Margot Robbie 'Kembali' ke Neighbours Lewat AI, Masa Depan Arsip TV Dipertaruhkan
Baca dalam 60 detik
- RoseBerry Media dan Fremantle menggandeng AI untuk mengolah ulang adegan Margot Robbie di sinetron Neighbours menjadi episode pendek.
- Langkah ini menandai babak baru monetisasi arsip televisi, tetapi memicu perdebatan etika dan hak cipta.
- Bagi industri kreatif Indonesia, model ini bisa jadi peluang sekaligus ancaman bagi para pekerja seni.

Nama Margot Robbie akan kembali menghiasi layar sinetron Australia Neighbours, meski bukan melalui akting baru. RoseBerry Media mengumumkan rencana untuk meracik ulang sejumlah adegan Robbie semasa memerankan Donna Freedman (2008โ2011) menjadi episode mikro dengan bantuan kecerdasan buatan. Proyek ini menjadi yang pertama bagi perusahaan tersebut dalam menggarap sinetron panjang berjilid.
RoseBerry, yang bekerja sama dengan Fremantle selaku pemilik asli Neighbours, akan memproduksi sekitar 150 menit konten untuk platform Epis. Teknologi bernama RedSnapper akan memotong dan menyusun ulang klip-klip lama menjadi seri vertikal pendek. Dua alur cerita yang dibintangi Donna menjadi prioritas awal. Langkah ini diambil setelah Neighbours tamat pada Desember 2025 akibat dihentikan oleh Amazon Freevee, yang sebelumnya menyelamatkan acara tersebut dari pembatalan pada 2022.
Guy Hameiri, salah satu pendiri dan CEO RoseBerry Media, menyatakan bahwa Neighbours adalah properti intelektual ikonik yang cocok dengan format vertikal. Ia menekankan bahwa ini kali pertama RedSnapper diterapkan pada sinetron dengan pustaka karakter dan momen budaya yang kaya. Sementara itu, Jens Richter dari Fremantle menambahkan bahwa kolaborasi ini membuka cara baru mengeksplorasi arsip, menghadirkan kembali warisan budaya ke audiens modern, sekaligus menciptakan peluang komersial baru.
Penggunaan AI untuk mengolah ulang penampilan aktor tanpa keterlibatan langsung mereka memunculkan pertanyaan etis. Robbie, yang kini berusia 36 tahun dan dikenal lewat Suicide Squad serta Barbie, tidak disebutkan memberikan persetujuan eksplisit. Beberapa pengamat industri menilai praktik semacam ini berpotensi melanggar hak citra dan membuka celah eksploitasi komersial atas karya masa lalu. Di sisi lain, pendekatan ini dipandang sebagai solusi bagi pemilik arsip yang ingin menghidupkan kembali konten lama di tengah banjir platform digital.
โNeighbours adalah bagian ikonik dari sejarah televisi dan tepat menjadi jenis hiburan premium yang dapat berkembang dalam format vertikal,โ ujar Hameiri dalam pernyataannya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin penting. Industri kreatif tanah air memiliki ribuan jam arsip sinetron dan film klasik yang tersimpan di studio maupun arsip negara. Jika teknologi serupa diadopsi, peluang monetisasi ulang terbuka lebar, tetapi perlu payung hukum yang jelas. Undang-Undang Hak Cipta dan perlindungan data pribadi belum secara spesifik mengatur manipulasi digital atas karya dan wajah seseorang. Tanpa regulasi yang memadai, para aktor senior bisa kehilangan kendali atas karya mereka, sementara rumah produksi meraup keuntungan tanpa bagi hasil yang adil.
Di sisi lain, langkah RoseBerry menunjukkan bahwa arsip bukan lagi sekadar gudang pasif. Fremantle dan UKTV bahkan telah meneken kesepakatan untuk menayangkan 420 episode pertama Neighbours di Inggris. Model bisnis ini bisa menginspirasi stasiun televisi Indonesia untuk menggali kembali sinetron legendaris seperti Si Doel Anak Sekolahan atau Bajaj Bajuri, dengan catatan tetap menghormati hak para pencipta dan pemainnya. Pertanyaannya, apakah pelaku industri dalam negeri siap bersaing dalam pemanfaatan AI, atau justru akan menjadi penonton saat aset budayanya diolah pihak asing?



