Herdman Diminta Ubah Taktik Hadapi Bangladesh, Pengamat: Butuh Pemain Cepat dan Mobile
Baca dalam 60 detik
- Pengamat menilai John Herdman harus mengubah pendekatan saat Timnas Indonesia menghadapi Bangladesh di laga terakhir Grup A FIFA ASEAN Cup 2026.
- Komposisi pemain yang nyaris sama di dua laga sebelumnya dinilai kurang efektif, terutama saat menghadapi lawan dengan karakter berbeda.
- Opsi pemain cepat seperti Egy Maulana Vikri, Rizky Eka Pratama, dan Rayhan Hannan diusulkan untuk menembus pertahanan Bangladesh.

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, menghadapi tekanan untuk mengubah pendekatan taktik saat skuadnya menjamu Bangladesh pada laga pamungkas Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Kamis (1/10/2026) malam WIB. Duel ini menjadi penentu kelolosan, dan pengamat menilai Herdman tidak bisa lagi mengandalkan formula yang sama seperti dua pertandingan sebelumnya.
Dalam dua laga awal melawan Singapura dan Malaysia, Herdman tercatat nyaris tidak mengubah komposisi starting eleven maupun pola pergantian pemain. Hanya satu rotasi terjadi, yakni masuknya Thom Haye menggantikan Mitchell Baker di laga pertama. Pola substitusi pun cenderung monoton, dengan nama-nama seperti Nathan Tjoe-A-On, Ivar Jenner, dan Rizky Ridho yang selalu menjadi pilihan utama.
Pengamat sepak bola nasional, Octavery Krisnandana, menilai pendekatan statis itu tidak akan cukup ketika berhadapan dengan Bangladesh yang punya karakter permainan berbeda dari tim-tim Asia Tenggara. Menurutnya, tim kepelatihan semestinya sudah menemukan pola antisipasi yang lebih variatif dari hasil analisis dua laga sebelumnya.
"Harus ada pendekatan berbeda. Buktinya, pendekatan yang sama dengan pemain pengganti yang itu-itu saja tidak banyak mengubah permainan," ujar Octavery saat dihubungi Bola.com, Rabu (30/9/2026).
Ia menambahkan bahwa laga melawan Malaysia memang diwarnai kartu merah Thom Haye, sehingga menyulitkan evaluasi murni soal taktik. Namun, kondisi itu justru memperkuat argumen bahwa Herdman perlu menyiapkan rencana alternatif, terutama dalam hal tipe pemain yang diturunkan.
Perbedaan karakter Bangladesh menjadi sorotan utama. Octavery menyebut tim asal Asia Selatan itu memiliki gaya bermain yang tidak identik dengan Singapura atau Malaysia. Ia memperkirakan akan ada setidaknya dua hingga tiga perubahan personel di starting line-up, meski enggan menyebut nama secara spesifik.
"Kalau melawan Bangladesh, karakternya berbeda, terutama dari karakter pemainnya. Prediksi saya pasti ada dua tiga pemain yang berbeda," ujarnya.
Menurut analis yang kini bertugas di Kendal Tornado FC itu, kebutuhan utama Timnas Indonesia adalah pemain dengan kecepatan dan mobilitas tinggi untuk mengeksploitasi ruang di antarlini pertahanan Bangladesh. Ia menilai Mitchell Baker, yang lebih bertipe penguasa ruang, mungkin kurang cocok untuk menghadapi tim Asia Selatan yang cenderung rapat dan disiplin.
"Biasanya kalau melawan tim dari Asia Selatan, lebih enak kalau punya pemain yang sedikit lebih cepat dan mobile dibanding Mitchell Baker," jelasnya.
Opsi yang ia soroti antara lain Egy Maulana Vikri, Rizky Eka Pratama, dan Rayhan Hannan. Ketiganya dinilai punya akselerasi dan kemampuan bergerak di ruang sempit, yang bisa membuka celah bagi lini serang Indonesia.
Dari kacamata taktik, laga ini menjadi ujian bagi fleksibilitas Herdman. Pelatih asal Inggris itu dikenal memiliki preferensi kuat pada struktur tertentu, tetapi kebutuhan untuk menang di laga penentu sering kali menuntut adaptasi cepat. Kegagalan mengubah pendekatan bisa berujung pada hasil yang tidak sesuai harapan, terutama jika Bangladesh tampil disiplin dan mengandalkan serangan balik.
Bagi publik sepak bola Indonesia, pertandingan ini bukan sekadar soal tiga poin. Ada ekspektasi besar agar Timnas menunjukkan identitas permainan yang lebih variatif, bukan hanya mengandalkan kekuatan fisik dan penguasaan bola. Kreativitas di lini tengah dan kecepatan di sayap menjadi kunci untuk membongkar pertahanan rapat.
Jika Herdman memilih untuk menyegarkan komposisi, laga melawan Bangladesh bisa menjadi momen pembuktian bagi pemain-pemain muda yang selama ini lebih sering menghuni bangku cadangan. Sebaliknya, jika ia tetap bertahan dengan formula lama, risiko kebuntuan serangan akan membayangi sepanjang pertandingan.
Pertanyaannya kini: apakah Herdman berani keluar dari zona nyaman taktiknya demi tiket ke babak berikutnya?



