Pesawat FlyDubai Tujuan Israel Mendarat Darurat di Arab Saudi, Pilot Diduga Terlibat Perselisihan
Baca dalam 60 detik
- Penerbangan FlyDubai FZ 1073 dari Dubai ke Tel Aviv terpaksa mendarat darurat di Tabuk, Arab Saudi, setelah pilot diduga berselisih di kokpit.
- Insiden ini memicu kekhawatiran pembajakan hingga Israel mengerahkan jet tempur, meski situasi dinyatakan terkendali.
- Otoritas penerbangan dan maskapai masih menyelidiki penyebab perselisihan, sementara penumpang tetap berada di pesawat dikelilingi aparat Saudi.

Pesawat komersial FlyDubai rute Dubai–Tel Aviv terpaksa mendarat darurat di Tabuk, Arab Saudi, pada Rabu (30/9), setelah terjadi insiden di kokpit yang memicu kekhawatiran pembajakan. Israel sempat mengerahkan jet tempurnya sebelum memastikan situasi terkendali.
Menurut laporan media Israel yang mengutip pejabat keamanan, insiden tersebut bersumber dari perselisihan antara dua pilot. Seluruh penumpang dan awak dinyatakan selamat. Pesawat mendarat di Tabuk, pangkalan sipil dan militer di barat laut Arab Saudi.
Data pelacakan penerbangan publik menunjukkan pesawat Boeing 737 Max 8 itu mengirimkan sinyal darurat. Sekitar dua setengah jam setelah lepas landas dari Dubai, ketinggiannya turun drastis dari 33.000 kaki ke 17.000 kaki dalam satu menit, lalu berbelok tidak teratur di dekat perbatasan Yordania sebelum mendarat di Tabuk sekitar satu jam kemudian.
Seorang pejabat regional yang mengetahui insiden tersebut mengatakan pertengkaran terjadi di kokpit dan melibatkan para pilot. Penyebab pertengkaran belum jelas. Pejabat kedua membenarkan bahwa Israel mengerahkan jet tempur karena khawatir pesawat yang membawa puluhan warganya itu dibajak. Keduanya berbicara dengan syarat anonim karena penyelidikan masih berlangsung.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam beberapa hari terakhir memperingatkan adanya peningkatan ancaman keamanan yang tidak dirinci. Kantornya kemudian menyatakan situasi sudah terkendali dan Israel tengah berupaya memulangkan para penumpang.
"Tim kami bekerja sama erat dengan otoritas terkait. Pembaruan lebih lanjut akan diberikan setelah detail terkonfirmasi tersedia," ujar pihak FlyDubai.
Penumpang yang dihubungi Channel 12 Israel melalui telepon mengaku mendengar teriakan dari penumpang di bagian depan pesawat yang menyaksikan perselisihan. Mereka merasakan pesawat menukik tajam sebelum mendarat. Seluruh penumpang tetap berada di dalam pesawat dan dikelilingi aparat keamanan Saudi dalam jumlah besar.
Insiden ini menyoroti kerentanan penerbangan komersial di kawasan Timur Tengah yang sarat ketegangan geopolitik. Tabuk, yang memiliki fasilitas militer, menjadi lokasi pendaratan darurat yang jarang dipilih penerbangan sipil. Namun, kehadiran pangkalan militer di sana memungkinkan respons keamanan cepat.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya protokol keselamatan penerbangan, terutama pada rute-rute yang melintasi wilayah konflik. Maskapai nasional yang terbang ke Timur Tengah perlu memastikan prosedur darurat dan koordinasi lintas negara berjalan mulus. Selain itu, kasus ini dapat memengaruhi kepercayaan penumpang terhadap penerbangan di kawasan tersebut, meski secara umum penerbangan tetap aman.
Pendaratan darurat karena alasan personel memang jarang, tetapi bukan hal yang tak pernah terjadi. Pada 2022, dua pilot Air France diskors setelah bertengkar di kokpit dalam penerbangan Jenewa–Paris. Pesawat itu tidak dialihkan dan mendarat sesuai jadwal.
Hingga berita ini diturunkan, penyelidikan masih berjalan. Publik menunggu penjelasan resmi mengenai penyebab perselisihan dan langkah apa yang akan diambil otoritas penerbangan untuk mencegah terulangnya insiden serupa. Akankah maskapai memperketat prosedur kerja sama pilot, ataukah ini menjadi panggilan bagi regulator untuk mengevaluasi ulang standar keselamatan di kokpit?



