Rekor Dunia Baru di Race Walk: Spanyol dan Italia Ukir Sejarah di Birmingham
Baca dalam 60 detik
- Maria Perez dan Sofia Fiorini mencatatkan rekor dunia perdana untuk nomor half-marathon dan marathon race walk di Kejuaraan Atletik Eropa.
- World Athletics menetapkan standar waktu ketat untuk kategori baru ini, dan kedua atlet berhasil melampauinya dengan performa luar biasa.
- Prestasi ini menandai era baru dalam race walk, sekaligus menjadi sorotan bagi perkembangan atletik di Asia, termasuk Indonesia.

BIRMINGHAM, 15 Agustus โ Dua nama baru mengukir sejarah dalam dunia atletik: Maria Perez dari Spanyol dan Sofia Fiorini dari Italia. Keduanya sukses memecahkan rekor dunia untuk nomor half-marathon dan marathon race walk pada Kejuaraan Atletik Eropa, Sabtu lalu. Catatan waktu mereka tidak hanya mengungguli pesaing, tetapi juga menembus standar ketat yang ditetapkan World Athletics untuk kategori yang baru resmi dipertandingkan tahun ini.
Perez, yang sebelumnya sudah memegang rekor dunia untuk nomor 35 km dan empat kali juara dunia, menuntaskan half-marathon race walk dalam waktu 1 jam 30 menit 6 detik. Waktu tersebut jauh di bawah standar rekor dunia yang ditetapkan World Athletics sebesar 1:30:30. Kemenangan ini juga mengukuhkan dominasi Perez di nomor yang menggantikan 20 km, setelah sebelumnya ia meraih emas Eropa pada 2018.
Sementara itu, Fiorini tampil menakjubkan di nomor marathon. Ia melesat meninggalkan sebagian besar pesaingnya dan finis dalam 3 jam 15 menit 11 detik, memecahkan rekor pribadinya dengan selisih lebih dari 10 menit. Padahal, pada April lalu ia hanya mampu mencatat 3:25:42 saat menjadi runner-up di Kejuaraan Tim Race Walk Dunia di Brasil. Di Birmingham, akselerasi Fiorini di 10 kilometer terakhir membuat lawan-lawannya tak berdaya.
Kategori half-marathon dan marathon race walk resmi menjadi nomor pertandingan sejak 1 Januari tahun ini. World Athletics menetapkan standar waktu yang harus dicapai untuk diakui sebagai rekor dunia perdana: 1:30:30 untuk half-marathon dan 3:17:00 untuk marathon. Keputusan ini diambil untuk memperbarui format race walk yang selama ini didominasi nomor 20 km dan 50 km, sekaligus menarik minat atlet muda dan memperluas basis penggemar.
Di nomor half-marathon, Perez mengungguli atlet Italia Alexandrina Mihai yang meraih perak, sementara perunggu diraih Lyudmila Olyanovska dari Ukraina. Adapun di marathon, Katarzyna Zdzieblo dari Polandia yang sempat menempel ketat harus puas dengan perak, tertinggal lebih dari 4,5 menit di belakang Fiorini. Raquel Gonzalez dari Spanyol melengkapi podium ketiga.
Prestasi ini bukan sekadar catatan individu, tetapi juga sinyal perubahan peta kekuatan race walk dunia. Spanyol dan Italia kini memiliki atlet-atlet yang mampu bersaing di level tertinggi, sekaligus menunjukkan bahwa Eropa masih menjadi kiblat olahraga ini. Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran berharga: dengan pembinaan yang tepat dan kompetisi yang intensif, atlet jalan cepat Tanah Air bisa menembus level dunia. Federasi Atletik Indonesia (PASI) dapat menjadikan standar waktu yang ditetapkan World Athletics sebagai tolok ukur untuk memacu prestasi atlet muda, terutama dalam menghadapi SEA Games dan Asian Games.
Kejuaraan ini juga menjadi ajang pembuktian bahwa perubahan regulasi dapat memicu performa luar biasa. Dengan adanya kategori baru, para atlet dituntut beradaptasi cepat, dan hasilnya terlihat dari torehan waktu yang fantastis. Pertanyaannya, mampukah atlet-atlet Asia, termasuk Indonesia, mengejar ketertinggalan dan bersaing di nomor-nomor baru ini? Jawabannya akan terlihat pada kejuaraan-kejuaraan berikutnya, di mana standar rekor dunia akan semakin ketat seiring dengan meningkatnya persaingan global.



