Gempa Flores 7,7 SR: 38 Tewas, Ribuan Mengungsi, dan Ancaman Tsunami yang Sempat Membayangi
Baca dalam 60 detik
- Guncangan dahsyat berkekuatan 7,7 SR di lepas pantai Flores menewaskan puluhan orang dan memicu evakuasi massal.
- Tim penyelamat masih memburu korban tertimbun di tengah keterbatasan akses akibat longsor dan gempa susulan.
- Peristiwa ini menjadi pengingat rentannya Indonesia di Cincin Api Pasifik, sekaligus menguji kesiapsiagaan darurat nasional.

Guncangan tektonik berkekuatan 7,7 skala Richter yang berpusat di lepas pantai utara Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8) pagi, telah merenggut nyawa sedikitnya 38 orang dan memaksa ribuan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan 13 warga lainnya luka-luka, dua di antaranya dalam kondisi kritis.
Kepala BNPB Suharyanto mengungkapkan bahwa sejumlah korban masih terperangkap di dalam bangunan yang runtuh. Tim gabungan penyelamat diterjunkan dengan mengerahkan dua helikopter dan satu pesawat untuk mempercepat pencarian. "Korban yang terjebak menjadi prioritas utama tim reaksi cepat," ujarnya dalam konferensi pers, seraya menambahkan bahwa upaya evakuasi terkendala longsor yang memutus sejumlah ruas jalan menuju lokasi terdampak.
Guncangan yang terjadi sekitar pukul 05.30 WITA itu tidak hanya merusak puluhan rumah dan bangunan publik, tetapi juga memicu kepanikan luar biasa. Yulian Juita Ekalia, seorang dosen di Ruteng yang berjarak lebih dari 100 kilometer dari episentrum, menggambarkan pengalamannya sebagai "seperti berada di atas trampolin". Ia mengaku tersentak dari tidur dan melihat seluruh isi rumah berjatuhan, termasuk televisi dan piala anaknya. "Saya bersyukur gempa terjadi Sabtu pagi saat kampus kosong. Saya tak bisa membayangkan jika ini terjadi saat aktivitas belajar mengajar," tuturnya.
Di Nagekeo, wilayah yang lebih dekat dengan pusat gempa, warga sempat berlarian menuju dataran tinggi ketika air laut surut secara tiba-tibaโfenomena yang kerap menjadi pertanda datangnya tsunami. Meski peringatan tsunami telah dicabut, otoritas setempat mengimbau warga untuk tidak kembali ke bangunan yang rusak karena ancaman gempa susulan masih tinggi. Hingga siang hari, tercatat puluhan kali gempa susulan dengan kekuatan terbesar mencapai 6,1 SR, membuat ratusan orang bertahan di luar rumah.
Di tengah upaya penyelamatan, Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan kesiapan bloknya untuk mengerahkan satelit pengamat Bumi Copernicus guna membantu pemetaan kerusakan dan mendukung operasi kemanusiaan. "Eropa berdiri bersama Indonesia," tulisnya di platform X. Tawaran ini menjadi contoh nyata solidaritas internasional dalam situasi darurat.
Secara terpisah, gempa berkekuatan 6,4 SR juga mengguncang Sumatra Utara pada hari yang sama, berpusat di Pematangsiantar pada kedalaman 158 kilometer. Namun, gempa yang tidak berpotensi tsunami ini tidak menimbulkan kerusakan berarti. Dua kejadian ini kembali mengingatkan bahwa Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik, jalur seismik paling aktif di dunia, sehingga risiko gempa bumi dan tsunami selalu mengintai.
Flores sendiri bukan wilayah asing bagi bencana. Pada 1992, gempa berkekuatan sama memicu tsunami yang menewaskan sekitar 2.500 jiwa. Sementara itu, gempa dahsyat 9,1 SR di Aceh pada 2004 menelan lebih dari 170.000 korban jiwa di Indonesia. Sejarah kelam ini menegaskan pentingnya sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat yang berkelanjutan.
Hingga berita ini diturunkan, tim SAR gabungan masih berjuang menjangkau daerah terpencil yang terisolasi. Pertanyaannya kini, mampukah Indonesia mempercepat pemulihan dan memperkuat infrastruktur tahan gempa, terutama di kawasan timur yang kerap terpinggirkan? Jawabannya akan menentukan seberapa cepat Flores bangkit dari duka dan kembali menjadi destinasi wisata yang aman bagi penduduk maupun pelancong.



