Calhanoglu Buka Suara: Inter Tak Pernah Mati, Chivu Sosok Kakak bagi Pemain
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Inter Milan, Hakan Calhanoglu, menegaskan timnya bangkit setelah kekalahan telak 0-5 dari PSG dan berhasil meraih Scudetto.
- Calhanoglu memuji pendekatan personal Cristian Chivu yang dianggapnya lebih peduli pada kesejahteraan pemain, berbeda dengan gaya Simone Inzaghi.
- Inter menargetkan dominasi berkelanjutan di Serie A, sementara Calhanoglu menilai liga Italia masih berada di tiga besar Eropa bersama Inggris dan Spanyol.

Hakan Calhanoglu, gelandang serang Inter Milan, menegaskan bahwa kekalahan telak 0-5 dari Paris Saint-Germain di Liga Champions bukanlah akhir segalanya. Justru, momen itulah yang memicu kebangkitan tim hingga akhirnya meraih Scudetto musim lalu. Dalam wawancara eksklusif dengan beIN Sports Australia, pemain asal Turki itu mengungkapkan bagaimana skuad Nerazzurri memiliki mentalitas baja untuk bangkit dari keterpurukan.
โSemua orang mengira Inter sedang sekarat setelah kejadian itu,โ ujar Calhanoglu. โTetapi tim ini punya mentalitas kuat. Setiap kali menghadapi masa sulit, kami selalu merespons. Para pemain sudah bersama bertahun-tahun, kami tahu cara menghadapinya, dan itulah yang membuat kami berbeda.โ Pernyataan ini sekaligus menjawab keraguan publik yang sempat menganggap Inter akan kesulitan mempertahankan performa setelah ditinggal sejumlah pemain kunci.
Perubahan besar terjadi di kursi pelatih. Cristian Chivu, yang nyaris tanpa pengalaman sebagai pelatih kepala di level senior, dipercaya menggantikan Simone Inzaghi pada musim panas lalu. Hasilnya, Inter langsung mempersembahkan gelar ganda: Serie A dan Coppa Italia. Calhanoglu pun angkat bicara mengenai perbedaan gaya kepemimpinan keduanya. โSaya tidak bisa berkata buruk tentang Simone Inzaghi, karena dialah yang menginginkan saya di sini. Saya tumbuh besar bersamanya, baik sebagai pribadi maupun pemain,โ tuturnya.
Namun, Calhanoglu menilai Chivu memiliki pendekatan yang lebih manusiawi. โDia lebih peduli pada pribadi, bukan hanya soal sepak bola. Yang terpenting adalah bagaimana perasaanmu, dan dia terbuka untuk segalanya. Dia memberi kepercayaan diri agar kamu merasa nyaman. Di luar lapangan, dia seperti kakak atau teman, kamu bisa bicara apa saja dengannya. Saya punya banyak masalah pribadi, dan dia banyak membantu saya,โ ungkap pemain berusia 31 tahun itu.
Keberhasilan Inter musim lalu tidak lepas dari soliditas tim yang sudah terbentuk lama. Calhanoglu, yang telah lima tahun berseragam biru-hitam, mengaku telah mengoleksi delapan trofi dan dua kali mencapai final Liga Champions. Meski gagal membawa pulang trofi Si Kuping Besar, ia tetap optimistis. โKami akan mencoba lagi memenangkan Scudetto dan terus meraih trofi,โ tegasnya. Target dominasi di liga domestik menjadi prioritas utama, sekaligus menjawab kritik yang kerap dialamatkan pada Serie A.
Menariknya, Calhanoglu juga membela kualitas Serie A yang kerap diremehkan. Menurutnya, liga Italia masih berada di tiga besar Eropa bersama Inggris dan Spanyol. โSerie A adalah liga yang bagus, sangat bagus. Tim seperti Atalanta dan Fiorentina banyak membeli pemain bagus. Bagi saya, Serie A masuk tiga besar bersama liga Inggris dan Spanyol,โ ujarnya. Pandangan ini relevan bagi pengamat sepak bola Indonesia yang kerap membandingkan kompetisi Eropa, sekaligus menegaskan bahwa Serie A tetap kompetitif meski dihantam kritik.
Di akhir wawancara, Calhanoglu diminta meracik pemain sempurna versinya. Ia memilih kaki kanan Jorginho, kaki kiri Messi, kecepatan Walker, kekuatan Hulk, skill Neymar, dan tembakan Cristiano Ronaldo. Sementara untuk rekan setim terbaik, ia menyebut Son Heung-min, Zlatan Ibrahimovic, dan Marcus Thuram. Untuk tim nasional Turki, ia mengagumi Arda Turan, Emre Belozoglu, dan Kenan Yildiz.
Bagi pecinta sepak bola Indonesia, kisah kebangkitan Inter ini bisa menjadi pelajaran berharga: kegagalan bukan akhir, melainkan awal dari pembuktian. Pertanyaannya, mampukah Inter mempertahankan dominasi di tengah persaingan ketat Serie A dan godaan klub-klub kaya Eropa terhadap para pemain bintangnya? Musim depan akan menjadi ujian sesungguhnya bagi konsistensi tim asuhan Chivu.



