Menapaki Pusuk Buhit, PDIP Menautkan Spiritualitas Batak dengan Pancasila
Baca dalam 60 detik
- Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto memimpin ziarah budaya ke Gunung Pusuk Buhit, situs asal-usul manusia Batak, sebagai bagian dari penguatan ideologi partai.
- Kegiatan ini menegaskan komitmen partai untuk merawat tradisi lokal sebagai fondasi Pancasila, sejalan dengan pesan Megawati tentang kelestarian Danau Toba.
- PDIP juga meresmikan kantor DPC Samosir, menandai ekspansi struktural partai di kawasan yang tengah mengembangkan pariwisata geopark.

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menegaskan pentingnya menjaga peradaban Danau Toba dan tradisi leluhur saat memimpin ziarah kebudayaan dan spiritual ke Gunung Pusuk Buhit, Samosir, Sumatera Utara, Sabtu (15/8). Pendakian ke situs yang diyakini sebagai tempat lahirnya Si Raja Batak ini bukan sekadar ritual, melainkan upaya partai untuk merawat akar sejarah bangsa di tengah derasnya arus modernisasi.
Dalam keterangan tertulisnya, Hasto menyebut kunjungan ini merupakan bagian dari proses spiritual-ideologis partai. Gunung Pusuk Buhit, yang terletak di pinggir barat Danau Toba, dipercaya sebagai titik awal peradaban Batak. Menurutnya, cerita rakyat yang berkembang di sana sarat dengan filosofi moral dan kesadaran akan Sang Pencipta, nilai-nilai yang sejalan dengan sila pertama Pancasila.
Ziarah ini dihadiri sejumlah petinggi partai, antara lain Djarot Saiful Hidayat, Johannes Oberlin Tobing, Aryo Seno Bagaskoro, Mohamad Guntur Romli, dan Ketua DPD PDIP Sumatera Utara, Rapidin Simbolon. Sebelum pendakian, Hasto juga melakukan peletakan batu pertama pembangunan Kantor DPC PDIP Kabupaten Samosir di Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan, Kecamatan Pangururan. Langkah ini menunjukkan bahwa PDIP tidak hanya hadir secara simbolis, tetapi juga memperkuat basis organisasi di daerah.
Hasto mengaitkan penjelajahan nilai budaya lokal ini dengan ajaran Bung Karno dalam merumuskan Pancasila. Menurutnya, Proklamator RI itu melihat spiritualitas Nusantara sebagai fondasi negara yang inklusif. "Bung Karno mengajarkan bahwa Ketuhanan di Indonesia adalah Ketuhanan yang berbudi pekerti, yang berkebudayaan, dan tidak boleh ada egoisme agama atau etnis. Republik ini dibangun atas prinsip all for all," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan posisi PDIP yang ingin terus membumikan Pancasila dari akar budaya lokal.
Selain dimensi spiritual, Hasto juga mengingatkan pesan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tentang kelestarian Danau Toba yang telah diakui UNESCO sebagai Global Geopark. Ia menekankan bahwa pembangunan fasilitas publik dan penataan ruang di Samosir hingga 100 tahun ke depan harus memperhitungkan keseimbangan alam, ruang sempadan danau, serta nilai spiritual setempat. Ini menjadi peringatan penting bagi pemerintah daerah dan investor yang tengah menggenjot pariwisata di kawasan tersebut.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya warga Samosir, kunjungan ini memiliki makna ganda. Di satu sisi, ini adalah pengakuan atas kekayaan budaya lokal yang selama ini menjadi bagian dari identitas nasional. Di sisi lain, kehadiran PDIP di tengah isu lingkungan dan tata ruang mengirim sinyal bahwa partai politik mulai serius mengangkat isu kebudayaan dan ekologi sebagai agenda politik. Hal ini sejalan dengan tren global yang menempatkan pelestarian warisan budaya sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Namun, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana komitmen ini akan diterjemahkan ke dalam kebijakan nyata. Apakah ziarah ini hanya akan menjadi seremonial belaka, atau akan diikuti dengan langkah konkret melindungi kawasan Danau Toba dari ancaman kerusakan lingkungan akibat pariwisata massal? Publik tentu menunggu pembuktian dari partai yang selama ini mengklaim diri sebagai pewaris ideologi Bung Karno.
Ke depan, PDIP perlu menunjukkan konsistensi antara retorika dan aksi. Dengan menjadikan Pusuk Buhit sebagai titik tolak, partai ini memiliki peluang untuk memimpin gerakan pelestarian budaya dan lingkungan di Indonesia. Apakah langkah ini akan menjadi model bagi partai lain, atau hanya sekadar momen politik sesaat? Waktu yang akan menjawab.



