Gempa M7,7 di Flores Tewaskan 47 Orang: Warga Mengungsi ke Perbukitan
Baca dalam 60 detik
- Gempa dangkal berkekuatan 7,7 SR mengguncang Pulau Flores, NTT, menewaskan sedikitnya 47 orang dan merusak ratusan bangunan.
- BNPB mencatat korban terbanyak di Kabupaten Manggarai, sementara peringatan tsunami sempat dikeluarkan namun dicabut tiga jam kemudian.
- Tim SAR masih berupaya menjangkau wilayah terpencil dan pegunungan untuk memastikan tidak ada korban tambahan.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu dini hari telah merenggut nyawa sedikitnya 47 orang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan angka korban masih berpotensi bertambah seiring proses evakuasi yang terus berlangsung di sejumlah wilayah terdampak.
Guncangan keras terjadi sekitar pukul 05.00 WITA dengan episentrum di kedalaman 15 kilometer. Kedalaman yang relatif dangkal membuat getarannya terasa sangat kuat dan memicu kerusakan signifikan di permukaan. Ratusan rumah, fasilitas pendidikan, tempat ibadah, hingga puskesmas dilaporkan rusak parah. Ratusan warga yang panik langsung mengungsi ke perbukitan, terutama di Kabupaten Sikka dan Manggarai yang menjadi wilayah terdampak terparah.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, mengungkapkan banyak korban meninggal tertimpa reruntuhan saat masih tertidur. Di Pelabuhan Maumere, sebuah video memperlihatkan beton terminal yang runtuh menimpa calon penumpang kapal feri, bahkan sebagian orang terlempar ke laut saat jembatan penghubung kapal ambruk. Kejadian ini menambah daftar panjang kepanikan yang terjadi dalam hitungan menit setelah gempa pertama.
Peringatan tsunami sempat dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) setelah gempa utama, namun dicabut sekitar tiga jam kemudian karena tidak terdeteksi kenaikan muka air laut yang signifikan. Meski demikian, sekitar 2.000 warga telah mengungsi secara mandiri ke tempat yang lebih tinggi. Arnold Welianto, warga Talibura di Kabupaten Sikka, menuturkan bahwa air laut sempat surut cukup lama sehingga warga semakin panik dan berlarian menjauhi pantai.
Data BNPB mencatat sebaran korban jiwa sebagai berikut: 24 orang di Kabupaten Manggarai, 17 orang di Manggarai Timur, 3 orang di Sikka, serta masing-masing satu orang di Ngada, Ende, dan Manggarai Barat. Selain itu, dua orang mengalami luka berat dan sebelas lainnya luka ringan. Lebih dari 150 rumah rusak berat, puluhan sekolah, serta sejumlah fasilitas kesehatan dan perkantoran ikut terdampak. Gempa susulan berkekuatan 6,1 juga mengguncang kawasan timur, sementara gempa berkekuatan 6,4 dengan kedalaman 163 kilometer dirasakan di Sumatra Utara pada hari yang sama.
Yulian Juita Ekalia, dosen di Ruteng, mengaku belum pernah merasakan gempa sebesar ini. "Seperti berada di atas trampolin, sangat menakutkan," ujarnya kepada AFP. Ia bahkan memasak di luar rumah karena takut akan gempa susulan. Warga di Talibura memilih bertahan di ruang terbuka, sementara banyak lainnya mengungsi ke puskesmas dan lokasi aman lainnya.
Wilayah Flores yang berbukit dan terpencil menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyelamat. BNPB telah mengirimkan bantuan logistik, namun akses jalan yang rusak dan kondisi cuaca dapat memperlambat distribusi. Pemerintah daerah mengimbau warga untuk tetap tenang, menjauhi bangunan yang retak, dan tidak kembali ke pesisir sebelum status aman dipastikan.
Indonesia memang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama, sehingga gempa bumi dan letusan gunung berapi adalah keniscayaan. Namun, kejadian ini kembali mengingatkan bahwa kesiapsiagaan dan infrastruktur tahan gempa masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Akankah pemerintah mempercepat pembangunan rumah tahan gempa di daerah rawan bencana seperti NTT?



