Es Laut Antartika Cetak Rekor Terendah Ketiga, Ilmuwan: Ini Bukan Masalah Masa Depan, Tapi Sekarang
Baca dalam 60 detik
- Puncak es laut musim dingin Antartika tahun ini hanya mencapai 17,59 juta km persegi, sekitar 1 juta km persegi di bawah rata-rata jangka panjang.
- Empat tahun terakhir menjadi periode dengan luas maksimum es laut terendah sejak pengamatan satelit dimulai pada 1979, menandakan perubahan sistemik.
- Dampak lanjutan diperkirakan terjadi pada musim panas mendatang, dengan risiko terhadap lapisan es, ekosistem krill, dan penguin emperor.

Luas maksimum es laut Antartika pada musim dingin 2026 tercatat sebagai yang terendah ketiga sejak pencatatan satelit dimulai pada 1979. Data National Snow and Ice Data Center (NSIDC) menunjukkan puncak es hanya mencapai 17,59 juta kilometer persegi pada 14 September, sekitar satu juta kilometer persegi di bawah rata-rata jangka panjang—setara dua kali luas Spanyol.
Yang lebih mengkhawatirkan, empat tahun terakhir secara berturut-turut menempati posisi terendah dalam catatan sejarah. Menurut Dr Ariaan Purich, pakar Samudra Selatan dari Monash University, fenomena ini bukan lagi anomali tunggal. "Ini bukan peristiwa sekali saja. Es laut tidak lagi menutupi luas samudra yang sama seperti dulu. Kita melihat musim dingin rendah berturut-turut, dan itu menunjukkan es laut berperilaku berbeda karena iklim kita telah menghangat," ujarnya. Ia menegaskan, "Ini bukan masalah masa depan. Ini masalah sekarang."
Penurunan es laut musim dingin tahun ini juga diwarnai sejumlah kejadian ekstrem. Pada Juni, Semenanjung Antartika dilanda gelombang panas dengan suhu 20°C di atas normal, sementara ilmuwan mengamati area laut terbuka seluas Prancis di tempat yang seharusnya tertutup es. Awal Agustus, saat es seharusnya masih bertambah, sebagian besar Laut Amundsen kehilangan tutupan es.
Faktor cuaca seperti El Niño turut berperan. Dr Phil Reid dari Biro Meteorologi Australia menjelaskan El Niño mengubah pergerakan sistem badai di sekitar Antartika, menyebabkan beberapa badai tertahan di satu tempat dan mengaduk es laut di bawahnya. Namun, ia menambahkan, "Bahkan tanpa El Niño, saya pikir kita akan tetap berada dalam posisi serupa... dan itu agak meresahkan. Atmosfer memang bisa berfluktuasi, tetapi pada akhirnya termodinamika yang menang. Jika air terlalu hangat, es laut tidak akan sebanyak biasanya."
Meski kehilangan es laut tidak secara langsung menaikkan permukaan air laut karena es sudah mengapung, dampaknya terhadap lapisan es (ice shelf) di daratan bisa serius. Lapisan es berfungsi menahan gletser dan lapisan es raksasa Antartika yang, jika mencair ke laut, berpotensi menaikkan permukaan laut global hingga beberapa meter. Es laut yang tidak stabil juga mengancam habitat alga dan krill, yang menjadi fondasi rantai makanan Antartika, serta spesies seperti penguin emperor yang bergantung pada es untuk berkembang biak.
"Kita bisa menghadapi musim panas rendah lagi, dan di situlah kekhawatiran sesungguhnya muncul. Seberapa sensitif sistem iklim global terhadap hilangnya es laut? Kami masih berupaya menghitungnya. Namun sistem ini berubah lebih cepat daripada pemahaman kita," kata Dr Will Hobbs, ahli es laut Antartika dari University of Tasmania.
Bagi Indonesia, perubahan di Antartika bukan sekadar berita jauh. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang di dunia, kenaikan permukaan laut akibat instabilitas lapisan es Antartika merupakan ancaman nyata bagi kota-kota pesisir seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Selain itu, gangguan pada Samudra Selatan dapat memengaruhi pola arus laut global—termasuk arus lintas Indonesia—yang berdampak pada cuaca ekstrem, sektor perikanan, dan ketahanan pangan nasional. Indonesia juga memiliki kepentingan dalam riset kutub melalui keanggotaan dalam Scientific Committee on Antarctic Research (SCAR), yang datanya dapat memperkuat mitigasi bencana hidrometeorologi.
Dengan es laut yang terus menyusut lebih cepat dari perkiraan, pertanyaan besar kini mengemuka: apakah komunitas global akan mempercepat aksi iklim, atau justru membiarkan Antartika menjadi saksi bisu dari perubahan yang tak terkendali?



