggahan lain yang sempat muncul, ayah bocah tersebut sempat meminta maaf dan mengaku "terlalu protektif" terhadap anaknya. Namun, unggahan itu kemudian dihapus.
Insiden ini memicu perbincangan hangat di media sosial Singapura. Banyak warganet menilai reaksi ayah bocah itu berlebihan, mengingat pria tua tersebut tampak lemah dan tidak berniat jahat. Namun, sebagian lain memahami kekhawatiran orang tua terhadap sentuhan fisik pada anak, terutama di tengah meningkatnya kesadaran akan pelecehan anak. Di Indonesia, kasus serupa juga sering menjadi perdebatan, di mana norma budaya yang menganggap wajar mengelus kepala anak berbenturan dengan meningkatnya kewaspadaan orang tua modern.
Menurut pengamat sosial, insiden ini menyoroti pentingnya komunikasi dan kontrol diri dalam situasi yang berpotensi memicu konflik. "Orang tua memang wajar protektif, tetapi reaksi fisik yang berlebihan justru bisa membahayakan, terutama jika berhadapan dengan orang yang rentan seperti lansia," ujar seorang sosiolog dari Universitas Nasional Singapura yang enggan disebut namanya.
Hingga berita ini diturunkan, polisi masih menyelidiki kasus tersebut. Pihak keluarga berharap pelaku segera teridentifikasi dan bertanggung jawab. Pertanyaan yang mengemuka: akankah insiden ini menjadi pelajaran tentang pentingnya toleransi dan empati di ruang publik, atau justru memicu ketegangan sosial yang lebih besar?



