Album *NSYNC yang Hilang: 12 Lagu Tak Dirilis dan Misteri Hak Cipta di Balik No Strings Attached
Baca dalam 60 detik
- Joey Fatone dan Lance Bass mengungkap keberadaan album *NSYNC yang tak pernah dirilis, berisi 12-13 lagu rekaman era 1990-an.
- Mantan manajer Lou Pearlman menguasai hak atas materi tersebut, memaksa grup memulai dari nol untuk album No Strings Attached.
- Lagu 'Tanya' disebut berpotensi menjadi hit, namun nasibnya kini tak jelas; peluang reuni *NSYNC masih menggantung.

Dua personel *NSYNC, Joey Fatone dan Lance Bass, membongkar fakta mengejutkan: ada satu album penuh berisi lagu-lagu rekaman era 1990-an yang tak pernah dirilis dan kini dianggap 'hilang'. Album tersebut menjadi korban sengketa hak cipta dengan mendiang manajer Lou Pearlman, yang memaksa grup memulai ulang karier mereka dengan album legendaris No Strings Attached pada 2000.
Dalam wawancara dengan People, Fatone mengungkapkan bahwa setelah berpisah dari Pearlman dan label Trans Continental, seluruh rekaman yang sudah dibuat jatuh ke tangan sang manajer. "Dia memiliki hak atas seluruh album yang kami rekam, dan itulah mengapa kami tidak mendapatkan satu pun lagu itu," ujarnya. Konsekuensinya, *NSYNC harus menggarap materi baru dari nol, yang akhirnya melahirkan No Strings Attached—album yang justru menjadi salah satu penjualan terlaris mereka.
Menurut Fatone, sekitar 12 hingga 13 lagu dari sesi rekaman tersebut masih 'beredar' di kalangan tertentu. "Salinannya ada di mana-mana, dan para penulis lagu mungkin telah merilisnya atau menyimpannya di suatu tempat," katanya. Sementara itu, Lance Bass menduga sebagian besar materi itu "mungkin hilang begitu saja di dalam brankas". Salah satu lagu yang ia sorot berjudul Tanya, yang menurutnya "akan menjadi banger". Namun, Fatone menilai lagu itu kurang bagus karena "memiliki nama berbeda di setiap chorus" dan akhirnya "tidak menghasilkan apa-apa".
Kisah ini membuka kembali luka lama industri musik Amerika pada akhir 1990-an, ketika banyak artis muda dieksploitasi oleh manajer dan label. Pearlman, yang kemudian divonis penjara karena penipuan skema Ponzi, dikenal sebagai sosok kontroversial yang menguasai aset artis-artisnya. Bagi penggemar *NSYNC di Indonesia, kabar ini menjadi pengingat betapa rapuhnya hak kreatif di balik gemerlap industri hiburan, sekaligus memicu nostalgia akan era kejayaan boyband yang juga merebak di tanah air pada periode yang sama.
Selain membahas album yang hilang, kedua personel itu juga angkat bicara soal peluang reuni. Bass menyatakan "selalu ada kemungkinan", tetapi "tidak ada yang direncanakan saat ini". Fatone, yang sebelumnya tampil di serial dokumenter Boy Band Confidential, mengaku selalu siap untuk kembali bersatu. "Orang-orang selalu bertanya, 'Apakah grup ini akan berkumpul lagi?'," katanya. "Apakah saya melihat hal itu dalam waktu dekat? Tidak. Apakah saya menginginkannya? Ya. Beberapa anggota lain mungkin setuju, sebagian lagi mungkin tidak."
Fatone menjelaskan bahwa sejumlah personel enggan karena memiliki anak kecil di rumah, sementara Justin Timberlake baru saja menyelesaikan tur dan masih berjuang melawan penyakit Lyme. "Sejujurnya, saya selalu berkata, 'Hei, kenapa tidak?' karena saya merasa siap. Tapi saya rasa belum semua orang siap," pungkasnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa meski para penggemar—termasuk di Indonesia—masih menaruh harapan pada aksi panggung *NSYNC, realitas di balik layar menunjukkan dinamika personal yang rumit.
Ke depannya, pertanyaan besar tetap menggantung: akankah materi 'hilang' itu suatu saat menemukan jalan untuk dirilis, atau justru terkubur selamanya? Di tengah tren nostalgia 1990-an yang kembali populer, bukan tidak mungkin label atau platform streaming akan mencoba melacak rekaman tersebut. Namun, tanpa kesepakatan dari semua pihak yang terlibat, lagu-lagu itu mungkin akan tetap menjadi misteri—sebuah potongan sejarah musik pop yang tak pernah sempat dinikmati publik.



