Guncangan 6,4 Magnitudo di Sumatra Utara Terasa Hingga Penang: Warga Sempat Dikira Vertigo
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan 6,4 magnitudo yang berpusat di Sumatra Utara, Sabtu (15/8), mengguncang sebagian wilayah Penang, Malaysia, terutama penghuni gedung tinggi.
- Badan Meteorologi Malaysia memastikan tidak ada ancaman tsunami, namun getaran berpotensi menjalar ke pesisir barat Semenanjung Malaysia.
- Peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan Selat Malaka terhadap aktivitas seismik dari zona subduksi Sumatra.

Guncangan gempa bumi berkekuatan 6,4 magnitudo yang berpusat di Sumatra Utara, Sabtu (15/8) pukul 18.54 WIB, tidak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga menjalar hingga ke Pulau Penang, Malaysia. Sejumlah warga yang tinggal di gedung bertingkat melaporkan merasakan getaran selama beberapa detik, memicu kepanikan singkat di tengah aktivitas akhir pekan.
Menurut data Badan Meteorologi Malaysia, episentrum gempa terletak pada koordinat 2,9ยฐ Lintang Utara dan 98,8ยฐ Bujur Timur, sekitar 37 kilometer barat daya Permatang Siantar, dengan kedalaman 154 kilometer. Meski berjarak sekitar 500 kilometer dari Penang, energi gempa cukup kuat untuk membuat bangunan tinggi bergoyang. Fenomena ini bukan hal baru bagi warga setempat, mengingat posisi geografis Malaysia yang berdekatan dengan jalur seismik aktif di sepanjang pantai barat Sumatra.
Seorang warga Pulau Tikus, Aaron Lim (50), mengaku sempat mengira dirinya mengalami serangan vertigo saat menonton televisi di apartemennya lantai tujuh. โSaya merasakan gerakan, lalu menyadari gedung bergetar ringan. Saya pernah mengalami hal serupa sebelumnya,โ ujarnya. Di Teluk Kumbar, Sean Wazi (45) menggambarkan tetangganya berteriak dan berlarian keluar rumah karena khawatir akan keselamatan. Insiden ini menunjukkan bahwa respons masyarakat terhadap guncangan masih didominasi insting, bukan prosedur evakuasi yang terlatih.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Penang mencatat telah menerima lima panggilan darurat terkait gempa ini. Meski demikian, belum ada laporan kerusakan signifikan atau korban jiwa. Badan Meteorologi Malaysia juga menegaskan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami, namun getaran diperkirakan masih dapat dirasakan di sepanjang pesisir barat Semenanjung Malaysia.
Bagi Indonesia, gempa ini menjadi pengingat bahwa aktivitas seismik di Sumatra tidak hanya berdampak domestik, tetapi juga berimplikasi regional. Wilayah barat Sumatra merupakan bagian dari zona subduksi yang sangat aktif, dan gempa serupa pernah memicu kepanikan di Malaysia dan Singapura. Koordinasi informasi lintas negara menjadi krusial untuk mengurangi risiko kesalahan persepsi di masyarakat.
Para ahli seismologi menilai kedalaman gempa yang mencapai 154 kilometer termasuk dalam kategori menengah, sehingga getarannya terasa luas namun dampak kerusakan cenderung terbatas. Meski begitu, potensi gempa susulan tetap ada, dan masyarakat di kedua negara diimbau untuk tidak mudah termakan hoaks. Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana kesiapsiagaan gedung-gedung tinggi di kawasan Selat Malaka menghadapi guncangan yang lebih kuat, mengingat intensitas gempa di wilayah ini diprediksi meningkat dalam beberapa tahun terakhir.



