Tokyo Dilanda Hujan 35 Hari Beruntun, Rekor Terpanjang Sejak 1886
Baca dalam 60 detik
- Ibu kota Jepang mencatat 35 hari tanpa henti diguyur hujan, memecahkan rekor sebelumnya 33 hari pada 2019.
- Curah hujan mencapai 629 mm, hampir tiga kali lipat normal, memicu lonjakan harga sayuran dan keluhan kesehatan mental.
- Kombinasi perubahan iklim dan El Niño memperpanjang front hujan musim gugur, dengan ancaman topan ke-26 mendekat.

Tokyo mencatat rekor 35 hari berturut-turut hujan tanpa jeda, memecahkan rekor sebelumnya 33 hari pada 2019, menurut Badan Meteorologi Jepang (JMA). Curah hujan di pusat kota mencapai 629 mm sepanjang September hingga Senin (29/9), hampir tiga kali lipat rata-rata normal, sementara sinar matahari hanya bersinar 45,8 jam—terendah kedua sepanjang sejarah—dan 14 hari tanpa matahari sama sekali.
Fenomena ini dipicu oleh kombinasi perubahan iklim dan El Niño yang memperpanjang front tekanan tinggi di Samudra Pasifik. "Front hujan musim gugur bertahan lebih lama dari biasanya," ujar Masayuki Kyoda, pejabat JMA, kepada AFP. Meski sulit menghubungkan secara langsung, JMA dalam laporan terbaru menyatakan pemanasan global memengaruhi pola cuaca Jepang jangka panjang, termasuk meningkatnya presipitasi.
Dampaknya terasa luas. Harga sayuran, terutama sayuran berdaun, melonjak akibat kerusakan panen di wilayah pertanian sekitar Tokyo. Seorang pekerja supermarket melaporkan harga selada kepala lebih dari dua kali lipat menjadi ¥450 (sekitar Rp48.000). Warga juga mengeluh kesulitan mengeringkan pakaian hingga harus pergi ke laundrette. Di media sosial, tagar "rain fatigue" (kelelahan hujan) ramai dikeluhkan. "Hujan tanpa akhir ini pasti penyebab suasana hatiku buruk," tulis seorang pengguna X. Yojiro Noda, vokalis band Radwimps, menulis ke 1,1 juta pengikutnya: "Tokyo, hujan seumur hidup."
Dokter Hiromichi Ito dari sebuah klinik di Tokyo mengatakan kepada Sankei Shimbun bahwa hujan berkepanjangan, tekanan udara rendah, dan kelembapan tinggi dapat memicu sakit kepala, pusing, dan gejala lainnya. Keluhan kesehatan mental juga meningkat seiring minimnya sinar matahari yang berdampak pada produksi serotonin.
Sebelumnya, musim hujan Tokyo biasanya terjadi pada Juni, tetapi tahun ini hujan deras turun sepanjang musim panas. Awal bulan ini, Topan Dujuan menyebabkan banjir dan tanah longsor di Prefektur Chiba, menewaskan delapan orang dan menghancurkan puluhan rumah. Kini, topan ke-26 musim ini bergerak ke arah timur laut dan berpotensi menyapu wilayah Kanto, tempat Tokyo berada.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa anomali iklim tidak mengenal batas negara. El Niño yang sama turut memengaruhi pola hujan di Indonesia, berpotensi memperpanjang musim kemarau di beberapa daerah dan mengancam ketahanan pangan. Harga sayuran di pasar domestik bisa tertekan jika gangguan pasokan global berlanjut, sementara sektor pariwisata dan pertanian perlu bersiap menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering.
"Ini bukan sekadar hujan biasa. Ini sinyal bahwa iklim sedang berubah, dan kita semua harus beradaptasi," ujar seorang analis lingkungan dari Universitas Tokyo, seperti dikutip media lokal.
Dengan El Niño yang diprediksi menguat hingga akhir tahun, Tokyo dan wilayah lain di Jepang kemungkinan masih akan diguyur hujan. Pertanyaannya, apakah kota-kota besar dunia, termasuk Jakarta, siap menghadapi pola cuaca yang semakin tidak menentu?



