Rival Baru Mengancam: Keely Hodgkinson Gagal Pertahankan Gelar Eropa, Dunia 800m Makin Sengit
Baca dalam 60 detik
- Audrey Werro, pelari Swiss berusia 22 tahun, mengalahkan Keely Hodgkinson di final 800m Kejuaraan Eropa Birmingham, mengakhiri dominasi juara Olimpiade itu di Eropa.
- Kekalahan ini menandai munculnya generasi baru pesaing, termasuk Femke Broeders-Bol dan Lilian Odira, yang akan mewarnai persaingan menuju Olimpiade Los Angeles 2028.
- Hodgkinson, yang sempat cedera dan tampil dengan lutut diperban, tetap optimistis dan menantikan duel berikutnya, sementara rekor dunia 800m putri yang bertahan sejak 1983 semakin terancam.

Keely Hodgkinson harus mengakui keunggulan Audrey Werro pada final 800 meter Kejuaraan Eropa di Birmingham, Jumat (โฆ). Kekalahan ini memutus dominasi pelari Inggris itu di pentas Eropa dan membuka babak baru persaingan kelas dunia yang semakin panas.
Hodgkinson, yang tahun lalu meraih emas Olimpiade Paris, hanya mampu finis kedua di belakang Werro. Padahal, ia datang ke Birmingham dengan status juara bertahan dan target mempertahankan gelar. Namun, penampilan impresif Werro yang tampil berani sejak awal membuat Hodgkinson harus puas dengan medali perak.
Kekalahan ini menjadi sinyal bahwa era persaingan baru di nomor 800 meter putri telah dimulai. Selain Werro, nama Femke Broeders-Bol dari Belanda, yang sebelumnya dikenal sebagai pejuang 400 meter gawang, juga tampil menonjol dengan meraih perunggu. Sementara itu, juara dunia Lilian Odira dari Kenya dan rekan latih Hodgkinson, Georgia Hunter Bell, diprediksi akan menjadi pesaing serius di ajang-ajang besar mendatang.
Bagi Hodgkinson, hasil ini tentu mengecewakan. Namun, ia menegaskan tidak menyesali apa pun. "Saya lebih suka membawa pulang emas, tapi saya rasa saya tidak melakukan kesalahan. Ini balapan yang hebat untuk ditonton, dan saya bangga dengan perjuangan yang saya berikan," ujarnya. Ia juga mengaku menantikan pertemuan berikutnya dengan Werro.
Werro sendiri tampil luar biasa sepanjang musim ini. Pada Juni lalu, ia mengejutkan dunia dengan mengalahkan Hodgkinson di Stockholm Diamond League dan memangkas catatan pribadinya hampir dua detik. Ia kemudian mencatat waktu 1 menit 53,80 detik di Paris, yang menjadi salah satu waktu tercepat dalam 43 tahun terakhir. Di Birmingham, meski sempat jatuh di semifinal, ia bangkit dan memecahkan rekor kejuaraan yang bertahan sejak 1982.
Konteks persaingan ini menarik untuk dicermati. Hodgkinson, yang baru berusia 24 tahun, telah mengoleksi banyak medali, termasuk emas Olimpiade. Namun, ia belum pernah memecahkan rekor dunia outdoor yang sudah berusia lebih dari empat dekade. Musim ini, ia sempat cedera hamstring dan mengalami masalah pada lututnya, yang memaksanya tampil dengan perban tebal. Meski demikian, ia tetap mampu bersaing di level tertinggi.
Di sisi lain, kemunculan Werro dan Broeders-Bol menunjukkan bahwa persaingan di nomor 800 meter tidak lagi didominasi oleh satu atau dua nama. Hal ini tentu membuat kejuaraan dunia dan Olimpiade mendatang semakin menarik. Para penggemar atletik di Indonesia pun patut menantikan duel-duel sengit ini, mengingat atletik selalu menjadi salah satu cabang yang paling dinantikan di ajang multievent.
Menjelang Kejuaraan Dunia di Beijing tahun depan dan Olimpiade Los Angeles 2028, Hodgkinson sadar bahwa ia harus terus meningkatkan performanya. "Saya sudah berkecimpung di olahraga ini selama lima tahun, dan semoga masih ada sepuluh tahun lagi. Akan selalu ada pesaing baru, dan saya bangga bisa tetap kompetitif," katanya. Pertanyaannya, akankah ia mampu menjawab tantangan generasi baru ini dan akhirnya memecahkan rekor dunia yang selama ini diincarnya?



