Wehrlein Rebut Gelar Kedua Formula E, Jaguar Kunci Gelar Tim
Baca dalam 60 detik
- Pascal Wehrlein memastikan gelar juara dunia Formula E keduanya meski gagal finis di zona poin pada seri pamungkas London.
- Insiden di lap 31 menyeret sejumlah pembalap utama, termasuk rival terdekat Jake Dennis, sehingga mengunci keunggulan poin Wehrlein.
- Musim ini sekaligus menutup era mobil GEN3; musim depan seri balap listrik akan memakai generasi baru GEN4.

Pascal Wehrlein, pembalap asal Jerman yang membela tim Porsche, memastikan gelar juara dunia Formula E untuk kedua kalinya pada akhir pekan lalu di London, meski hanya finis di urutan ke-14 dan gagal mengumpulkan poin pada balapan penutup musim. Kemenangan pada seri terakhir justru diraih pembalap tuan rumah, Taylor Barnard, namun hal itu tidak mengubah peta persaingan gelar yang sudah mengarah pada Wehrlein sejak balapan pertama di akhir pekan yang sama.
Dengan hasil ini, Wehrlein bergabung dalam jajaran elite pembalap yang berhasil menjuarai ajang balap mobil listrik tersebut lebih dari sekali. Sebelumnya, hanya Jean-Eric Vergne dari Prancis yang mampu meraih dua gelar juara dunia Formula E. Pencapaian Wehrlein ini sekaligus menegaskan dominasi Porsche di ajang yang semakin kompetitif ini.
Kunci keberhasilan Wehrlein sebenarnya sudah terbentuk pada balapan Sabtu, di mana ia berhasil meraih kemenangan ke-11 sepanjang kariernya di Formula E sekaligus kemenangan ketiga musim ini. Hasil tersebut mengangkatnya dari posisi ketiga klasemen menjadi pemuncak klasemen sementara, memberinya keunggulan tipis menjelang balapan terakhir.
Pada balapan Minggu, rival terdekatnya, Jake Dennis dari tim Andretti, harus start dari posisi ke-16. Kondisi ini memberi Wehrlein ruang untuk mengelola balapan dengan lebih tenang. Namun, ketenangan itu sempat terusik pada lap ke-31 ketika ia terlibat insiden yang membuatnya turun ke luar zona poin. Beruntung, Dennis juga mengalami nasib serupa dan hanya mampu finis di posisi ke-18, sementara Mitch Evans dari Jaguar Racing yang menjadi pesaing lain hanya bisa finis keempat. Dengan demikian, Wehrlein tetap aman di puncak klasemen.
Wehrlein mengakhiri musim dengan koleksi 169 poin, unggul lima angka atas Dennis yang mengumpulkan 164 poin. Evans menempati posisi ketiga dengan 160 poin. Di sisi lain, Jaguar Racing sukses mengunci gelar juara dunia tim, menambah daftar prestasi mereka di ajang balap listrik ini.
Bagi penggemar balap di Indonesia, kabar ini mungkin menjadi pengingat bahwa ajang Formula E semakin menarik untuk diikuti, terutama dengan hadirnya teknologi baru. Meski belum ada pembalap Indonesia yang tampil reguler di ajang ini, potensi pengembangan bakat lokal di bidang balap listrik bisa menjadi peluang ke depan, mengingat Indonesia sendiri pernah menjadi tuan rumah seri Formula E di Jakarta.
Wehrlein sendiri menyampaikan rasa terima kasihnya kepada tim dan menegaskan bahwa timnya tidak pernah gentar menghadapi tekanan. "Kami tidak retak di bawah tekanan. Kami justru menyukai tekanan dan semakin baik saat berada di situasi sulit," ujarnya. Ia juga mengungkapkan rencananya untuk beristirahat sejenak sebelum kembali fokus mengembangkan mobil generasi baru, GEN4, yang akan digunakan musim depan.
Dengan berakhirnya era GEN3, Formula E memasuki babak baru yang penuh tantangan. Pertanyaan besarnya, akankah Porsche mampu mempertahankan dominasinya di tengah perubahan regulasi dan teknologi? Atau akankah ada tim lain yang bangkit dan merebut tahta juara? Musim depan akan menjadi jawabannya.


