Joao Cancelo Rela Potong Gaji demi Kembali ke Barcelona: 'Barca atau Tidak Sama Sekali'
Baca dalam 60 detik
- Bek sayap Portugal itu menuntaskan kepindahan bebas transfer setelah memutus kontrak dengan Al-Hilal, dengan pengorbanan finansial yang signifikan.
- Kepulangan ke Camp Nou menandai periode ketiganya, di tengah strategi Barcelona yang agresif di bursa transfer musim panas 2026.
- Langkah ini menegaskan prioritas karier di atas materi, sekaligus memberi sinyal tentang daya tarik klub Katalan di mata pemain top Eropa.

Joao Cancelo akhirnya mewujudkan keinginannya berseragam Barcelona lagi. Bek sayap asal Portugal itu secara resmi bergabung dengan status bebas transfer setelah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri kontraknya bersama Al-Hilal, klub Arab Saudi yang menjadi pelabuhan kariernya sebelumnya. Keputusan ini diambil dengan konsekuensi finansial yang tidak kecil: ia mengaku rela memangkas sebagian gajinya demi memastikan kepulangan ke Camp Nou.
Dalam pernyataannya yang dikutip Fotmob pada Senin (17/8), Cancelo menegaskan bahwa pilihannya hanya dua: kembali ke Barcelona atau tidak bermain sama sekali. "Saya mengorbankan sebagian gaji saya, tetapi pilihannya adalah bergabung dengan Barca atau tidak sama sekali," ujarnya. Sikap ini menunjukkan betapa kuatnya keinginan pemain berusia 32 tahun itu untuk kembali ke lingkungan yang ia anggap sebagai rumah kedua.
Kepindahan ini menjadi babak ketiga dalam hubungan Cancelo dengan Barcelona. Sebelumnya, ia sempat menjalani masa peminjaman yang sukses di Camp Nou, dan kini ia diharapkan kembali menjadi bagian penting dalam skema permainan pelatih Hansi Flick untuk musim 2026/27. Kontrak berdurasi tiga tahun telah disiapkan, sebuah sinyal bahwa klub tidak hanya memandangnya sebagai pelapis, melainkan investasi jangka pendek yang strategis.
Keputusan Cancelo untuk mengorbankan gaji bukanlah hal yang lazim di era sepak bola modern, di mana tawaran finansial dari klub-klub Timur Tengah kerap menjadi magnet utama. Namun, bagi Barcelona, ini adalah kemenangan diplomatik sekaligus taktis. Mereka mendapatkan pemain berpengalaman tanpa biaya transfer, meski harus tetap membayar gaji yang telah dinegosiasikan ulang. Langkah ini juga mengirim pesan bahwa proyek olahraga Barcelona masih memiliki daya tarik tersendiri di mata pemain papan atas Eropa.
Konteks ini menarik untuk dicermati, terutama bagi pengamat sepak bola Indonesia. Fenomena pemain top Eropa yang rela memangkas gaji demi bergabung dengan klub impian menunjukkan bahwa faktor non-finansial seperti sejarah klub, atmosfer stadion, dan ambisi trofi masih menjadi pertimbangan utama. Hal ini bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Asia, termasuk di Indonesia, bahwa membangun identitas dan budaya klub yang kuat dapat menjadi daya tarik tersendiri, meski tidak bisa bersaing dalam hal nominal kontrak.
Barcelona sendiri tengah dalam mode agresif di bursa transfer musim panas ini. Sebelum Cancelo, mereka telah mengamankan Anthony Gordon, Karim Adeyemi, dan Jesse Bisiwu. Kabar terbaru menyebutkan bahwa gelandang Manchester City, Rodri, juga akan segera diumumkan sebagai rekrutan anyar. Jika semua terealisasi, Blaugrana akan memiliki skuad yang jauh lebih dalam dibanding musim lalu, dan ini tentu menjadi ancaman serius bagi rival-rival mereka di La Liga dan Eropa.
Namun, di balik euforia kedatangan para pemain baru, pertanyaan besar tetap menggantung: bagaimana Barcelona menjaga keseimbangan keuangan mereka? Kebijakan "gaji dipangkas" yang diterima Cancelo mungkin menjadi pola yang akan diikuti pemain lain, tetapi tidak semua pemain memiliki motivasi yang sama. Jika Barcelona gagal meraih hasil yang diharapkan, tekanan terhadap manajemen akan semakin besar, dan langkah-langkah berani seperti ini bisa menjadi bumerang.
Ke depan, publik akan menanti apakah Cancelo mampu kembali menemukan performa terbaiknya di bawah asuhan Hansi Flick. Dengan persaingan ketat di posisi bek sayap, ia harus bekerja keras untuk merebut tempat utama. Satu hal yang pasti: keputusannya untuk memangkas gaji adalah taruhan besar yang hanya akan terbayar jika ia sukses membawa Barcelona kembali ke puncak kejayaan. Apakah pengorbanan ini akan berbuah manis? Waktu yang akan menjawab.



