Monchi: Championship Ladang Talenta yang Diremehkan Klub Spanyol
Baca dalam 60 detik
- Direktur Olahraga Espanyol, Monchi, menilai Championship Inggris adalah kompetisi paling diremehkan dan sarat pemain berkualitas.
- Strategi Espanyol memanfaatkan koneksi kepemilikan dengan Burnley untuk merekrut pemain dari divisi kedua Inggris, mengatasi keterbatasan finansial La Liga.
- Monchi mengandalkan data dan AI dalam perekrutan, dengan target jangka panjang mengembalikan kejayaan Espanyol tanpa membandingkan dengan Barcelona.

Direktur Olahraga Espanyol, Monchi, menilai klub-klub Spanyol selama ini kurang memberi perhatian pada Championship Inggris. Kompetisi kasta kedua di Negeri Ratu Elizabeth itu, menurutnya, adalah salah satu liga yang paling tidak dipahami, padahal menyimpan banyak talenta berkualitas yang bisa menjadi solusi bagi klub dengan anggaran terbatas.
Pernyataan itu disampaikan Monchi dalam wawancara dengan BBC Sport, beberapa bulan setelah ia kembali ke Spanyol dari Aston Villa. Pria 57 tahun yang pernah menjadi kiper ini menghabiskan dua tahun di Villa Park sebagai presiden operasional sepak bola, sebelum memutuskan pulang ke kampung halamannya untuk menukangi Espanyol. Sebelumnya, ia juga pernah menjadi direktur olahraga di Sevilla dan Roma.
Menurut Monchi, Championship memiliki tingkat persaingan yang sangat tinggi, dilatih oleh pelatih-pelatih berkualitas, dan menuntut intensitas luar biasa. Ia mencontohkan Morgan Rogers, yang dibeli Aston Villa dari Middlesbrough pada 2024 setelah tampil di divisi dua, lalu menjadi pemain timnas Inggris dan akhirnya dijual ke Chelsea dengan nilai transfer mencapai 117 juta poundsterling musim panas ini. "Itu hanya satu contoh, masih banyak lagi," ujarnya.
Bagi Espanyol, Championship bukan sekadar lahan pemantauan bakat. Klub asal Barcelona itu memiliki hubungan khusus dengan kompetisi tersebut karena grup pemiliknya, yang dipimpin Alan Pace, juga memiliki Burnley. Musim ini, Espanyol sudah merekrut Tyrhys Dolan dari Blackburn Rovers dengan status bebas transfer, serta meminjam bek timnas Belanda, Quilindschy Hartman, dari Burnley.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi jitu untuk bersaing di tengah keterbatasan finansial. Klub-klub Spanyol harus tunduk pada batas pengeluaran skuad yang ditetapkan La Liga, sementara klub-klub Premier League memiliki sumber daya jauh lebih besar. "Kami tidak bisa melakukan semua yang kami inginkan, tapi kami melakukan yang bisa," kata Monchi. "Kami memang tertinggal dibanding beberapa klub Spanyol, terutama klub Inggris, Italia, atau Jerman. Namun, kami harus kreatif, bekerja keras, dan mencari alternatif."
Pengalaman dua tahun di Aston Villa juga mengubah cara pandang Monchi tentang pengelolaan klub modern. Ia mengagumi pemisahan yang jelas antara sisi bisnis dan olahraga di Villa, serta sinergi kuat antara pemilik, staf, dan suporter. "Ada perbedaan yang sangat jelas antara sisi bisnis dan sisi olahraga," kenangnya. "Sinerginya sangat baik di seluruh klub, hubungan kuat dengan pemilik, dan kedekatan dengan fans. Itu tidak berarti saya menerapkan semuanya sama persis di Espanyol, tapi itu pengalaman berharga."
Momen paling berkesan selama di Inggris adalah ketika Aston Villa lolos ke Liga Champions pada musim pertamanya, setelah sekitar 40 tahun absen. "Itu momen yang indah," ujarnya. Villa juga mencapai semifinal Conference League, semifinal Piala FA, dan perempat final Liga Champions pada musim berikutnya.
Monchi juga menyoroti perubahan besar dalam dunia scouting selama 25 tahun kariernya. Kini, data dan kecerdasan buatan (AI) memegang peranan penting. "Kami tidak lagi hanya mengandalkan laporan scouting dan penilaian subjektif, tapi juga didukung big data, AI, dan analisis data," jelasnya. "Semua klub, termasuk saya pribadi, harus beradaptasi dengan teknologi baru."
Bagi Espanyol, kombinasi antara perekrutan berbasis data dan pengetahuan pasar ala Monchi menjadi kunci. Tujuannya bukan sekadar mencari pemain murah, melainkan pemain yang bisa meningkatkan daya saing tim dan pada akhirnya menutup kesenjangan finansial dengan klub kaya.
Monchi juga menegaskan bahwa Espanyol tidak seharusnya mengukur perkembangan dengan membandingkan diri terhadap Barcelona, meski keduanya berada di kota yang sama. "Espanyol harus fokus pada diri sendiri. Barcelona adalah klub besar, tapi saya tidak berpikir pertumbuhan Espanyol harus diukur dari Barcelona. Tolok ukur Espanyol adalah Espanyol itu sendiri," tegasnya.
Ambisi jangka panjangnya adalah mengembalikan Espanyol ke kejayaan masa lalu. "Espanyol punya sejarah yang cukup untuk kita lihat ke belakang dan mencoba menjadi Espanyol lagi," katanya. "Espanyol yang dulu adalah salah satu klub terpenting di Spanyol. Itulah target kami."
Untuk musim ini, targetnya lebih sederhana: memperbaiki posisi klasemen dan mengonsolidasikan proyek. Namun, di balik pendekatan hati-hati itu, ada keyakinan bahwa Espanyol bisa bersaing lebih tinggi di La Liga. "Ambisi kami adalah memperbaiki posisi musim lalu dan terus berkembang, selangkah demi selangkah," pungkas Monchi.
Bagi klub-klub Asia Tenggara, termasuk Indonesia, strategi Espanyol bisa menjadi pelajaran berharga. Dengan keterbatasan finansial, mencari pemain dari liga-liga yang kurang dilirik, seperti Championship, bisa menjadi cara cerdas untuk membangun tim kompetitif. Apakah klub-klub Indonesia berani keluar dari zona nyaman dan menjelajah pasar yang belum banyak dijamah?



