Luca Williams-Barnett: Permata Muda Tottenham yang Siap Isi Kekosongan Dele Alli
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur masih mencari sosok pengganti Dele Alli di lini serang, dan Luca Williams-Barnett dari akademi disebut-sebut sebagai kandidat kuat.
- Gelandang serang 17 tahun itu mencatat 16 gol dan 8 assist untuk tim U21 musim lalu, memukau pelatih dan rekan setim selama pramusim.
- Dengan cedera yang mendera pemain senior, De Zerbi berpeluang memberi menit bermain lebih bagi Williams-Barnett di kompetisi domestik.

Nama Luca Williams-Barnett mencuat di lingkungan Tottenham Hotspur. Gelandang serang berusia 17 tahun itu dianggap sebagai jawaban atas masalah klasik The Lilywhites: mencari penerus Dele Alli di posisi nomor 10.
Sejak kepergian Dele pada 2022, Tottenham belum menemukan figur yang mampu mengisi kekosongan kreativitas di lini tengah. Christian Eriksen juga telah lama pergi, meninggalkan lubang yang hingga kini belum terisi sepenuhnya. Manajemen Spurs sempat mendatangkan sejumlah nama, tetapi hasilnya belum konsisten.
Musim ini, pelatih Roberto De Zerbi sempat menempatkan Mateus Fernandes di peran tersebut. Namun, keputusan itu menuai tanda tanya karena Fernandes tidak nyaman bermain di posisi itu. De Zerbi pun mengakui ketidaksenangannya terhadap performa Fernandes setelah kekalahan 2-3 dari Aston Villa.
Di tengah keterbatasan itu, Williams-Barnett muncul sebagai opsi segar. Pemain muda ini mencuri perhatian lewat aksinya bersama tim U21: 16 gol dan 8 assist dalam 20 penampilan. Catatan itu membuatnya dijuluki sebagai "berlian berharga" oleh De Zerbi.
Pramusim lalu menjadi panggung bagi Williams-Barnett untuk unjuk gigi. Ia mencetak gol panenka dalam adu penalti melawan Sydney FC, lalu tampil mengesankan saat melawan MK Dons dan Auckland. Bahkan, ia turut menyumbang gol di laga pramusim terakhir kontra Hoffenheim.
"Dia pemain yang sangat bagus. Potensinya besar. Anda bisa melihat kualitas yang dimilikinya. Langkah selanjutnya adalah mengembangkan kebiasaan bermainnya, tetapi memiliki pemain seperti dia yang tidak takut, percaya diri mencoba hal-hal dalam pertandingan, dan tidak terpengaruh jika kehilangan bola, saya pikir masa depannya cerah," ujar bek Tottenham, Ben Davies.
Pujian juga datang dari jurnalis GOAL, Sean Walsh, yang melihat ada "bayangan Dele" dalam gaya bermain Williams-Barnett. Kemampuan dribel, visi permainan, dan insting mencetak golnya dianggap mengingatkan pada masa kejayaan Dele Alli.
Meski demikian, menit bermain Williams-Barnett di tim senior masih minim. Ia baru tampil 12 menit di kompetisi resmi musim ini. Situasi ini memunculkan pertanyaan: apakah De Zerbi akan segera memberinya kesempatan lebih besar, mengingat lini serang Tottenham sedang dilanda cedera?
Xavi Simons masih menjalani pemulihan setelah cedera ACL, sementara Dejan Kulusevski dan James Maddison baru kembali dari cedera. Kondisi ini membuka peluang bagi Williams-Barnett untuk masuk ke rotasi tim utama.
Bagi penggemar Tottenham di Indonesia, munculnya Williams-Barnett bisa menjadi harapan baru. Klub-klub Liga Inggris memang kerap menjadi kiblat bagi penggemar sepak bola Tanah Air, dan sosok pemain muda berbakat selalu menarik untuk diikuti perkembangannya. Jika Williams-Barnett mampu menembus tim inti, ia bisa menjadi idola baru, sebagaimana Dele Alli pada masanya.
Ke depan, keputusan De Zerbi untuk memberi menit bermain kepada Williams-Barnett akan menjadi sorotan. Apakah ia akan menjadi solusi jangka panjang, atau justru tenggelam dalam tekanan? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: Tottenham memiliki permata yang siap dipoles.



