Kolam Biru Bening di Jepang: Sumber Air Suci yang Menjadi Ikon Geopark UNESCO
Baca dalam 60 detik
- Kolam Beppu Benten di Yamaguchi, Jepang, menyajikan air jernih kebiruan yang dijaga legenda dan diakui sebagai salah satu dari 100 sumber air terbaik nasional.
- Dengan debit 186 liter per detik dan suhu konstan 15 derajat Celsius, kolam ini menjadi penopang kehidupan warga serta budidaya ikan trout sejak ratusan tahun.
- Destinasi ini kini masuk dalam kawasan Geopark Global UNESCO, memperkuat daya tarik wisata alam dan budaya di wilayah Mine.

Di tengah hiruk pikuk musim panas, sebuah kolam kecil di Prefektur Yamaguchi, Jepang, menyimpan keajaiban alam yang memukau: airnya yang biru kristal tampak seperti lukisan Monet, namun keunikannya jauh melampaui sekadar pemandangan. Beppu Benten Pond, yang terletak di kompleks Kuil Itsukushima di Kota Mine, bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga sumber kehidupan yang telah mengalir selama lebih dari seribu tahun.
Kolam berdiameter sekitar 20 meter dengan kedalaman 4 meter ini dialiri oleh mata air bawah tanah yang menyembur dari dasar berpasir putih dengan debit mencapai 186 liter per detik. Suhu airnya nyaris konstan di angka 15 derajat Celsius sepanjang tahun, menjadikannya oase penyejuk di tengah teriknya musim panas. Pada 1985, Badan Lingkungan Jepang menobatkannya sebagai salah satu dari 100 sumber air alami terbaik negeri itu, sebuah pengakuan yang menegaskan kualitas airnya yang luar biasa.
Bagi penduduk setempat, kolam ini bukan sekadar objek wisata. Shigeharu Tamura, kepala pendeta kuil berusia 77 tahun, telah meminum airnya selama bertahun-tahun. Ia bercerita dengan bangga, "Saat tubuh berkeringat dan meminum air ini, rasanya begitu segar hingga Anda akan mengeluh puas. Minum satu cangkir saja, umur Anda bertambah setahun." Lebih dari itu, air dari kolam ini juga menjadi sumber irigasi dan kebutuhan rumah tangga bagi komunitas di sekitarnya, sebuah warisan yang dijaga turun-temurun.
Legenda setempat mengisahkan asal-usul kolam ini. Konon, seorang tetua desa yang kaya raya kesulitan mendapatkan air untuk mengairi sawah. Dalam mimpinya, seorang lelaki tua berjanggut putih menancapkan sebatang bambu dan berpesan untuk mencabutnya kelak. Ketika bambu itu dicabut, air jernih langsung memancar dari tanah. Sejak saat itu, kuil dibangun di dekat mata air tersebut, dan hingga kini Itsukushima Shrine dipercaya sebagai tempat suci bagi dewa pelindung air.
Keindahan kolam ini tidak berhenti pada airnya yang biru. Di sebelah timur, terdapat peternakan ikan trout milik pemerintah kota yang memelihara sekitar 60.000 ekor ikan rainbow trout. Pengunjung bisa memancing dan menikmati hasil tangkapan mereka di restoran terdekat, diolah dengan berbagai cara: digarami, digoreng, atau disajikan sebagai araiโsashimi yang dibilas air es untuk tekstur kenyal. Tomonori Sugiyama, pekerja di peternakan itu, mengungkapkan, "Air dingin dari Benten Pond sangat ideal untuk membesarkan trout."
Bagi wisatawan Indonesia yang gemar menjelajah destinasi alam, kawasan Mine menawarkan lebih dari sekadar kolam biru. Wilayah ini juga menjadi rumah bagi Dataran Tinggi Karst Akiyoshidai, salah satu yang terbesar di Jepang, serta Gua Akiyoshido yang memesona. Pada April lalu, Mine-Akiyoshidai Karst Plateau Geopark resmi ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark, sebuah status yang semakin mengukuhkan kawasan ini sebagai tujuan wisata kelas dunia.
Fenomena alam seperti Beppu Benten Pond mengingatkan kita bahwa air bukan sekadar sumber daya, melainkan juga warisan budaya dan spiritual. Di tengah isu kelangkaan air yang melanda berbagai belahan dunia, keberadaan kolam ini menjadi simbol ketahanan dan harmoni antara manusia dan alam. Namun, pertanyaan yang menggantung: mampukah kita menjaga sumber-sumber air serupa di Indonesia dengan cara yang sama bijaknya?



