Gempa Kolombia: Harapan di Tengah Reruntuhan, Tantangan Rekonstruksi Nasional
Baca dalam 60 detik
- Tim penyelamat mendeteksi tanda-tanda kehidupan di dua kota terdampak gempa 7,4 SR, memicu optimisme di tengah melesetnya waktu emas penyelamatan.
- Dengan korban jiwa mencapai 287 orang dan lebih dari 100.000 warga terdampak, pemerintah Kolombia kini berfokus pada rehabilitasi infrastruktur dan dukungan bagi pengungsi.
- Bantuan internasional mengalir, termasuk tambahan US$11 juta dari AS, namun kesenjangan akses dan kebutuhan dasar masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Di tengah reruntuhan bangunan yang masih menyisakan debu dan duka, tim penyelamat di Kolombia melaporkan adanya kontak dengan seorang perempuan yang meminta pertolongan dari balik puing-puing hotel di Pereira, Jumat (15/8). Temuan ini, bersama dengan sinyal kehidupan di Cali, membuka secercah harapan di sela-sela operasi pencarian yang memasuki hari keempat pasca gempa bumi berkekuatan 7,4 skala Richter yang mengguncang negara itu pada Senin lalu.
Wali Kota Pereira, Mauricio Salazar, mengungkapkan bahwa komunikasi dengan korban selamat itu terjalin sekitar pukul 04.00 waktu setempat. Ia menduga masih ada warga lain yang terjebak namun belum dapat dijangkau. Sementara itu, otoritas di Cali menyatakan setidaknya tiga orang masih berada di bawah bangunan runtuh, dan pencarian diperpanjang hingga Sabtu. Namun, para ahli mengingatkan bahwa peluang bertahan hidup semakin menipis setelah 96 jam berlalu.
Gempa yang berpusat di wilayah Choco ini tercatat sebagai yang terkuat di Kolombia pada abad ini. Dampaknya tidak hanya merenggut 287 jiwa, tetapi juga melumpuhkan kehidupan lebih dari 102.000 orang. Pemerintah mencatat hampir 4.000 warga luka-luka, sementara ratusan lainnya masih hilang. Di lapangan, banyak korban yang kehilangan tempat tinggal dan mengandalkan bantuan tetangga, seperti yang dialami Olga Castro, ibu lima anak di Cali, yang kini tinggal di rumah tetangganya setelah rumahnya hancur.
Presiden Kolombia, Abelardo de la Espriella, yang baru dilantik beberapa hari sebelum bencana, mengakui situasi ini sangat kompleks. Pemerintah berencana menggandeng swasta untuk rekonstruksi dan memberikan subsidi bagi keluarga yang kehilangan rumah. Namun, bantuan pemerintah belum menjangkau semua area, dan warga di daerah terpencil seperti Buenaventura dan Choco—yang selama ini minim dukungan institusional—kini berada dalam kerentanan ekstrem. Maria Mercedes Lievano dari Save the Children menyebut ini sebagai "krisis di atas krisis".
Rekonstruksi pascagempa bukan sekadar membangun kembali fisik, tetapi juga memulihkan tatanan sosial. Yezid Alvarado Vargas, profesor teknik konstruksi dari Universitas Javeriana, menekankan perlunya asesmen teknis yang serius untuk menentukan bangunan mana yang bisa diperbaiki atau harus dirobohkan. Namun, ia mengingatkan bahwa sebelum membahas rekonstruksi, pemerintah harus menjamin kebutuhan dasar seperti hunian sementara, pangan, layanan kesehatan, dan dukungan ekonomi bagi keluarga yang kehilangan mata pencaharian.
Di ibu kota Bogota, sekitar 500 relawan dari berbagai usia bahu-membahu memilah bantuan, mulai dari makanan hingga perlengkapan hewan peliharaan. Jorge Munoz, 85 tahun, salah satu relawan tertua, menegaskan solidaritas warga: "Hari ini untukmu, besok mungkin untukku." Semangat serupa terlihat di kota-kota lain, di mana sekolah dan taman diubah menjadi tempat penampungan, meski keterbatasan air bersih masih menjadi masalah akut. Di Roldanillo, misalnya, sekitar 60% warga kehilangan akses air bersih.
Bantuan internasional mulai mengalir, termasuk dari Peru, China, dan Uni Emirat Arab. Amerika Serikat, melalui pernyataan Departemen Luar Negeri, mengumumkan tambahan dana US$11 juta untuk bantuan kemanusiaan, sehingga total menjadi US$26,5 juta. Namun, distribusi bantuan masih terkendala di daerah terisolasi, dan banyak pengungsi yang belum menerima bantuan pemerintah. Presiden de la Espriella berjanji untuk membangun kembali wilayah yang "terlupakan" ini, namun ia juga mengakui bahwa tugas ini tidak bisa dilakukan sendirian.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dan tata kelola pascagempa yang efektif. Dengan letak geografis yang sama-sama rawan gempa, pelajaran dari Kolombia—mulai dari koordinasi bantuan hingga keterlibatan swasta—bisa menjadi bahan evaluasi. Pertanyaannya, apakah pemerintah Indonesia sudah memiliki mekanisme yang cukup tangguh untuk menghadapi skenario serupa? Atau akankah kita kembali belajar dari tragedi?



