Prince Harry Ungkap Archie dan Lilibet Betah di Sekolah Baru Usai Pindah dari California
Baca dalam 60 detik
- Pangeran Harry memastikan kedua anaknya, Archie dan Lilibet, telah beradaptasi dengan sekolah baru di Inggris setelah keluarga Sussex pindah dari California.
- Kepindahan ini sempat diwarnai kendala keamanan dan jarak tempuh, memaksa orang tua mencari sekolah alternatif demi kenyamanan anak-anak.
- Harry juga menunaikan janji terjun payung bersama veteran Perang Dunia II berusia 102 tahun, sembari menyiapkan Invictus Games di Birmingham.

Pangeran Harry akhirnya buka suara soal kehidupan baru kedua anaknya di Inggris. Dalam wawancara dengan jaringan Kanada CTV, ia menegaskan bahwa Pangeran Archie dan Putri Lilibet sudah kerasan menjalani rutinitas sekolah yang baru, setelah keluarga Sussex meninggalkan California lebih dari enam tahun lalu. Pernyataan ini sekaligus menepis spekulasi tentang kesulitan adaptasi yang sempat mencuat ketika mereka pindah ke Inggris pada musim panas lalu.
Menurut Harry, kepindahan tersebut sempat berjalan berliku. Archie dan Lilibet sempat menempuh dua hari sekolah di institusi pertama, namun harus dipindahkan karena pertimbangan keamanan. Jarak tempuh yang jauh serta lalu lintas padat membuat perjalanan harian dinilai berisiko. Tim pengawal sebenarnya telah melakukan pengecekan selama liburan musim panas, tetapi baru bisa menilai rute perjalanan secara menyeluruh setelah tahun ajaran dimulai. Alhasil, orang tua memilih sekolah lain yang lebih terjangkau dari sisi keamanan dan logistik.
“Anak-anak senang di sekolah dan itu memberiku kesempatan untuk benar-benar fokus pada Invictus di Birmingham,” ujar Harry dalam wawancara tersebut, seperti dikutip dari sumber berita. Ia juga mengaku menikmati kembali menginjakkan kaki di tanah Inggris. “Senang bisa kembali ke tanah Inggris. Sangat menyenangkan bisa kembali ke daratan yang kokoh,” tambahnya.
Kepindahan anak-anak ke sekolah baru ini bukan sekadar urusan domestik keluarga kerajaan. Bagi publik Indonesia, kisah ini menyoroti bagaimana faktor keamanan dan kenyamanan anak kerap menjadi pertimbangan utama dalam memilih institusi pendidikan, bahkan di kalangan figur publik. Di Indonesia sendiri, isu serupa kerap dialami keluarga yang tinggal di kawasan padat seperti Jakarta, di mana jarak dan kemacetan menjadi alasan orang tua memindahkan anak ke sekolah yang lebih dekat atau berbasis komunitas. Namun, yang membedakan adalah skala pengamanan yang harus dipenuhi, terutama bagi keluarga dengan profil risiko tinggi seperti Harry dan Meghan.
Di sisi lain, Harry juga menunaikan janji kepada Ed Marshall, veteran Perang Dunia II berusia 102 tahun. Setelah sebelumnya Marshall melakukan terjun payung untuk ulang tahunnya yang ke-100, kali ini ia tidak diizinkan ikut melompat karena alasan medis. Sebagai gantinya, cucu Marshall, Bailey, mendampingi Harry dalam aksi tersebut. “Tidak ada versi di mana Anda bisa mengecewakan veteran berusia 102 tahun,” kata Harry. “Dia sangat terpukul karena tidak bisa melompat, tapi senang dia ada di belakang. Mereka bahkan memasangkan parasut padanya. Kami pikir dia mungkin akan melompat sendiri—syukurlah tidak, dan dia masih di sini! Dia akan berusia 103 tahun dalam beberapa bulan.”
“Saya tidak perlu meyakinkan dia, tapi dia lega setelah kami mendarat. Butuh waktu lama untuk naik, jadi saya pikir dia seperti, ‘Apakah mereka sudah turun? Apakah mereka sudah turun?’” — Pangeran Harry, tentang istrinya, Meghan, yang khawatir saat ia terjun payung.
Setelah mendarat, Harry langsung menghubungi istrinya, Meghan, yang ternyata sempat cemas. Meski demikian, ia menegaskan bahwa istrinya tidak perlu dibujuk karena sudah terbiasa dengan kegiatan suaminya. Harry bahkan bercanda bahwa ia sempat mencari alasan untuk menghindar, tetapi Ed sangat persuasif. “Saya menyalahkan Ed. Saya bilang, ‘Saya tidak bisa, saya tidak mau, saya berharap bisa keluar dari ini,’ tapi Ed sangat persuasif!” ujarnya.
Kembalinya Harry ke Inggris juga menjadi momen konsolidasi bagi keluarga Sussex yang selama ini menetap di Amerika Serikat. Meski tidak lagi menjalankan tugas kerajaan secara penuh, Harry tetap aktif dalam sejumlah kegiatan sosial dan olahraga, termasuk Invictus Games yang akan digelar di Birmingham. Fokus pada Invictus menunjukkan bahwa ia berusaha menjaga relevansi di panggung publik tanpa harus terlibat dalam protokol kerajaan yang ketat.
Bagi Indonesia, dinamika keluarga Harry bisa menjadi cermin bagaimana publik memandang pendidikan anak di tengah tekanan sosial dan keamanan. Sekolah menjadi ruang aman yang harus bebas dari risiko, terutama bagi anak-anak yang tumbuh di bawah sorotan media. Ke depan, publik akan menantikan apakah Archie dan Lilibet akan betah dalam jangka panjang, atau justru kembali menghadapi tantangan baru seiring bertambahnya usia dan meningkatnya kebutuhan privasi. Yang jelas, keputusan orang tua untuk memprioritaskan keselamatan anak—meski harus berpindah sekolah—adalah pilihan yang semakin lazim di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.



