Frattesi Pamit dari Inter: 'Kami Tak Saling Cocok, tapi Langit Pernah Terbelah Dua'
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Italia itu resmi pindah ke Lazio dengan skema pinjaman €5 juta plus opsi pembelian €10 juta dan 50% hak atas penjualan di masa depan.
- Selama tiga musim di Giuseppe Meazza, Frattesi hanya 36 kali menjadi starter dari 122 penampilan kompetitif, meski sempat menjadi pahlawan lewat gol krusial di Liga Champions.
- Ucapan perpisahan bernada emosional ini sekaligus menyiratkan kritik halus terhadap manajemen Inter pasca kekalahan telak di final Liga Champions 2025.

Davide Frattesi resmi mengucapkan selamat tinggal kepada publik Inter Milan setelah kepindahannya ke Lazio, dengan surat perpisahan yang lebih mirip pengakuan jujur dari sebuah hubungan yang kandas. Gelandang berusia 25 tahun itu mengakui bahwa dirinya dan klub mungkin memang tidak ditakdirkan untuk bersama, tetapi momen-momen kejayaan yang pernah diukirnya di San Siro akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari kariernya.
Kepindahan ini sendiri telah dikonfirmasi dengan skema peminjaman senilai €5 juta, disertai opsi pembelian permanen sebesar €10 juta. Yang menarik, Inter juga berhak atas 50 persen keuntungan dari penjualan Frattesi di kemudian hari—sebuah struktur kesepakatan yang menunjukkan bahwa kedua belah pihak masih menyimpan harapan akan nilai pasar sang pemain yang bisa meningkat.
Sejak direkrut dari Sassuolo pada 2023, Frattesi memang tidak pernah benar-benar menjadi pilihan utama di lini tengah Nerazzurri. Dari 122 penampilan kompetitif, hanya 36 laga yang dijalaninya sebagai starter. Meski demikian, kontribusinya tidak bisa dianggap remeh: 15 gol dan 12 assist, termasuk sejumlah gol penentu di ajang Liga Champions yang membuat namanya diingat para pendukung.
Salah satu momen paling ikonik adalah gol kemenangan dramatis 4-3 melawan Barcelona, ketika Frattesi merayakannya dengan memanjat pagar kuning San Siro dan berteriak bersama para tifosi. Dalam surat perpisahannya, ia bahkan menuliskan catatan khusus: "P.S. Pagar kuning itu milikku, ingatlah." Kalimat itu bukan sekadar nostalgia, melainkan penanda bahwa ia pernah menjadi bagian dari sejarah klub.
Namun, di balik kenangan manis itu, Frattesi juga menyiratkan kekecewaan. Ia menyebut "final terkutuk" yang dimaksud adalah kekalahan telak 0-5 dari Paris Saint-Germain di final Liga Champions 2025—kekalahan kedua Inter di partai puncak dalam tiga tahun. "Sesuatu berubah dalam diriku setelah final itu," tulisnya, "dan sudah sepantasnya Inter mempertahankan pemain yang masih bisa memberikan 101 persen." Pernyataan ini bisa dibaca sebagai kritik halus terhadap manajemen klub yang dinilainya kurang memberi kepercayaan penuh.
Bagi pengamat sepak bola Italia, kepindahan ini menjadi cermin bagaimana klub besar kerap kehilangan pemain berpotensi karena tidak sabar memberi ruang. Frattesi, yang dikenal sebagai gelandang box-to-box dengan naluri gol tinggi, sebenarnya memiliki profil yang langka. Namun, persaingan di lini tengah Inter yang dihuni pemain-pemain seperti Nicolò Barella dan Henrikh Mkhitaryan membuatnya kerap tersingkir.
Di Lazio, Frattesi diprediksi akan menjadi poros utama permainan. Pelatih Marco Baroni dipercaya akan membangun skema yang memaksimalkan kemampuan menusuk dari lini kedua. Jika berhasil, bukan tidak mungkin nilai jualnya meroket dan Inter pun akan menuai keuntungan dari klausul penjualan yang disepakati.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah Frattesi mengingatkan pada dinamika yang kerap terjadi di klub-klub besar Eropa: pemain berbakat yang harus rela pindah demi menit bermain. Di tengah gencarnya pemberitaan tentang pemain muda Indonesia yang merambah liga Eropa, kasus ini menjadi pelajaran bahwa kesempatan bermain reguler sering kali lebih berharga daripada sekadar nama besar klub.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Frattesi mampu membuktikan bahwa Inter telah salah menilainya. Dengan dukungan penuh dari Lazio dan motivasi untuk membalas keraguan, musim 2025/2026 akan menjadi panggung pembuktian yang sesungguhnya. Akankah ia menjadi bintang baru di ibu kota, atau justru tenggelam seperti beberapa pemain yang gagal bersinar setelah hengkang dari klub raksasa?



