Drama Insiden di Lintasan: Hodgkinson dan Werro Bersiap Duel 800 Meter di Final Eropa
Baca dalam 60 detik
- Keely Hodgkinson melaju mulus ke final 800m putri, sementara Audrey Werro lolos setelah banding atas insiden jatuh di semifinal.
- Werro sempat mencatat waktu tercepat ketiga sepanjang masa (1:53.80) di Diamond League Paris, menjadikannya ancaman serius bagi Hodgkinson.
- Final 800m putri di Kejuaraan Eropa diprediksi menjadi pertarungan sengit antara Hodgkinson, Werro, dan Femke Bol yang beralih fokus.

BIRMINGHAM, Inggris โ Keely Hodgkinson, peraih emas Olimpiade, memastikan tempat di final 800 meter putri Kejuaraan Atletik Eropa dengan mudah, sementara rivalnya Audrey Werro harus melewati drama banding setelah jatuh di semifinal. Laga pamungkas yang dinanti akhirnya resmi mempertemukan dua pelari tercepat musim ini.
Werro, pelari Swiss yang mencatat waktu 1:53.80 di Diamond League Paris pada 28 Juni โ tercepat ketiga sepanjang sejarah nomor 800m putri โ mengalami insiden di tikungan terakhir semifinal pertama. Ia terjatuh setelah bersenggolan dengan Anais Bourgoin dari Prancis, yang kakinya menyentuh kaki kanan Werro. Meski sempat finis terakhir sambil memegang dada, juri memutuskan untuk mengabulkan banding tim Swiss setelah meninjau rekaman video.
Tidak ada drama serupa di semifinal kedua. Hodgkinson langsung memimpin sejak start dan finis pertama dengan catatan 1 menit 57,38 detik, mengungguli Femke Broeders-Bol, yang musim ini beralih dari nomor 400 meter gawang ke 800 meter. "Saya mendengar suara 'ooh' dari penonton, itu pertanda buruk," ujar Hodgkinson kepada BBC, merespons insiden yang menimpa Werro.
Final 800m putri kini menjadi salah satu nomor yang paling dinantikan di kejuaraan ini. Hodgkinson, Werro, dan Bol diprediksi akan bertarung ketat memperebutkan emas. "Kegembiraan ini membuat saya semakin bersemangat. Saya tidak sabar untuk turun ke lintasan," kata Hodgkinson. "Ini memunculkan yang terbaik dari diri saya."
Bagi penggemar atletik Indonesia, persaingan ini menarik untuk disimak karena menunjukkan bagaimana tekanan kompetisi tingkat tinggi dapat memicu performa terbaik. Meski tidak ada atlet Indonesia yang berlaga, dinamika antara Hodgkinson yang konsisten dan Werro yang sedang dalam performa puncak memberikan gambaran tentang standar dunia yang harus dikejar atlet nasional. Kejuaraan Eropa juga kerap menjadi tolok ukur bagi atlet Asia untuk mengukur diri sebelum ajang global seperti Olimpiade atau Kejuaraan Dunia.
Werro, yang baru berusia 22 tahun, telah menggebrak dunia atletik dengan catatan waktunya yang luar biasa. Namun, insiden jatuh ini menjadi ujian mental tersendiri. Pertanyaannya, mampukah ia bangkit dan tampil maksimal di final? Sementara Hodgkinson, yang belum terkalahkan musim ini, tetap menjadi favorit. Namun, kehadiran Bol yang berpengalaman di level internasional menambah ketidakpastian.
Dengan final yang tinggal menghitung jam, semua mata akan tertuju pada Alexander Stadium. Apakah Hodgkinson akan mempertahankan dominasinya, atau Werro akan menciptakan kejutan besar? Satu hal yang pasti: laga ini akan menjadi tontonan yang sayang untuk dilewatkan.



